Orang-orang hebat selalu punya kemampuan berpikir jauh ke depan, berorientasi solusi, namun seringkali melawan mainstream. Meskipun mereka orang-orang hebat, tetap saja pemikiran besarnya ditentang, diuji, dan terus mengalami kristalisasi, bahkan polarisasi antara yang setuju dan tidak.

Pro kontra merespons pemikiran ini datang dan terus menginspirasi publik jika datang dari seorang tokoh yang punya otoritas keilmuan memadai, apalagi ditambah otoritas kultural yang kuat di tengah maayarakat.

KH. Abdul Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, adalah sosok cendekiawan, ulama, dan aktivis tulen. Beliau melakukan reformasi pendidikan Pondok Tebuireng menjadi klasikal, membangun perpustakaan pesantren yang dipenuhi literatur berbagai buku, kitab, majalah, dan koran dari dalam dan luar negeri, dan ketika menjadi Menteri Agama mewajibkan ada pelajaran agama di sekolah umum, dan pendidikan umum di sekolah agama, merintis berdirinya perguruan tinggi Islam, dan mendorong santri mempelajari berbagai ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

KH. Achmad Shiddiq yang menkonsep trilogi ukhuwwah (islamiyyah, wathaniyyah, basyariyyah), menerima Pancasila dan UUD 1945 yang berhasil diterima peserta Muktamar NU di Situbondo tahun 1984.

KH. MA. Sahal Mahfudh misalnya pada masanya mempunyai pemikiran yang melawan mainstream. Beliau mendukung program Keluarga Berencana (KB), demokrasi dan pluralisme, lembaga keuangan, emansipasi perempuan dan zakat produktif.

KH. Abdurrahman Wahid mempunyai banyak pikiran besar yang bahkan sampai diadili para kiai. Pribumisasi Islam, rukun tetangga, melindungi kaum minoritas, toleransi, humanisme, dan demokrasi.

KH. Tholhah Hasan berpikiran terbuka. Beliau sosok pemimpin dan manager pendidikan yang mampu membawa keunggulan kompetitif pada lembaga yang dipimpinnya. Mantan Rektor UNISMA Malang dan Menteri Agama ini berhasil menginisiasi berbagai lembaga pendidikan yang bermanfaat hingga sekarang. Pemikirannya tentang Aswaja sangat dinamis. Aswaja harus mampu beradaptasi dengan budaya sehingga dikenal istilah islamisasi budaya dengan pengertian Islam mampu memasukkan ruh-spiritnya dalam pergumulan yang ada di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Ayo Menggunakan Akal

KH. Masdar Farid Mas’udi punya orisinalitas pemikiran transformatif tentang zakat dan pajak. Sejak studi di Jombang, penulis mengikuti perdebatan pemikiran Kiai Masdar dihadapan para kiai. Pro kontra pemikiran ini bahkan sampai sekarang. Analisis sejarah yang komprehensif membuat Kiai Masdar mengambil kesimpulan bahwa esensi zakat era sekarang adalah pajak, sehingga konsep pajak harus dikelola secara akuntabel dan dialokasikan untuk musthiq, khususnya fakir-miskin.

KH. Said Aqil Siradj dikenal pemikir serius Aswaja sebagai manhajul fikri yang tawassuth, tawazun, i’tidal, tasamuh, dan amar ma’ruf nahyi mungkar. Menurut beliau Aswaja sebagaimana didefinisikan Hadlratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari adalah definisi operational, yakni golongan umat Islam yang dalam akidah mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari-Abu Manshur Al-Maturidi, dalam fiqh mengikuti salah satu madzhab empat, dan dalam tasawuf mengikuti Imam Abu Hasan Asy-Syadzili-Imam Ghazali.

Pemikiran-pemikiran besar yang pada masanya melawan mainstream, dalam peekembangannya menjadi solusi masalah keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Pemikiran mereka berpijak kepada teks-teks keislaman, baik nushus diniyyah atau qawaid kulliyyah yang berorientasi kepada tegaknya kemaslahatan umum.

Meneladani

Generasi sekarang mestinya harus berani menelurkan pemikiran-pemikiran besar yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan tidak takut terhadap kontroversi yang terjadi.

Problematika sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan membutuhkan asupan gizi berkualitas dari pemikiran-pemikiran besar transformatif yang berorientasi kepada problem solving persoalan-persoalan yang terjadi.

Memang tidak mudah karena tugas agung membutuhkan totalitas dalam berpikir transformatif yang di satu sisi bisa dipertanggungjawabkan secara akademik dan di sisi sisi lain ada relevansi dengan problematika sosial.

Tekad kuat, konsistensi tinggi, dan komitmen menjadi kunci kesuksesan menapaki jalan mulia yang telah dilalui ulama-ulama besar.

Ahad, 24 Januari 2021

Dr. H. Jamal Makmur AS., M.A.
Penulis, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pati, dan Peneliti di IPMAFA Pati

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini