Press ESC to close

Menyambut Tahun Baru Hijriyah: Saatnya Umat Berhijrah dan Bangkit secara Ekonomi

Tahun baru Islam 1 Muharram 1447 H bukan hanya pergantian kalender, tetapi momentum penting untuk merefleksikan sejarah agung Islam dan menerjemahkannya ke dalam konteks kekinian. Sayangnya, perayaan tahun baru Hijriyah masih sering tenggelam oleh gegap gempita tahun baru Masehi. Di sinilah umat Islam perlu merenungi kembali apa makna hijrah, bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah, tapi juga sebagai gerakan spiritual, sosial, dan ekonomi.

Peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah adalah tonggak lahirnya masyarakat Islam yang berdaulat. Dari sinilah kemudian ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai awal penanggalan Islam. Maka, Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender hijriyah, tetapi penanda awal transformasi umat.

Allah Swt mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menekankan pentingnya muhasabah, evaluasi, dan perubahan. Inilah makna hakiki hijrah — berpindah dari kondisi stagnan dan merugikan menuju kondisi yang lebih baik dan penuh keberkahan.

Hijrah dalam Tiga Dimensi Kehidupan Umat

1. Hijrah adalah perjuangan dan pengorbanan.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat meninggalkan tanah kelahiran, harta benda, dan keluarga demi menegakkan Islam. Mereka berjalan sejauh ratusan kilometer melewati gurun demi menyelamatkan iman. Ini adalah bukti bahwa hijrah membutuhkan keteguhan niat dan tindakan nyata.

Dalam konteks hari ini, umat Islam perlu hijrah dari gaya hidup konsumtif, bergantung pada sistem ribawi, dan budaya instan. Kita mesti bertransformasi menjadi masyarakat yang produktif, kreatif, dan berdaya saing. Hijrah hari ini bisa berarti meninggalkan kemalasan menuju etos kerja, dari ketergantungan menuju kemandirian ekonomi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ”

“Seorang Muslim adalah orang yang Muslim lainnya merasa aman dari lisan dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Hijrah adalah awal membangun masyarakat madani.
Saat tiba di Madinah, hal pertama yang dilakukan Rasulullah ﷺ bukan mendirikan pasar atau istana, melainkan membangun masjid. Masjid menjadi pusat pembinaan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi. Di sanalah Rasulullah ﷺ merancang strategi dakwah, menyatukan umat, dan mengalihkan sentra ekonomi dari dominasi Yahudi ke tangan umat Islam.

Masjid hari ini harus kembali ke fungsi strategisnya. Jangan hanya sebagai tempat shalat, tapi menjadi pusat edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan karakter umat. Jika masjid hidup, umat pun akan hidup. Dari masjid, bisa lahir koperasi syariah, pelatihan UMKM, dan gerakan zakat-wakaf yang produktif.

3. Hijrah mengandung semangat persaudaraan.
Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Muhajirin (pendatang) dan Anshar (pribumi) tanpa sekat suku, ras, atau status sosial. Inilah fondasi ukhuwah Islamiyah — persaudaraan yang dilandasi keimanan, bukan darah. Dan persaudaraan ini melahirkan solidaritas ekonomi dan sosial yang luar biasa.

Allah Swt menegaskan dalam Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Solidaritas umat hari ini sangat penting, terutama menghadapi tantangan global seperti krisis kemanusiaan di Palestina. Kalau tidak mampu membantu dengan harta, doakanlah. Minimal dukungan kita sebagai wujud ukhuwah. Tetapi jauh lebih kuat lagi jika kita membangun kekuatan ekonomi kolektif umat, agar mampu mandiri dan membantu sesama.

Hijrah Ekonomi: Urgensi Umat Hari Ini

Saat ini, umat Islam masih menjadi konsumen terbesar produk global, namun sedikit sekali yang menjadi produsen. Saatnya berhijrah — dari ketergantungan menuju keberdayaan. Dari sistem ekonomi kapitalistik menuju sistem ekonomi syariah yang adil dan berkelanjutan.

Ekonomi syariah bukan hanya label halal, tapi mencakup prinsip keadilan, tanpa riba, dan berbasis keberkahan. Ini berarti kita perlu menguatkan:
    •    Zakat, infaq, dan wakaf produktif
    •    Lembaga keuangan mikro syariah
    •    Koperasi dan komunitas bisnis halal
    •    Edukasi keuangan berbasis nilai Islam

Tahun baru Hijriyah harus menjadi titik balik. Mari kita bangun komunitas muslim yang tidak hanya kuat secara spiritual, tapi juga tangguh secara ekonomi. Kita butuh hijrah dari sekadar pembicara ke pelaku, dari reaktif ke strategis, dari tertinggal menjadi unggul.

Penutup: Muharram Bukan Seremonial

Tahun baru Hijriyah bukan acara seremonial semata. Ia adalah ajakan untuk berubah. Menjadi Muslim yang bukan hanya baik untuk diri sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi umat. Hijrah yang sesungguhnya adalah keberanian untuk meninggalkan kemapanan yang meninabobokan, menuju perjuangan yang membangkitkan.

Semoga Allah Swt menjadikan tahun ini sebagai titik awal kebangkitan umat Islam — dalam iman, akhlak, dan ekonomi. Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.

Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E.

Dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Apakah Kuliah Itu Scam? Antara Realitas Sosial dan Cara Pandang yang Keliru
Kejahatan Siber (Cyber Crime): Penipuan Daring (Online Scams) yang Mendominasi Kejahatan Siber Sepanjang Tahun 2025
Mengenal Obligasi dalam Sudut Pandang Syariah
Metode Pembelajaran Pesantren yang Mengabadi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.