Setiap santri pasti pernah kenal atau minimal mengatahui nama salah satu kiai, atau bahkan guru yang melakukan sesuatu yang tidak umum. Ketidakumuman ini kadang melewati batas kepantasan. Saya sendiri kadang merasa kepingin juga dipilih menjadi orang ‘khusus’nya Tuhan yang punya keanehan-keanehan. Meskipun, kadang juga bersyukur karena diciptakan menjadi manusia biasa seperti umunya. Karena berbeda itu kadang menakutkan bagi sebagian orang.

Keanehan, atau dalam bahasa santri biasa disebut khoriqul aadat (nulayani adat) adalah sebuah anugerah yang Tuhan berikan untuk hamba pilihan-Nya. Pemberian anugerah berupa ketidak umum-an ini ada yang murni pemberian tanpa meminta, ada juga yang diberi karena telah melakukan suatu usaha agar diberi derajat luar biasa tersebut. Jadi memang ada keistimewaan karena pemberian, ada juga yang karena melalui suatu usaha.

Setelah mendapatkannya, tak semua individu sama dalam penggunaannya. Ada yang menggunakannya sebagai alat dakwah, ada juga yang menutupinya sekuat tenaga agar tetap menjadi manusia tidak terkenal di bumi, meskipun sangat terkenal di langit.

Karena menjadi pribadi asing bagi khalayak umum, kadangkala justru menjadi kemewahan yang mahal dan didambakan oleh sebagian orang. Setelah memahami ini, saya jadi bersyukur dan menikmati setiap apapun posisi dan keadaan yang Allah SWT beri. Dengan menjadi pribadi tak dikenal dan tak punya kelebihan yang bisa dibanggakan, maka kita bisa leluasa menjadi diri sendiri tanpa banyak diperhatikan. Pun seandainya bila kita diberi anugerah sebuah keistimewaan, kita bisa memanfaatkannya untuk berdakwah, atau membantu orang lain mendapatkan berkah.

Segala yang diberi adalah sejatinya alat dan sekaligus bukti.

Sebagaimana cerita bapak saya tentang salah satu sesepuh beliau “Mbah Soleh dulure mbah Abdullah Sakin niku nduwe adik namine mbah Said. Ngomong gone santrine: ojo ndelok jaranan. Eh hlakok mbah Said malah ndelok. Santrine yo ingkar, wong pak yai ndelok, kok aku gak oleh. Terus mbah Said ngomong: tri santri, golek o kayu seng okeh, terus bongen. Mantun ngoten mbah Said mlebu neng njero ne geni. Wes kene, melu mlebu rene. Santrine yo ra enek seng wani. Terus uzlah ten rorombo wetane badas. Hla niku uzlah ten mriku. Mboso wafat dimakamaken ten sebelahe gon uzlah niku” (Mbah Soleh itu saudaranya Mbah Abdullah Sakin, punya putra yang bernama Mbah Said. Beliau bilang kepada para santrinya untuk tidak menonton jaran kepang. Akan tetapi, Mbah Said sendiri malah menonton. Akhirnya para santri ingkar, pak yai sendiri menonton, tapi kenapa kita dilarang? Akhirnya Mbah Said ngomong ke para santrinya “wahai santri, sekarang kumpulkan kayu bakar yang banyak lalu bakarlah”. Setelah terbakar, Mbah Said masuk ke dalam kobaran api dan mengajak para santrinya untuk ikut masuk kedalamnya “ayo sini, ikut masuk saya ke dalam api”. Tidak ada satupun santri yang berani masuk. Setelah itu, Mbah Said memutuskan untuk uzlah atau mengasingkan diri di daerah rorombo, sebelah timurnya badas. Uzlah disana hingga wafat dan dimakamkan di tempat tersebut)”.

Tidak bisa dibayangkan betapa gemparnya dunia, bila cerita Mbah Said ini terjadi dan terekam lalu menyebar di media sosial saat ini. Akan trending topik pastinya. Namun sekaligus akan menjadi sesuatu yang kontroversial bagi masyarakat umum. Karena tidak semua orang bisa memahami tentang ke-nyeleneh-an Mbah Said tersebut. Bisa-bisa mereka justru akan menjadikan Mbah Said sebagai ‘topeng’ ketidak benaran laku mereka, dengan menjadikan alasan keistimewaan dari Tuhan.

Jadi, bila Anda adalah seseorang yang sedang mencari jati diri, pahamilah bahwa pada hakikatnya segala hal di dunia ini berasal dari Tuhan. Anda akan diberi bila memang terpilih, pun bila tidak, Anda bisa mengusahakannya dengan latihan olah batin seperti yang diajarkan para guru sufi.

Namun harap diingat, segala keistimewaan dan ketidak umuman yang didapatkan oleh para kekasih Tuhan, bukanlah proses akhir mereka. Justru itu ujian yang sering melenakan dan patut diwaspadai.

Dan bagi Anda yang masih seperti saya, tak punya keistimewaan dan melihat guru atau beberapa tokoh bertindak luar biasa, maka harap selalu ingat bahwa tak semua bisa dinilai dengan mata telanjang. Dan juga tidak semua bisa ditiru dengan laku. Ada banyak hal yang tersimpan dalam setiap tindakan. Ada banyak lapisan dalam pemahaman.

Setelah memahami hal tersebut, saya belajar untuk selalu berlaku sesuai dengan ilmu yang saya punya dan tak lupa manut pada arahan para guru yang memang diharapkan untuk ditiru oleh kita. Tak perlu iri dengan keistimewaan, tapi selalu belajar istiqomah melakukan kebaikan yang kita yakini akan berdampak pada kebarokahan.

Semoga kita mampu berproses dengan baik, dan selanjutnya membiarkan tuhan yang memilihkan keistimewaan apa yang dianugerahkan oleh-Nya, bagi kita.

Muhammad Muslim Hanan
Santri Alumnus PIM Kajen dan PP Kwagean Kediri

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Karamah