Press ESC to close

Ketika Kiai Ahmad Basyir AS menafsirkan Q.S. Al-Mu’minun 1-3

Almarhum Kiai Toan Ahmad Basyir, pengasuh PP Annuqayah Latee, beberapa kali menegur santri-santrinya yang masih ngobrol, bergurau hingga berbuat gaduh padahal iqamah shalat jamaah sudah dikumandangkan. Beliau menyitir ayat:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ ۝١الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ ۝٢وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَۙ ۝٣

Artinya: “Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (Q.S. Al-Mu’minun 1-3)

Menurut beliau, ayat ini menjelaskan ciri-ciri orang mukmin yang beruntung adalah orang yang menjauhi dari sifat banyak bicara, terutama dalam hal yang tidak ada manfaatnya, seperti bercanda, ngomong ngalor-ngidul, dan semacamnya.  Beliau juga mengutip syiir tentang irit bicara sebagai ciri kesempurnaan penggunaan akal:

إِذَا تَمَّ عَقْلُ الْـمَرْءِ قَلَّ كَلَامُهُ  ** وَأَيْقِنْ بِحُمْقِ الْـمَرْءِ إِنْ كَانَ مُكْثِرَا

Artinya: “Seseorang dikatakan memiliki akal sempurna tatkala ia sedikit dalam bicara, dan yakinlah akan kebodohannya jika ia banyak berbicara”

Setelah shalat, beliau menambahkan penjelasan tentang sifat khusyu’ dalam ayat tersebut. Khusyu’ itu minimalnya: pikiran sadar dan fokus dengan apa yang ia baca dalam shalatnya. Jika tidak fokus, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai orang khusyu’.

Apa yang beliau sampaikan sesuai dengan apa yang ulama jelaskan. Dalam kitab Tafsīr Madārik at-Tanzīl wa Ḥaqā’iq at-Ta’wīl (2/459), Imam an-Nasafi menafsirkan lafadz “اللغو” sebagai “setiap ucapan yang rendah dan tidak berguna, yang semestinya ditinggalkan, seperti dusta, cacian, dan senda gurau yang berlebihan”. Orang mukmin, menurut an-Nasafi, memiliki kesungguhan dalam beribadah yang membuat mereka sibuk sehingga tidak terjerumus dalam hal-hal yang sia-sia.

Syekh Muhammad Abdul Lathif al-Khatib dalam kitab Awḍaḥ at-Tafāsīr (1/412) juga menafsirkan lafadz “اللغو” sebagai “setiap ucapan yang rendah/tidak bernilai; yang semestinya ditinggalkan, seperti dusta, celaan (mencaci), dan senda gurau (yang berlebihan/tidak bermanfaat).”

Dalam kitab al-Mawsū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah (25/247-248) juga  dijelaskan bahwa “al-laghw” berarti “perkataan yang tidak dianggap (tidak bernilai), baik karena diucapkan secara spontan tanpa pertimbangan, tanpa meneliti dan memikirkan terlebih dahulu”. Ditegaskan pula bahwa  orang-orang yang beriman dituntut untuk menjauh dan menahan diri dari mendengarkannya, serta tidak terlibat di dalamnya sama sekali, karena perkataan tersebut bukan bagian dari akhlak mereka.

 Mengenai sifat khusyu’, Imam an-Nasafi dalam kitab Tafsir Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Takwil (2/459) menjelaskan bahwa khusyuk dalam salat adalah menghimpun seluruh perhatian (kesungguhan hati) untuknya, serta berpaling dari segala selainnya. Dalam I‘ānat aṭ-Ṭālibīn (1/181) juga dijelaskan tentang tatacara khusyu’:

وَسُنَّ فِيهَا خُشُوعٌ بِقَلْبِهِ بِأَنْ لَا يَحْضُرَ فِيهِ غَيْرُ مَا هُوَ فِيهِ، وَإِنْ تَعَلَّقَ بِالْآخِرَةِ، وَبِجَوَارِحِهِ بِأَنْ لَا يَعْبَثَ بِأَحَدِهَا.

Artinya: “Disunnahkan dalam salat untuk khusyuk dengan hatinya, yaitu tidak menghadirkan dalam hatinya selain apa yang sedang ia lakukan (salat), meskipun yang selain itu berkaitan dengan urusan akhirat; dan (khusyuk) dengan anggota tubuhnya, yaitu tidak bermain-main dengan salah satu anggota tubuhnya.”

Penulis: Afif Thohir Furqoni

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Dari Toleransi ke Akomodasi: Langkah Nyata Menghidupkan Keberagaman Tradisi
Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.