Hari ini diundang oleh mahasiswa Himpunan Pendidikan Dokter di Gedung Student Center untuk membincang tentang "Kebebasan Seksual, Kesehatan Publik dan Moralitas Islam". Tema ini keren sekali, bukan karena pilihan diksinya, melainkan kepedulian mahasiswa melihat realitas hari ini yaitu kebebasan dan kebablasan (silahkan lihat data terkait dengan sek bebas dari 2022-2025, mengerikan). Mereka merespon fenomena yang menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Dan itu bermula dari keinginan, dan keinginan itu banyak bermula dari pandangan.
Setelah saya membaca beberapa tafsir QS. An-Nur [24]: 30 tentang menjaga pandangan ( ghad al-bashar ), maka saya tertarik membaca kajian Kitab Al-I'jaz al-ilmi karya Syekh Dr. Zaghlul An-Najjar terkait pandangan mata.
Tulisan ini melanjutkan kajian tentang menahan nafsu binal, yang penulis tulis kemarin. Pertama beliau mengutip tentang Ayat yang menjadi kajian ini yaitu;
﴿ قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ٣٠ ﴾
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat.”
Lafaz azka menurut mayoritas ulama adalah lebih bermanfaat, lebih baik dan dapat membersihkan diri dan hati. Kemudian Dr. Zaghlul mengutip hadis nabi tentang pandangan mata itu adalah bagian dari racun iblis yang dilesatkan pada diri seseorang. Bila seseorang itu mampu menahan pandangannya, maka ia akan mewariskan rasa manis atau indah dalam hatinya.
Menurut Dr. Zaghlul, jika anak panah itu sudah menancap ke dalam tubuh seseorang, maka akan menimbulkan luka ( jarh ), dan dapat merusak tempat tertentu dalam tubuh. Dan tidak hanya itu, apabila anak panah dibumbui, maka racun tersebut akan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan akan merusak.
Rasulullah Saw. pada 14 abad yang lalu sudah menunjukkan bahaya tatapan yang mengikuti tatapan berikutnya ( النظرة الثانية ), maka hal tersebut seperti menekan pelatuk yang dimulai dengan serangkaian interaksi dan sekresi hormon seksual yang kompleks yang berdampak pada setiap organ, bahkan pada setiap sel. Dan tubuhnya siap melakukan hubungan seksual, dan ia terkadang harus melakukannya.
Dan dari proses keinginan yang membuncah untuk melakukan hubungan seks iru akan terus berlangsung hingga waktu-waktu tertentu. Akan tetapi jika hormon-hormon tersebut terus dikeluarkan di dalam tubuh tanpa menurunkan muatannya (tidak melakukan hubungan seks), maka akan menyebabkan komplikasi serius dalam tubuh.
Selanjutnya Prof. Misbah menyinggung sebuah hasil penelitian yang dilakukan 20 tahun yang lalu, bahwa hormon-hormon tersebut mengalir di pembuluh darah, dan terus menyebar di tubuh seseorang yang memandang (membuka mata) setiap hari, memandang terhadap sesuatu yang dilarang oleh Allah.
Jadi apa yang terjadi?
Pertama , munculnya bau yang sangat busuk dari ketiak dan kaki, sebagai efek siklus racun tersebut yang terus menjalar di dalam tubuh seseorang sepanjang hari akibat mata yang tidak terkontrol, menikmati majalah sek, adegan seks, film porno, dan pada akhirnya mengarah pada siklus hormon-hormon tersebut sepanjang hari, meningkatkan kuantitasnya dan memperluas sirkulasinya di dalam tubuh. Prof Misbah menambahkan, bahwa hormon seks yang berlebihan dianggap sebagai racun, jika melebihi jumlah yang ditentukan, serta jika sekresinya dalam tubuh melebar dan meluas sepanjang hari.
Kedua , pembukaan kelenjar keringat dan sebaceous yang melebar di tumit, bagian bawah kaki dan di punggung, dan hal tersebut dapat menyebabkan penyakit wasir. Dan perluasan lubang sebaceous menyebabkan jerawat dari siklus hormonal tersebut. Hormon seks yang beracun, dan mengiritasinya lebih dari rata-rata, maka akan menyebabkan migrain ( الصداع النصفي ), yang belum ada obatnya saat ini.
Hal yang menakutkan menurut beliau adalah nyeri sendi, sendi lutut dan pinggul. Dan tampaknya hormon ini mengurangi kekentalan cairan di antara tulang-tulang yang ada dalam tubuh. Dan hal tersebut menyebabkan pengeringan cairan dan kemudian gesekan tulang, dan pada akhirnya nyeri sendi (sakit parah) yang tak tertahankan. Sedangkan jantung dan pembuluh darah, akibat dari hormon-hormon ini dalam tubuh menyebabkan penurunan detak jantung dan memperlambat sirkulasi darah.
Hasilnya adalah bahwa Nabi Saw. sudah memperingatkan pada umatnya mulai beberapa abad yang lalu, bahwa betapa menjaga pandangan itu dapat memberikan banyak manfaat terutama pada kesehatan, tetapi sebaliknya bila tidak mampu menjaganya, maka tidak hanya ditimpa beberapa penyakit, tetapi selain mendapatkan dosa juga hati yang resah, gundah, dan pikiran yang kacau.