Press ESC to close

Taujih Syaikh Aiman Rusydi Suwaid tentang Kualitas Bacaan Para Hafidz Al-Qur’an

Dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini, pendidikan tahfidz Al-Quran mengalami perkembangan yang sangat signifikan di berbagai belahan dunia. Lembaga-lembaga tahfidz Al-Quran tumbuh di berbagai negara, termasuk diantaranya Indonesia. Baik dalam bentuk pesantren, sekolah Islam, majlis Al-Quran di masjid, bahkan dalam bentuk platform digital. Semangat umat Islam dalam mencintai Al-Quran sangat kuat. seiring dengan bekembangnya fenomena tersebut, hendaknya kita patut bersyukur kepada Allah atas hal tersebut.

Kendati demikian, ada sebuah keresahan yang juga patut kita perhatikan atas perkembangan pendidikan tahfidz Al-Quran di tengah masyarakat, yaitu persoalan kualitas bacaan Al-Quran para huffadz tersebut. Tidak sedikit para penghafal Al-Quran yang lebih mementingkan kuantitas hafalan alias target cepat khatam Al-Quran daripada kualitas bacaan Al-Quran yang pada hakikatnya adalah perintah Allah Swt. dalam Q.S. Al-Muzzammil [73]: 4:

 وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Artinya: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (Q.S. Al-Muzzammil [73]: 4)

Semangat para penghafal Al-Quran tersebut tentu perlu diapresiasi, namun mengawal mereka agar memiliki bacaan yang berkualitas juga merupakan jihad ilmiyah yang dapat dikesampingkan. Karena hafalan yang tidak ditopang dengan pondasi kematangan ilmu tajwid yang benar justru berpotensi melahirkan hafalan Al-Quran yang rapuh, jauh dari panggang api alias menyalahi kaidah-kaidah ilmu tajwid itu sendiri. Imam Jazari mengatakan :

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لَازِمُ * مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرْآنَ آثِمُ

Artinya: “Mempelajari dan menerapkan tajwid adalah kewajiban. Siapa yang tidak membaguskan bacaan Al-Qur’an (menurut kaidah tajwid), maka ia berdosa.” (Nadzom Al-Jazariyah, Imam Jazari, hal. 3)

Kecenderungan tersebut semakin terasa Ketika sebagian lembaga pendidikan menjadikan target tahfidz sebagai tolok ukur utama keberhasilan para siswanya dalam mengikuti program tahfidz. Akibatnya proses tahsin bacaan Al-Quran dan talaqqi bacaan Al-Quran kepada Guru menjadi hal yang kurang membawa efek positif terhadap perkembangan bacaan peserta didik.

Dalam konteks inilah, Syaikh Aiman Rusydi Suwaid melalui ajang Musabaqah Hifdzil Quran internasional bernama Sufara’ yang diadakan selama bulan suci Ramadhan memberikan pengarahan (taujih) kepada para hafidz Al-Quran. Beliau juga menyampaikan, bahwa kegiatan ini tidak hanya sekedar kompetisi, namun lebih dari itu yaitu sebagai momen evaluasi, pembinaan, dan penguatan standarisasi bacaan Al-Quran di kalangan para penghafal Al-Quran. Selain itu beliau juga menekankan adab yang hendaknya dijaga oleh para hafidz disaat mereka membaca Al-Quran. 

Syaikh Aiman Suwaid merupakan salah satu Ulama dan Guru Al-Quran terkemuka asal Syiria yang memiliki otoritas tinggi dalam ilmu tajwid, Qiraat, dan Tahqiq bacaan Al-Quran. Saat ini beliau menjadi salah satu Ulama Al-Quran yang dijadikan rujukan Internasional dalam standarisasi bacaan Al-Quran. Dan sudah barang tentu beliau juga memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah Saw.

Kritik sebagai upaya peningkatan kualitas

Dalam ajang Musabaqah Hifdzil Quran tersebut, Syaikh Aiman memberikan kritik kepada beberapa peserta yang sudah menampilkan bacaannya. Diantara kritik tersebut yaitu;

Pertama, seseorang pembaca Al-Quran hendaknya tidak boleh berlebihan dalam mengucapkan huruf (takalluf). Baik berlebihan dari sisi makhraj maupun sifatul huruf. Beliau melarang juga pembaca yang menekan pembacaan huruf yang tidak sesuai pada tempatnya. Semisal pengucapan huruf Kha’ (خ) yang  terlalu kasar di belakang lidah sehingga timbul suara kha’ yang kasar (Jawa:‘ngorok’). padahal pengucapan kha’ hendaknya dengan suara mengalir dengan hembusan karena ia adalah huruf yang keluar dari tengah tenggorokan (أوسط الحلق) dan bersifat berhembus (hams) serta tipis (istifal).

Kedua, memberikan koreksi kepada peserta yang mengucapkan huruf Ra’ (ر) dengan terlalu banyak getarannya seperti huruf R dalam bahasa Indonesia, sehingga getaran huruf Ra’ tersebut sangat jelas berbunyi ‘Rrra’ sehingga lafadz رَبِّ dibaca: ‘Rrrabbi’. Ini tentu tidak tepat karena huruf Ra’ keluar dari ujung lidah yang menyentuh bagian atas gusi (dekat makhraj huruf ل). Sifat utamanya adalah takrir (bergetar ringan). Namun getarannya tidak boleh berlebihan.

Ketiga, pengucapan Qof (ق) yang terlampau juga tidak luput dari koreksi beliau. Karena ada beberapa peserta yang membaca Qof ketika berhenti terjadi hukum Qalqalah (memantulkan huruf) dengan terlalu kuat sehingga timbul suara seperti sisa orang batuk berbunyi Qe’ seperti lafadz أَلَمْ يَخْلُقْ dibaca ‘Alam yakluqe’. tentu ini tidak tepat karena huruf Qaf keluar dari pangkal lidah bagian belakang yang menyentuh langit-langit lunak (أقصى اللسان مع ما يحاذيه من الحنك الأعلى). sedangkan sifatnya adalah jahr (suara tertahan), syiddah (kuat), isti‘la (tebal), dan qalqalah (memantul saat sukun). Sesuai dengan hal tersebut, Imam Al-Jazari mengatakan:

ﺑِﺎﻟﱡﻠﻔْـظِ ﻓِـﻲ اﻟﱡﻧطْـقِ ﺑِــﻼَ ﺗَﻌَـﺳﱡـفِ * ﻣُﻛَﻣﱠـﻼً ﻣِـنْ ﻏَـﻳْـرِ ﻣَــﺎ ﺗَﻛَـﻠﱡـفِ

Artinya: “Mengucapkannya dengan lafaz yang benar dalam pelafalan, tanpa dibuat-buat atau dipaksakan; disempurnakan tanpa sikap berlebihan dan tanpa rekayasa.” (Nadzam Al-Jazariyah, Imam Jazari, hal. 10)

Keempat, para hafidz Al-Quran hendaknya menjaga kaidah waqaf dan Ibtida’. Dalam momen tersebut, Syaikh Aiman sempat memberhentikan peserta yang membaca ayat:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ..

sebab peserta tersebut berhenti pada lafadz جَاعِلٌ, beliau (Syekh Aiman) langsung menegurnya dengan mengatakan:

شوفي دائما خدي قاعدة الكلام ينسب إلى قائله القائل هو الله لابد من نضع فعل قال قبله ما بيصير واحد يبدأ إني جاعل في الأرض خليفة انتبهت كيف كل كلام منسوب لي الله عز وجل لابد أن ننطقه موصولا بفعل قال الذي قبله يعني أرجع لكلمة قالة أيوة املأي صدرك هوا و أقرأي و أبدأ من أول وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلُ

Artinya: “Perhatikan selalu, jadikan ini sebagai kaidah: setiap ucapan (dalam Al-Qur’an) dinisbatkan kepada yang mengucapkannya. Dan yang mengucapkan (ayat tersebut) adalah Allah. Maka harus kita dahului dengan kata kerja ‘qāla’ (Allah berfirman). Tidak boleh seseorang langsung memulai membaca ‘Innī jā‘ilun fī al-ardhi khalīfah…’. Paham kan?

Maka jelas permasalahannya bahwa membaca Al-Qur’an hendaknya juga memperhatikan kaidah waqaf dan ibtida’. Sebab, salah berhenti atau salah memulai bacaan dapat mengubah makna ayat, menghilangkan maksud yang dikehendaki, bahkan menisbatkan ucapan kepada selain yang berhak. Karena itu, memahami tempat berhenti yang tepat dan memilih awal bacaan yang benar menjadi bagian penting dalam menjaga kesempurnaan bacaan Al-Qur’an, sebagaimana diajarkan para qurrā’ dan ulama tajwid. (Tamhid fi ilmi at-Tajwid, Imam Jazari, hal. 237)

Kelima, Syaikh Aiman juga menekankan tentang pentingnya menjaga Adab ketika membaca Al-Quran. Karena ada peserta yang membaca Al-Quran dengan lagu yang terlalu banyak variasinya (notasi naik turunnya irama) sehingga mirip lagu Arab. Beliau mengatakan bahwa Al-Quran bukanlah lagu, meskipun ada anjuran untuk melagukan Al-Quran, namun ia adalah Kalamullah yang agung. Membaca Al-Quran hendaknya dengan berusaha menciptakan suasana yang hudhu’ (tenang) dan tawadhu’ (kerendahan hati). Wallahu a’lam.

Penulis: Muhammad Romli, M. Ag ( Alumni Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus guru Tahfidz Pesantren Tahfidz Al-Quran Baitul Makmur)

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.