Bharaka, seorang pemuda yang terpaksa masuk pesantren karena dilarang ibunya menjadi tentara. Ia harus belajar mengalahkan egonya, menghadapi kegagalan, dan menyelaraskan nilai kesantrian agar bisa meraih restu ibu serta mewujudkan cita-citanya menjadi prajurit TNI. "Tidak semua jalan menuju cita-cita harus ditempuh dengan melawan. Terkadang, jalan itu justru ditemukan lewat ketaatan."
KH. Abdul Ghaffar Rozin, atau yang akrab saya panggil Gus Rozin, genap berusia 50 tahun. Bagi sebagian orang, usia hanyalah angka. Tetapi bagi saya, usia 50 tahun Gus Rozin adalah penanda sebuah perjalanan panjang yang penuh cerita.
Seorang ahli ilmu pernah mengatakan bahwa sebagian dari mereka, sahabat-sahabat Nabi, jika bangun tidur dan melihat keluarganya memiliki sesuatu (kekayaan), maka mereka akan merasa sedih. Akan tetapi, jika mereka tidak memiliki apa pun, mereka merasa gembira dan bahagia.
Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh seorang yang mendekatkan diri kepada Tuhan adalah menjaga hati. Mengapa demikian? Karena hati layaknya seperti pintu yang harus dijaga khususnya dari berbagai macam ancaman yang membahayakan. Jika ada perkara berbahaya yang mendobrak pintu, maka kemungkinan rusaklah segala apa yang ada di balik pintu. Begitulah gambaran hati.
Mengakui kesalahan dan bertaubat merupakan langkah yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menekankan pentingnya mengakui kesalahan bagi setiap manusia
Nilai keseimbangan inilah yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupannya. Misalnya, bagaimana si kaya harus membantu yang miskin? Demikian juga bagaimana si miskin berusaha dan hidup tidak menjadi beban bagi yang lain.