YOGYAKARTA (16/7) — Guna mewujudkan lingkungan pesantren yang ramah anak dan bebas dari segala bentuk kekerasan, Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI PBNU) membuat agenda penting yang digelar di Cavinton Hotel Yogyakarta. Kegiatan bertajuk "Penguatan Musyrif dan Musyrifah untuk Pencegahan Kekerasan di Pesantren" ini menghadirkan para pengasuh dan pendamping santri dari berbagai daerah. Langkah ini diambil sebagai respons konkret atas maraknya tantangan pengasuhan di era modern, sekaligus memperkokoh peran musyrif (pembina santri putra) dan musyrifah (pembina santri putri) sebagai garda terdepan perlindungan santri.
Potret Buram Kekerasan: Peringatan Keras dari Alissa Wahid
Dalam salah satu sesi utama, Ning Alissa Wahid memaparkan materi krusial mengenai overview dan potret kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren. Tokoh yang aktif dalam isu kemanusiaan dan psikologi keluarga ini menyajikan data serta fakta lapangan yang cukup mencengangkan terkait dinamika kekerasan di lembaga pendidikan keagamaan.
Ning Alissa menekankan beberapa poin penting dalam presentasinya, yaitu; Pertama, fenomena gunung es. Kasus kekerasan yang muncul ke permukaan sering kali hanya sebagian kecil dari realitas yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Kedua, relasi kuasa yang timpang. Banyak kekerasan terjadi akibat penyalahgunaan otoritas senioritas atau pola hubungan yang tidak seimbang antara pengasuh dan santri. Ketiga, dampak psikologis. Kekerasan fisik maupun verbal tidak pernah berhasil mendidik. Sebaliknya, hal tersebut menyisakan trauma mendalam yang menghambat potensi tumbuh kembang santri.
"Pesantren didirikan atas dasar kasih sayang (rahmah). Ketika kekerasan masuk, esensi dari nilai pesantren itu sendiri sedang dipertaruhkan. Kita harus memutus mata rantai ini sekarang juga," tegas Ning Alissa di hadapan para peserta.
Mengurai Benang Kusut Pola Asuh bersama KH. Marzuki Wahid
Sementara itu, akademisi dan trainer, KH. Marzuki Wahid, mengajak para peserta untuk merefleksikan kembali metode pengasuhan yang selama ini diterapkan melalui materi bertajuk "Udar Asumsi Perspektif Pengasuhan". Dalam sesi interaktif ini, Marzuki menantang para musyrif dan musyrifah untuk membongkar (mengudar) asumsi-asumsi klasik yang keliru namun masih sering dinormalisasi dalam dunia kepengasuhan pesantren. Beberapa asumsi keliru tersebut antara lain: asumsi bahwa kekerasan fisik adalah bagian dari metode kedisiplinan (ta'zir), asumsi bahwa santri harus patuh mutlak tanpa ruang untuk berdialog atau berekspresi, asumsi bahwa pengasuh selalu benar dan anak selalu di posisi yang salah.
Menurut Marzuki, pengasuhan yang sehat harus bersandar pada prinsip kesetaraan martabat manusia. Musyrif dan musyrifah harus menempatkan diri sebagai fasilitator yang baik. Dengan mengudar asumsi-asumsi, diharapkan lahir pola asuh baru yang lebih humanis.
Musyrif dan Musyrifah: Penjaga Benteng Ramah Anak
Melalui pelatihan intensif di Cavinton Hotel Yogyakarta ini, para musyrif dan musyrifah dibekali keterampilan praktis untuk mendeteksi dini potensi kekerasan, mengelola konflik antarsantri tanpa kekerasan, serta membangun komunikasi yang empatik.
Dengan adanya sinergi antara pemahaman realitas kekerasan dari Ning Alissa Wahid dan dekonstruksi pola asuh dari KH. Marzuki Wahid, kegiatan ini diharapkan menjadi katalisator lahirnya pesantren-pesantren yang tidak hanya mencetak santri berprestasi secara akademis dan spiritual, tetapi juga menjamin keamanan fisik dan psikologis mereka selama menuntut ilmu.