Eksistensi Literasi Santri Di Tengah Badai Digitalisasi

Ada maqolah keren begini, Lau kana nurul ‘ilmi yudraku bil-muna, maa kana yabqa fil-bariyati jahilun, “Seandainya ilmu itu bisa diraih hanya dengan berangan-angan maka tak satu pun orang bodoh di dunia.”

Ilmu merupakan mata pencaharian bagi semua umat manusia di bumi ini. Perjalanan demi menuntut ilmu itu amatlah panjang, lama dan mahal, butuh kesabaran, keikhlasan, ketakwaan dan pengorbanan serta kesungguhan untuk mendapatkannya.

Sebagai santri, saya meyakini menjadi penulis itu sebuah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih semua orang. Menulis dapat merangsang pemikiran, meluapkan gagasan dan menyampaikan pesan.

Dengan menebar nilai-nilai toleransi melalui gerakan literasi dewasa ini, semakin merebak di berbagai ruang-ruang media digital. Para pengguna media yang notabene-nya kaum muda termasuk juga kaum santri didalamnya, berapa banyak karya tulis yang ditulis oleh orang-orang pesantren dan itu telah memupuk narasi-narasi keislaman melalui karya tulisan dan itu menjadi pertanda bahwa santri berperan, berkontribusi serta peduli terhadap perkembangan dunia literasi di Indonesia hari ini.

Bagi para praktisi media dan teoritisi komunikasi sendiri, yang paling penting adalah mencermati karakteristik masing-masing medium informasi dan komunikasi massa, serta menyiasati karakteristik tersebut untuk mengoptimalkan fungsi dan peran jurnalis yang santri, (berlatar-belakang orang-orang pesantren), atau santri yang menjadi jurnalis di tengah siklus informasi masyarakat digital pada dewasa ini.

Siaran berita televisi misalnya, memang bisa saja sungguh-sungguh, dan serius. Tapi bisa juga membodohi masyarakat, berpura-pura, dan terbuka untuk dimanipulasi informasinya dan tidak benar-benar berdasarkan fakta. Kalau bahasa santri-nya, tidak ber-tabayyun untuk memastikan pendistribusian informasi tersebut bukan berita hoaks.

Maka, di sinilah letak urgensi moralitas kehadiran moralitas mutlak yang diperlukan dalam produksi dan sajian konten berita baik di televisi, portal media online, sehingga khalayak mendapatkan aspek terbaik dari budaya baru audio visual yang sedang berkembang dengan sangat pesat.

Baca Juga:  Dari Nahwu Ilmi ke Nahwu Ta'limi

Dalam hemat penulis, menjadi wartawan sukses itu harus peka dan berani mencoba serta rajin menggali ide-ide yang akan dituangkan baik dalam tulisan, baik berita, opini ataupun cerita dan juga yang akan di-audio visual-kan melalui televisi.

Pasalnya, para santri yang secara serius menggeluti dunia kepenulisan atau akan menjadi seorang jurnalis juga harus mempunyai digital skills, mengingat jurnalisme dewasa kini telah bertransformasi ke industri digital.

Dengan menulis, para santri memiliki support system-nya sendiri serta berangkat dari ghirah untuk berkhidmah melalui karya terhadap perkembangan dunia literasi hari ini. Karya tulis dalam bentuk apapun, fiksi maupun nonfiksi yang ditulis oleh para santri merupakan bentuk bakti kaum santri kepada negeri tercinta Indonesia.

Rasanya tidak terlalu berlebihan, jika dikatakan bahwa tidak cukup jika seorang santri di zaman kemudahan digital kini yang sudah hidup berdampingan dengan alat-alat teknologi itu hanya mengandalkan mimbar-mimbar di masjid saja sebagai panggung orasi mereka untuk menyebarkan dakwah serta melanjutkan ajaran-ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin kepada masyarakat.

Tetapi juga perlu para santri menyampaikan esensi berdakwah tersebut melalui tulisan atau narasi-narasi yang menyejukkan umat dalam hal ini khususnya para warga nahdliyin yang dapat mendorong semangat umat dan menjadikannya sebuah karya tulis yang enak dibaca.

Sebagai organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) telah aktif berperan dalam meningkatkan pemberdayaan umat Islam di berbagai aspek kehidupan. Gerakan NU di bidang perbaikan keagamaan (diniyah) pun sudah sangat dirasakan manfaatnya oleh seluruh komponen bangsa, namun dalam gerakan kemasyarakatan dinilai belum optimal, dan masih perlu untuk memaksimalkan peran aktifnya NU dalam meningkatkan gerakan kemasyarakatan. Termasuk di ranah pemikiran (intelektual) yang penulis meyakini, bahwa kita di Indonesia ini memiliki banyak sekali pemikir-pemikir islam yang dapat dijadikan teladan dengan produk-produk karya tulisannya.

Baca Juga:  Penglepasan Delapan Santri MA TBS Kudus untuk ke Al-Azhar

Perjuangan bagi warga nahdliyin bukanlah hal yang baru, perjuangan telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para warga NU di manapun berada. Warga Nahdlatul Ulama (NU) dari level lapis bawah sampai atas mulai menyadari adanya “transformasi” pergeseran orientasi perjuangan keumatan ke arah pemikiran yang visi-misinya adalah kemanusiaan.

Tentu ada beragam peran kaum santri yang meliputinya serta gagasan-gagasan khas para santri yang memberi asupan intelektual dan benefit spiritual serta membentuk laku akhlakul karimah, ialah apa saja yang mendefinisikan sesuatu gagasan, pemikiran dan kebebasan berpendapat yang didasari oleh berbagai disiplin ilmu. Hal ini akan membuat santri lebih produktif di zaman digital dan buah pemikiran, gagasan-gagasan segar yang dituangkan menjadi tulisan oleh kaum santri akan menjadi arah baru bagi peradaban literasi di kalangan santri itu sendiri.

Al-‘Ilmu shaidun, “Ilmu itu binatang buruan”, ia liar, mudah terlepas dalam ingatan, butuh tali yang kuat untuk mengikatnya, seperti halnya tulisan dan aktivitas membaca menjadi pusat yang takkan bisa dihindari oleh para penulis.

Menulislah, karena mau menulis bukan ingin menjadi penulis. Sebab kita menulis bukan semata-mata agar dipahami, melainkan untuk memahami. []

Tangerang Selatan, 23 Mei 2023.

Abdul Majid Ramdhani
Penulis merupakan lulusan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok dan melanjutkan mondoknya di Pesantren Al-qur'an Syihabudin Bin Ma'mun, Caringin Banten. Bagi diri penulis, "Menulis bisa menjadikanmu optimis, romantis & humanis". Penulis juga lulusan KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) di kampus STAI INDONESIA JAKARTA dan Penulis buku "Jurnal: Jurus Nulis Anak Milenial".

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini