Pada tanggal 17 April 2025, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) genap berusia 65 tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang untuk sebuah organisasi mahasiswa, sekaligus momentum reflektif bagi seluruh kader untuk menengok ke belakang, membaca arah hari ini, dan merumuskan langkah strategis ke depan. Tema Hari ulang tahun 2025 adalah “Generasi Hebat Penggerak Perubahan” menjadi sangat relevan sebagai pengingat bahwa sejarah besar organisasi ini tak pernah lepas dari kiprah generasi mudanya dalam menyalakan obor perubahan.
Sejak didirikan pada 1960 oleh para mahasiswa dari kalangan Nahdliyin, PMII lahir sebagai respon atas kebutuhan zaman. Organisasi ini berdiri di atas semangat kemandirian, menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah dan komitmen terhadap ke-indonesiaan yang utuh. PMII bukan hanya alat perjuangan politik mahasiswa, tapi juga ruang tumbuh kaderisasi yang konsisten dalam membentuk karakter, intelektualitas, dan keberpihakan sosial.
Sepanjang sejarahnya, PMII telah melahirkan tokoh-tokoh penting bangsa yang menempati berbagai ruang pengabdian baik di pemerintahan, organisasi masyarakat sipil, akademisi, maupun aktivis kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa PMII tidak hanya menggembleng kader secara wacana, tetapi juga mendorong mereka untuk terjun langsung dalam dinamika sosial-politik masyarakat.
Namun, tantangan zaman terus bergeser. Generasi hari ini hidup dalam era disrupsi digital, ketika informasi begitu cepat datang tanpa filter, dan opini publik dibentuk dalam hitungan detik. Mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut untuk tidak hanya responsif, tetapi juga selektif dan reflektif. Kader PMII tidak boleh larut dalam romantisme sejarah, tetapi harus terus mengasah daya saing kader agar mampu menghadapi kompleksitas zaman dengan bekal spiritualitas, intelektualitas, dan solidaritas sosial.
“Generasi Hebat Penggerak Perubahan” bukan sekadar jargon dalam harlah tahun ini. Sebagai kader PMII harus merefleksikan bahwa ini adalah amanat perjuangan. Generasi hebat bukan mereka yang hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kemampuan membaca situasi, dan keberanian menyuarakan kebenaran. PMII harus terus menjadi tempat subur untuk menanam benih-benih kepemimpinan masa depan yang bukan hanya menguasai teori, tetapi juga membumi bersama rakyat.
Kedepanya PMII sebagai organisasi kaderisasi harus berani membuka diri terhadap transformasi. Kaderisasi tidak lagi cukup dilakukan dalam ruang kelas dan diskusi terbatas. Kaderisasi harus meluas ke dunia digital, ruang komunitas, hingga sektor-sektor strategis dalam masyarakat. PMII juga harus adaptif terhadap isu-isu global seperti lingkungan hidup, hak asasi manusia, ekonomi digital, hingga moderasi beragama dalam konteks dunia yang plural.
Semua kader harus ikut merefleksi hadirnya 65 tahun PMII yang tentunya terus bergerak, berpikir, dan bertindak. PMII tidak bisa stagnan hanya sebagai organisasi simbolik, melainkan harus tampil sebagai garda terdepan gerakan perubahan. Perubahan yang dimaksud bukan perubahan instan, tetapi perubahan yang bertahap, sistematis, dan berakar pada nilai-nilai luhur.
Di tengah arus pragmatisme dan apatisme sebagian generasi muda, kader PMII harus tetap menjadi lentera yang berpikir jernih saat banyak yang berpikir pendek, menjadi mereka yang bersuara saat banyak yang diam, dan menjadi mereka yang hadir untuk rakyat saat banyak yang memilih aman.
Selamat Hari Lahir PMII ke-65. Semoga tetap menjadi rumah ideologis, ruang intelektual, dan panggung pengabdian bagi generasi hebat yang siap menggerakkan perubahan. Tumbuh Subur Pergerakanku!!
Oleh:
Khoirul Adib (PMII UIN Walisongo Semarang Cabang Semarang)