Siapa yang suka dengan ketidakpastian. Di tengah segala kesimpangsiuran yang terjadi saat ini, kepastian adalah hal yang amat kita harapkan.

Pandemi global Covid-19 seakan menunjukkan bahwasanya tatanan dunia saat ini belum sangat mapan. Kemajuan teknologi dan pengetahuan yang selalu dibanggakan oleh kebanyakan orang, tidak mampu memberikan kepastian bagaimana cara yang paling efektif untuk menghentikan pandemi Covid-19 .

Tulisan ini mengajak para pembaca untuk menyaksikan ketidakpastian dunia di tengah pandemi Covid-19. Penulis meminjam konsep dromologi dari Paul Virillio. Dromologi menunjukkan sejauh mana kecepatan menaklukkan berbagai hal seperti transportasi,  komunikasi, media, dan lain-lain. Dalam hal ini, laju perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menampakkan sisi gelapnya. Salah satunya adalah lahirnya media sosial yang membawa bentuk baru dalam berkomunikasi. Hal ini menyebabkan seseorang dapat mengetahui segala informasi di dunia dengan sangat cepat dan mudah. Di tengah meluasnya pemberitaan seputar Covid-19, ternyata menimbulkan kekhawatiran baru, yakni terjadinya bias antara kebenaran dan kebohongan, hingga mengarah pada kondisi yang lebih menakutkan yakni lahirnya dromologi kebohongan.

Ketidakpastian di Tengah Pandemi Covid-19

Semua negara di dunia dibuat bingung oleh kemunculan pandemi bernama Covid-19. Sampai saat ini, belum ada negara yang punya skema efektif untuk membuat masyarakatnya aman dari virus tersebut. Negara Swedia misalnya memilih menjalani kehidupan normal di tengah pandemi dengan mengandalkan herd immunity. Namun, Swedia kini harus menghadapi kenyataan bahwa jumlah korban meninggal akibat wabah itu perlahan meningkat. Data John Hopkins University memperlihatkan tingkat kematian di Swedia kini lebih tinggi dari negara-negara tetangga seperti Denmark, Norwegia dan Finlandia. Jumlah kasus Covid-19 di Swedia mencapai 18.177, dengan korban meninggal berjumlah 2.192 orang (CnnIndonesia, 2020). Selain itu, di lansir dari KumparanNews (2020) China awalnya dianggap berhasil melakukan skema lockdown dengan tidak ditemukan adanya kasus infeksi baru. Pada akhirnya, China justru menemukan kasus baru setelah lockdown kembali dibuka. Skema lockdown tidak bisa memberikan jaminan yang efektif. Lockdown berimbas pada aspek lain, salah satunya adalah aspek ekonomi yang lumpuh total. Orang mungkin akan terhindar dari kematian karena Covid-19. Namun, ia akan mati karena kelaparan. Seperti halnya yang terjadi di India, di lansir dari Tirto.id (2020) kebijakan lockdown menyebabkan kerusuhan luar biasa setelah diterapkan dalam waktu kurang dari seminggu. Dua kasus paling mencolok adalah kelaparan massal dan kematian orang-orang kota yang mencoba pulang kampung.

Baca Juga:  Menyikapi Pandemi Covid-19 Sebagai Remaja Muslim di Zaman Digital

WHO selaku Organisasi Kesehatan Dunia yang memiliki otoritas dalam menjawab segala persoalan Covid-19, tidak mampu memberikan kepastian bagaimana cara mencegahnya ataupun bagaimana cara menyembuhkanya. WHO harus mengubah kebijakanya. Awalnya, merekomendasikan penggunaan masker hanya untuk orang sakit dan orang yang merawat pasien, kini mendukung penggunaan masker untuk semua orang di tengah penyebaran pandemi covid-19. Tak hanya itu, kehadiran vaksin yang disinyalir sebagai cara paling efektif untuk mengatasi pandemi virus ini tidak kunjung di beri kepastian kapan akan ditemukan. WHO hanya memprediksi vaksin tersebut baru akan tersedia pada akhir 2021. Hal yang lebih menyedikan adalah ketika WHO mengatakan kepada masyarakat untuk tidak terlalu banyak menaruh harapan terhadap kehadiran vaksin tersebut. Alasannya vaksin yang ada saat ini masih ada di fase satu, yaitu proses pengembangan. Selanjutnya, vaksin harus melewati fase dua dan tiga untuk memastikan bahwa vaksin tersebut aman dan bisa diandalkan. Jika vaksin sudah ditemukan dan sesuai, akan segera diproses dan didistribusikan untuk massal. Tapi, proses itu sangat panjang dan butuh waktu yang cukup lama (DetikHealth, 2020)

