Ketika gunung-gunung aktif bersamaan di berbagai belahan dunia, manusia kembali menyaksikan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi. Di Indonesia, sejumlah gunung mengalami erupsi. Krakatau, Semeru, Merapi, Ibu, hingga Lewotobi. Di belahan dunia lain, Etna di Italia, Shiveluch di Rusia, dan Fuego di Guatemala juga menunjukkan aktivitasnya. Tidak ada teknologi yang benar-benar mampu menghentikan gunung ketika ia meletus. Tidak ada pemerintah yang bisa mengendalikan seluruh kekuatan alam. Tetapi sebelum bertanya, “Mengapa semua ini terjadi?”, ada pertanyaan yang lebih penting: Apa yang sudah manusia lakukan kepada bumi ini?
Kalimantan terbakar. Ribuan hektar hutan hangus. Asap melintasi batas negara. Laut dipenuhi plastik, udara semakin sulit dihirup, dan hutan yang membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk tumbuh dapat habis dalam hitungan jam. Kerusakan ini tidak terjadi dalam sehari. Ia adalah akibat dari keputusan manusia, satu demi satu, selama bertahun-tahun—mengambil tanpa cukup menjaga dan mengeksploitasi tanpa cukup memikirkan akibatnya.
Ironisnya, kita hidup di zaman ketika manusia semakin mudah berpaling dari kenyataan. Kita bisa scroll berita yang membuat tidak nyaman, mute suara yang tidak ingin kita dengar, unfollow orang yang terus mengingatkan, bahkan block sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Seolah-olah sesuatu akan hilang hanya karena kita memilih untuk tidak melihatnya. Padahal hutan tetap terbakar meskipun kita melewati beritanya. Laut tetap tercemar meskipun kita menutup videonya. Kita bisa skip video tentang kebakaran, tetapi tidak bisa skip asap ketika ia memenuhi udara. Kita bisa mute suara di layar, tetapi tidak selalu bisa membisukan suara alam. Kita bisa unfollow akun yang mengingatkan tentang bumi, tetapi kita tidak bisa unfollow bumi yang menjadi tempat kita hidup.
Manusia bisa mengatur algoritmanya. Tetapi Allah tidak membutuhkan algoritma manusia untuk memperlihatkan tanda-tanda-Nya.
Allah berfirman:
وَكَاَيِّنْ مِّنْ اٰيَةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ يَمُرُّوْنَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُوْنَ
“Dan berapa banyak tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka berpaling darinya.” (QS. Yusuf: 105)
Mungkin masalahnya bukan karena kita tidak melihat. Kita melihat, tetapi kita memilih untuk berpaling. Dan Allah telah mengingatkan tentang kerusakan itu ribuan tahun lalu:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ada tiga bagian dari ayat ini yang perlu direnungkan. *“Disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”* Kerusakan tidak selalu datang tanpa sebab. Ada tangan manusia di balik banyak kerusakan yang terjadi.
“Sebagian dari akibat perbuatan mereka.” Hanya sebagian. Karena jika seluruh akibat dari apa yang telah manusia lakukan dikembalikan sekaligus, mungkin tidak akan ada yang tersisa.
Dan yang terakhir, “Supaya mereka kembali.” Inilah bagian yang sering kita lupakan.
Ketika bencana datang, kita sibuk bertanya, _“Siapa yang sedang dihukum?”_ Padahal pesan yang ditekankan ayat itu bukan hanya tentang akibat, tetapi juga tentang tujuannya: “Supaya mereka kembali.” Bukan sekadar panik. Bukan sekadar menyalahkan alam. Bukan sekadar membagikan foto dan berita. Tetapi kembali, kembali kepada Allah, kembali kepada cara hidup yang tidak merusak, dan kembali kepada tanggung jawab sebagai khalifah yang tidak diberi amanah untuk mengeksploitasi bumi, tetapi untuk menjaganya.
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A'raf: 56)
Kita mungkin bisa menutup layar, melewati berita, dan memilih untuk tidak melihat. Tetapi kita tidak bisa selamanya menghindari akibat. Gunung-gunung berbicara. Hutan-hutan berbicara. Langit yang dipenuhi asap berbicara. Bumi sedang berbicara. Dan di tengah semua itu, ada satu pesan yang seharusnya tidak lagi kita abaikan:
“Kembalilah.”
Adlan A. Subky
PP Alfatich Bahrul Ulum Tambakberas Jombang