Abdul Kholiq Pati: Kiai Kampung yang Bersahaja

KH Abdul Kholiq merupakan ulama yang  lahir di Pati Jawa Tengah. Sejarah panjang yang menceritakan tentang gigihnya ulama yang satu ini dalam mendampingi masyarakat perdesaan, untuk memperkenalkan agama Islam. Telah termaktub dalam buku yang ditulis oleh Agus Salim yang berjudul, Berkhidmat Mengarungi dan Menyemai Jejak-Jejak Zaman Biografi KH Abdul Kholiq (1914-1998).

Abdul Kholiq lahir pada tanggal 9 April 1914 dari pasangan H Abu Bakar dan Ngasimah. Tepatnya disalah satu desa Angkatan Kidul di daerah Pati bagian selatan. Nama kecil beliau adalah Suyahman. Beliau tumbuh berkembang di daerah perdesaan pada umumnya, sama dengan anak-anak lain di desa biasa orang jawa menyebutnya “cah ndeso” (Anak Desa).

Beliau lahir di keluarga yang agamis. Tingkat ketirakatan keagamaan yang ditunjukan keluarganya memang berbeda, mengingat ayah nya selain ditempatkan masyarakat desa sebagai sosok pemuka agama, juga seorang yang menyandang gelar ‘haji’. Dapat digambarkan pada masa kolonial jika seseorang yang tinggal di desa dan bergelar haji, otomatis ini menempatkan derajat/status sosial keagamaannya menjadi tinggi.

Perjalanan Intelektual KH. Abdul Kholiq

Abdul Kholiq menjalani masa pendidikannya pada tahun 1926 pada sekolah yang berada pada pemerintahan kolonial Belanda, atau suatu lembaga pendidikan dasar yang disebut Volksschool dalam bahasa Belanda. Dalam bahasa melayu/ bahasa Indonesaia nya adalah sekolah rakyat.

Selama tiga tahun sekolah disana, beliau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Vervolgschoolen. Karena sifatnya sebagai sambungan, maka kelas yang dijalani oleh murid seperti beliau pada tahun pertama otomatis yang sebelumnya yaitu kelas III Volksschool, untuk itu melanjutkan masuk ke kelas IV Vervolgschoolen.

Setelah menyelesaikan sekolah formal sampai ke jenjang Vervolgschoolen, beliau tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi setingkat sekolah menengah umum. Namun lebih memilih pesantren baik rencana pribadi beliau dan ayahnya H. Abu Bakar.

Baca Juga:  Apakah Bacaan Al-Qur’an Khas Kiai Kampung Bisa Membuat Shalat Tidak Diterima?

Pendidikan pesantren pertama yang ia kunjungi bersama orang tuanya pesantren yang berada di Wedarijaksa daerah Pati bagian utara. Yang mana pengasuh pesantren tersebut adalah Kiai Hasyim. Kala itu beliau dan orang tuanya menuju kesana dengan menggunakan kendaraan tradisional seperti kereta yang ditarik oleh kuda yaitu delman.

Di pesantren Kiai Hasyim diajarkan mengaji ilmu-ilmu agama yang diajarkan di pesantren pada umumnya seperti, Nahwu, Shorof, Fikih, Ushul Fiqh, Hadis, Tafsir dan lain sebagainya. Selain mengaji di Kiai Hasyim beliau juga izin dengan kiainya untuk mengaji individual mandiri kepada Kiai Nawawi di Kajen, yang mana daerah kajen cukup dekat dengan Wedarijaksa jikalau ditempuh dengan menggunakan delman waktu itu. Selama mondok di Kiai Hasyim ia mengganti namanya dari Suyahman menjadi Syahid. Belum diketahui secara valid nama Syahid merupakan pemberian dari Kiai Hasyim atau inisiatif beliau sendiri.

KH abdul Kholiq orang yang suka sekali mengembara ilmu dari kiai satu ke kiai lainnya dengan fokus ilmu yang berbeda. Beliau menjalani perjalanan intelektualnya dengan menyusuri pondok pesantren di beberapa wilayah Jawa. Seperti pesantren Bareng di Kudus yang diasuh oleh KH Iskandar Yasin. Setelah dari KH Iskandar Yasin beliau ke arah timur kepada KH Kholil di daerah Kasingan, Rembang.

Hingga akhirnya beliau mengaji hingga ke jawa timur yaitu di Pesantren Termas Pacitan dan mengaji kepada KH Dimyati. Belum puas dengan pengembaraannya, setelah dari Pacitan beliau kembali ke utara di daerah Kajen Pati kepada KH Salam dan KH Munji. Setelah itu memutuskan untuk berguru di Jombang Jawa Timur yaitu di Pesantren Tebuireng. Karena beliau berfikir bahwa Jombang kala itu merupakan jantungnya Pesantren, karena pendiri Nahdhlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari berada di Jombang.

Baca Juga:  Finding Gus Dur (1) : Sosok Ulama Karismatik

Mendirikan Thariqah dan Madrasah

Setelah mendalami ilmu agama, beliau kembali ke desanya di Angatan Kidul untuk mengabdi dan mengajarkan ilmunya kepada warga setempat. Dan akhirnya menikah dengan seorang perempuan penduduk Desa Mojolawaran Gabus Pati. Anak dari seorang Kiai alim penduduk setempat, yaitu H. Abu Hasan. Beliau dijodohkan dengan putrinya Hj. Siti Rohmah.

Abu Hasan memiliki Pesantren Al Hasan dan Madrasah Diniyyah Tarbiyatussibyan. KH Abdul Khokiq akhirnya di beri amanah untuk melanjutkan estafet pengelolaan dan pengasuhan pondok tersebut. Beliau juga memberangkatkan menantunya untuk pergi haji ke tanah suci Makkah Al-Mukarromah. Sepulangnya dari makkah, beliau mengganti namanya menjadi Abdul Kholiq, hingga sekarang terkenal lah dengan KH Abdul Kholiq Mojolawaran Gabus Pati.

Beliau juga mendalami ngaji thariqah setelah menikah dengan Hj. Siti Rohmah kesalah satu podok thariqah di Pondowan, Tayu, Pati yang diasuh oleh KH Muhammadun. Dan KH Muhammad Mansyur Popongan suatu daerah perbatasan Surakarta dan Klaten.

Hingga akhirnya pada tahun 1972 KH Abdul Kholiq merintis dan mengembangkan jamaah dan pesantren thariqah di Mojolawaran Gabus Pati. Thariqah yang dirintisnya tersebut diberi nama Thariqah Naqsabandiyah Mujadaddiyah Kholidiyyah.

Kiprah beliau pada dunia pendidikan pun sangat luar biasa, yang mana beliau pengasuh serta sekaligus mengelola dua lembaga pendidikan sekaligus yaitu pondok Al Hassan dan Madrasah Tarbiyatussbyan.

Suatu ketika ada sebuah keresahan muncul dalam benak KH Abdul Kholiq. Yang mana dirasa dikotomi antara pengajaran ilmu umum dan ilmu agama menjadi permasalahan baru. Dimana ketika halnya sistem pendidikan sejak masa Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan, seakan adanya sebuah sekat diantara ilmu umum yang menjadi klaim di sekolah umum serta ilmu agama yang hanya diajarkan di madrasah dan pesantren.

Baca Juga:  KH. Agoes Ali Masyhuri, Santri Kalong yang Menjadi Sosok Kiai Karismatik

Hingga akhirnya beliau diskusikan dengan Musyawarah Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Gabus. Yang mana berencana untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan berbasis akhlakul karimah yang didasari pada penerapan nilai, pandangan dan sikap islami berdasarkan konsep Ahlusunnah wal Jamaah. Serta menerapkan kedua ilmu tadi, ilmu umum dan ilmu agama. Melalui musyawarah panjang para jajaran MWC NU Gabus. Maka berdirilah Madrasah Tsanawiyah (MTs) dibawah naungan Nahdlatul Ulama yaitu MTs Abadiyah. Hingga sekarang MTs tersebut berkembang pesat dengan dirintisnya Madrasah Aliyah (MA) juga  dan memiliki murid ribuan hingga sekarang.

Berpulangnya KH Abdul Kholiq

Abdul Kholiq menapaki usia tua, sekitar tahun 1992. Ada firasat yang disampaikan beliau sebelum wafat. Beliau pernah berkata “aku wis entuk keterangan. Aku cerakno karo Kiai Gusti.” (Aku sudah mendapat kejelasan. Aku dekatkan dengan Kiai Gusti (Allah SWT). Hal ini ditafsirkan santri dan keluarga beliau mengandung arti tiga hal: 1. Jika wafat agar di dekatkan dengan makam orang saleh, 2. Dekatkan dengan pondok thariqah, dan 3. Dekatkan dengan Madrasah Abadiyah.

Hingga kemudian beliau wafat pada tanggal 7 April 1998 yang bertepatan dengan tanggal 11 Dzulhijjah 1419. KH Abdul Kholiq berpulang ke rahmatullah dalam usia 84 tahun. Sesuai keinginan beliau, jenazahnya di makamkan di komplek pemakaman Kalangan Tempel, Kuryokalangan. Dekat dengan Madrasah Abadiyah dan Pondok Thariqah.

Penulis mengajak kepada pembaca sekalian untuk mendoakan beliau semoga apa yang dilakukan beliau semasa hidupnya menjadi amal yang saleh dan dapat diambil pelajaran bagi kita semua. Khusushon KH Abdul Kholiq, Al Fatihah. [HW]

Muhammad Waliyuddin
Mahasiswa Hukum Pidana Islam di UIN Walisongo Semarang dan Pegiat di Komunitas Ancang Baca Semarang

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Ulama