Percepatan Isu Covid-19 dalam Sudut Pandang Paul Virilio

Istilah dromologi diperkenalkan oleh Paul Virilio, seorang teoritisi sosial berkebangsaan Prancis. Dalam kajiannya, Virilio mengindikasikan minat utamanya pada “pentingnya kecepatan yang sangat menentukan (Ritzer, 2003:231). Dromologi menunjukkan sejauh mana kecepatan menaklukkan semua hal : transportasi, produksi, komunikasi, media, daerah perkotaan dan pedesaan, pekerjaan dan waktu senggang, seni dan bisnis. (Hauer 2014)

Belakangan, masyarakat dunia ramai disuguhi pemberitaan seputar Covid-19. Media-media berlomba menghasilkan pemberitaan yang menarik seputar virus tersebut. Tak hanya itu, hadirnya media sosial, kini menjadi salah satu sumber informasi terdepan, terkini (update)  dan aktual. Media sosial yang memiliki basis pengguna terbanyak serta memilki fitur share, menambah laju perkembangan informasi.

Baca Juga:  Belajar Cara Belajar di Hari Pendidikan Nasional

Meluasnya pemberitaan seputar Covid-19 dapat dipahami sebagai konsekuensi dari percepatan kemajuan teknologi informasi yang menyebabkan masyarakat dunia bergerak dan beralih dengan sangat cepat. Awalnya, masyarakat era tradisional beralih ke industrialisasi, hingga ke era informasi yang berujung pada hadirnya masyarakat informasi yang terjadi belakangan ini. (Ahmad 2013). Masyarakat informasi diartikan sebagai era di mana masyarakat dapat menyebarkan dan menerima informasi dengan sangat cepat. (Lubis 2014) Terlebih, saat ini internet telah merambah ke seluruh dunia hingga ke pelosok desa. Hal ini menyebabkan perubahan atas susunan yang spasial, “distingsi di sini dan di sana tak lagi berarti apa-apa. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan apakah seseorang tinggal di kota, pinggiran, atau daerah pedesaan. (Ardiansyah Bagus dan Dkk, 2019). Seseorang dapat mengakses dan membagikan informasi dari mana saja, tanpa berfikir dia sedang berada di desa ataupun kota.

Lahirnya Dromologi Kebohongan

Dampak dari pola hidup masyarakat yang didasarkan pada kecepatan teknologi adalah masyarakat benar-benar telah terperangkap dan kecanduan alat-alat teknologi dan paradigma masyarakat telah dibentuk olehnya. Persoalan muncul, ketika meluasnya informasi seputar Covid-19 di tengah pandemi. Kecepatan informasi yang diterima masyarakat di seluruh dunia mengakibatkan terjadinya bias antara kebenaran dan kebohongan. Hal yang ditakutkan dari kesimpangsiuran informasi tersebut adalah mengarahnya pada suatu kondisi yang disebut sebagai dromologi kebohongan.

Suatu kondisi di mana orang tidak lagi berfikir, menelaah, atau memastikan apakah informasi itu benar atau tidak, yang mereka lakukan hanyalah menyebarkan informasi tersebut. Bayangkan bila berita yang belum di-verifikasi, di-check and recheck tersebut adalah informasi bohong. Kemudian informasi itu dikonsumsi dan dibagikan kepada orang banyak, maka yang terjadi adalah konsumsi berita bohong secara massal. Dilansir dari Surabaya.net (2020) Seorang ibu rumah tangga berisinial NF harus berurusan dengan polisi, karena menyebarkan berita bohong soal Covid-19. Tersangka memposting informasi kalau ada pasien suspect virus corona yang tengah dirawat di RSUD Dr Soetomo Surabaya. Tak hanya itu, di lansir dari Detiknews (2020) Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengatakan saat ini ada 554 isu informasi berita bohong yang tersebar di tengah pandemi virus Covid-19. Dalam konteks logika dromologi, fenomena penyebaran informasi bohong yang lebih cepat ketimbang berita fakta, dapat dilihat sebagai konsekuensi logis dari kejayaan prinsip kecepatan dalam realitas masyarakat postmodern. Logika dromologi mendorong untuk menjadi yang tercepat, pertama, dan terdepan. [HW]

Ade Prasetia Cahyadi
Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Gadjah Mada

    Rekomendasi

    1 Comment

    1. […] Al-Qur’an dan Hadits tentang orang-orang yang berbohong, lalu Ulama menyimpulkan bahwa berbohong hukumnya haram. Akan tetapi, ada beberapa kondisi dibolehkan untuk berbohong atau bahkan wajib […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini