Table of contents [Show]
- 1 Dari Pertarungan Kepentingan Menuju Konsolidasi Peradaban
- 2 Tambakberas dan Simbol Kembali kepada Akar Pesantren
- 3 Tambakberas dan Dimensi Kultural Gus Rozin
- 4 Dari Arena Kalkulasi Kekuatan Menuju Ruang Rekonsiliasi
- 5 Muktamar ke-35 Sebuah Ujian Kedewasaan Organisasi
- 6 Memilih Pemimpin untuk Mengakhiri Konflik, Bukan Melanjutkan Konflik
Dalam perjalanan sejarah sebuah organisasi besar, terdapat momentum-momentum tertentu yang tidak hanya memiliki arti administratif, tetapi juga memiliki makna historis. Sebuah muktamar memang merupakan forum tertinggi organisasi untuk memilih kepemimpinan dan menetapkan arah kebijakan.
Namun bagi organisasi yang memiliki beban sejarah seperti Nahdlatul Ulama, muktamar selalu memiliki dimensi yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kepengurusan. Muktamar adalah ruang untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan menentukan arah perjalanan organisasi menghadapi tantangan zaman.
Karena itu, Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, harus dibaca dalam konteks yang lebih luas. Ia bukan hanya forum untuk menentukan siapa yang akan memimpin PBNU dalam satu periode ke depan, tetapi merupakan momentum untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
Apakah NU mampu keluar dari fase ketegangan internal dan memasuki abad kedua dengan fondasi organisasi yang lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih bermartabat?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena NU memasuki fase sejarah yang berbeda. Pada abad pertama, NU telah berhasil melewati berbagai tantangan besar: mempertahankan tradisi keislaman, menghadapi kolonialisme, memperjuangkan kemerdekaan, menjaga keutuhan bangsa, serta membangun jaringan sosial-keagamaan yang menjadi salah satu kekuatan terbesar masyarakat Indonesia.
Namun abad kedua menghadirkan tantangan yang berbeda. NU tidak lagi hanya diuji oleh kemampuan mempertahankan eksistensi, tetapi oleh kemampuannya mengelola kebesaran agar menjadi kekuatan peradaban.
Dalam konteks itu, dinamika internal yang terjadi beberapa tahun terakhir harus dibaca bukan semata sebagai konflik yang harus dilupakan, tetapi sebagai pelajaran kelembagaan.
Organisasi besar tidak cukup hanya menyelesaikan konflik dengan mengganti aktor atau mempertemukan para pihak yang berselisih.
Organisasi besar harus mampu menemukan akar persoalan dan melakukan pembenahan sistem agar konflik serupa tidak terus berulang dengan bentuk yang berbeda.
Karena itu, Muktamar Tambakberas memiliki tanggung jawab sejarah yang lebih besar: bukan hanya memilih pemimpin baru, tetapi menentukan apakah NU akan memasuki abad kedua dengan paradigma lama atau dengan kesadaran baru tentang pentingnya penguatan institusi, rekonsiliasi, dan transformasi organisasi.
Tambakberas dan Simbol Kembali kepada Akar Pesantren
Pemilihan Tambakberas sebagai tempat penyelenggaraan Muktamar memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar keputusan administratif mengenai lokasi forum organisasi. Dalam tradisi NU, tempat bukan hanya ruang geografis. Tempat memiliki memori, simbol, dan pesan moral. Sebuah lokasi penyelenggaraan muktamar selalu membawa narasi tentang nilai apa yang ingin ditegaskan oleh organisasi.
Tambakberas adalah salah satu ruang penting dalam sejarah panjang pesantren NU. Ia bukan hanya kawasan pendidikan Islam, tetapi bagian dari mata rantai sejarah keulamaan yang membentuk wajah NU. Dari pesantren-pesantren seperti Tambakberas, lahir tradisi keilmuan, kaderisasi ulama, dan pengabdian sosial yang menjadi fondasi perjalanan NU.
Karena itu, kembalinya Muktamar NU ke lingkungan pesantren memiliki makna simbolik yang kuat. Ia menjadi pengingat bahwa NU pada dasarnya lahir dari tradisi ilmu, adab, musyawarah, dan pengabdian. NU bukan dibangun sebagai arena perebutan kekuasaan, tetapi sebagai wadah perjuangan ulama untuk menjaga agama, melayani umat, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Pesantren dalam tradisi NU memiliki fungsi yang lebih dalam daripada sekadar lembaga pendidikan. Pesantren adalah ruang pembentukan karakter kepemimpinan.
Di dalamnya diajarkan bahwa kekuasaan bukan tujuan, tetapi amanah; bahwa perbedaan bukan ancaman, tetapi bagian dari dinamika keilmuan; dan bahwa keputusan yang baik bukan hanya keputusan yang memenangkan satu pihak, tetapi keputusan yang menjaga maslahat bersama.
Dalam konteks dinamika NU beberapa tahun terakhir, simbol Tambakberas menjadi semakin penting. Setelah fase panjang ketegangan internal yang menguras energi organisasi, NU membutuhkan ruang yang dapat mengembalikan orientasi seluruh pihak kepada akar perjuangannya.
Muktamar tidak boleh hanya menjadi arena menentukan siapa yang menang dalam kontestasi, tetapi harus menjadi momentum untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar: bagaimana NU kembali menjadi rumah bersama setelah mengalami fase perbedaan yang begitu tajam.
Tambakberas dan Dimensi Kultural Gus Rozin
Ada dimensi lain yang membuat Tambakberas memiliki resonansi khusus dalam konteks Muktamar kali ini, yaitu keterkaitannya dengan perjalanan keluarga dan akar kultural Gus Rozin.
Gus Rozin bukan hanya seseorang yang hadir dalam kontestasi kepemimpinan NU tanpa hubungan historis dengan ruang Muktamar tersebut. Ia memiliki hubungan genealogis dan kultural dengan Tambakberas melalui ayahandanya, KH. Mochammad Djamaluddin Ahmad.
Beliau merupakan ulama kharismatik pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin, Tambakberas, Jombang. Karena itu, bagi Gus Rozin, Tambakberas bukan semata lokasi penyelenggaraan sebuah forum organisasi, tetapi juga memiliki makna personal sebagai bagian dari jejaring sejarah keluarga dan tradisi pesantren yang membentuk dirinya.
Namun dimensi personal tersebut tidak seharusnya dibaca sebagai klaim kepemilikan atas ruang sejarah NU. Justru dalam tradisi pesantren, hubungan genealogis memiliki makna yang lebih dalam: bukan hak istimewa, tetapi tanggung jawab moral untuk menjaga dan meneruskan nilai yang diwariskan para pendahulu.
Nasab dalam tradisi NU bukan tujuan akhir.
Nasab adalah amanah.
Ia baru memiliki arti ketika diterjemahkan menjadi pengabdian.
Karena itu, hubungan Gus Rozin dengan Tambakberas memberikan lapisan simbolik tersendiri. Ia mempertemukan dua hal: sejarah pesantren yang menjadi akar NU dan kebutuhan NU hari ini terhadap kepemimpinan yang mampu merawat tradisi sekaligus membawa pembaruan.
Menariknya, perjalanan menuju Muktamar ke-35 menunjukkan bahwa lokasi muktamar tidak pernah sepenuhnya menjadi persoalan teknis.
Dalam organisasi besar, tempat penyelenggaraan forum strategis selalu memiliki dimensi sosial, simbolik, dan organisatoris. Lokasi dapat berkaitan dengan jejaring, atmosfer forum, akses konsolidasi, serta persepsi mengenai keseimbangan kekuatan.
Karena itu, munculnya berbagai aspirasi mengenai lokasi muktamar dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika organisasi. Setiap kelompok tentu memiliki pertimbangan masing-masing dalam melihat tempat yang dianggap paling strategis bagi proses organisasi.
Dalam setiap kontestasi, ruang selalu memiliki makna politik dan sosial.
Namun justru di sinilah nilai Tambakberas menjadi menarik.
Tambakberas tidak hadir semata sebagai simbol kemenangan satu kelompok.
Tambakberas hadir sebagai ruang sejarah NU itu sendiri.
Ia tidak mewakili kepentingan kelompok tertentu, tetapi mengingatkan seluruh pihak bahwa NU memiliki akar yang jauh lebih besar daripada pertarungan elite yang sedang berlangsung.
Dalam perspektif ini, Tambakberas memiliki peluang menjadi ruang refleksi bersama: tempat seluruh pihak kembali melihat NU bukan sebagai arena perebutan pengaruh, tetapi sebagai amanah sejarah yang harus dijaga.
Muktamar ke-35 Sebuah Ujian Kedewasaan Organisasi
Setiap konflik besar selalu menghadirkan dua kemungkinan. Ia dapat menjadi sumber pelemahan apabila organisasi tidak mampu mengambil pelajaran. Tetapi ia juga dapat menjadi titik pembaruan apabila organisasi berani melakukan evaluasi dan perubahan.
NU saat ini berada pada persimpangan tersebut.
Muktamar dapat menjadi sekadar arena pergantian figur, tetapi juga dapat menjadi momentum memperbaiki sistem. Muktamar dapat menjadi ruang memperpanjang pertarungan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi ruang menyusun masa depan.
Pilihan tersebut sangat bergantung pada cara seluruh pihak memahami makna kepemimpinan.
Jika kepemimpinan hanya dipahami sebagai perebutan posisi, maka Muktamar akan menghasilkan pemenang dan pihak yang kalah.
Namun jika kepemimpinan dipahami sebagai amanah menjaga rumah besar NU, maka Muktamar harus menghasilkan rekonsiliasi.
Sebab setelah Muktamar selesai, NU tetap membutuhkan seluruh kekuatan yang ada. Mereka yang berbeda pilihan tetap memiliki kontribusi.
Para kiai, pengurus, kader, dan jamaah tetap harus bekerja bersama menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan internal organisasi.
Memilih Pemimpin untuk Mengakhiri Konflik, Bukan Melanjutkan Konflik
Dalam konteks inilah gagasan poros tengah menjadi relevan. Poros tengah bukan hanya tentang mencari figur yang berada di antara dua kelompok secara matematis, tetapi tentang menghadirkan kepemimpinan yang mampu melampaui batas-batas kelompok.
NU membutuhkan pemimpin yang tidak membawa residu konflik lama ke dalam kepemimpinan baru. Pemimpin yang memiliki ruang komunikasi dengan berbagai pihak. Pemimpin yang mampu mengubah energi perpecahan menjadi energi pembangunan.
Dalam konteks tersebut, makna Tambakberas menjadi semakin kuat. Ia bukan hanya tempat berlangsungnya Muktamar, tetapi simbol pertanyaan besar yang harus dijawab NU:
Apakah NU akan terus terjebak dalam logika pertarungan kepentingan?
Atau kembali kepada logika pesantren yang mengutamakan adab, musyawarah, dan kemaslahatan?
Karena itu, keberhasilan Muktamar Tambakberas tidak hanya diukur dari siapa yang memenangkan kontestasi.
Keberhasilannya diukur dari apakah setelah Muktamar NU menjadi lebih bersatu, lebih kuat secara institusi, dan lebih fokus menjalankan khidmahnya.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menduduki jabatan.
Sejarah akan mencatat siapa yang mampu menjaga marwah NU ketika organisasi ini sedang diuji.
Dan di titik itulah makna sesungguhnya dari poros tengah:
bukan sekadar jalan menuju kemenangan, tetapi jalan menuju penyelamatan NU dari konflik berkepanjangan, Gus Rozin dengan berbagai latarbelakang dan khidmahnya selama ini di NU, merupakan figur yang pas dan tepat sebagai rekonsiliator yang mengusung poros tengah. []