Baghdad Sebagai Pusat Peradaban Islam: Perkembangan Intelektual Peradaban

Dalam raingkaian sejarah Islam diketahui bahwa umat Islam pada masa abad klasik telah mempersembahkan pada dunia suatu kemajuan peradaban dan perkembangan intelektual yang cukup tinggi selama enam abad dari tahun (650 M -1250 M) (Badri Yatim, 2016). Puncak kejayaan Islam ditandai dengan kepemimpinan pada masa Dinasti Abbasiyah berkuasa. Kemajuan peradaban Islam tersebut di atas tidak lepas dari peran kota Baghdad yang menjadi ibu kota pada era khalifah Abbasiyah kedua. Kota ini didirikan oleh Khalifah al-Mansur (754-775 M) pada tahun 762 M.

Kemajuan ilmu pengetahuan dimulai pada dengan adanya penerjemahan teks-teks asing khususnya bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, serta berdirinya Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Perpustakaan Baitul Hikmah. Pendirian sekolah-sekolah ilmiah sebagai hasil kebebasan berpikir. Munculnya para tokoh cendekiawan yang banyak menuliskan kitab dalam bidang agama dan pengetahuan umum.

Daulah Abbasiyah menjadikan Baghdad sebagai pusat peradaban Islam dan memunculkan berbagai perkembangan intelektual dan perkembangan fisik. Berbagai pengaruh asing menghasilkan karya dalam banyak bahasa, sehingga memunculkan ilmu pengetahuan, filsafat, dan banyak bidang lainnya (Arafah Ibrahim,2021).

Al-Manshur tercatat membangun kota baru yang dapat memberi perlindungan dan sesuai untuk dijadikan ibukota kerajaan yang besar. Dengan demikian, Baghdad menjadi pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik (Benson Bobrick,2013).

Sebutan nama lain kota Baghdad adalah kota Madinah Assalam yang merupakan nama resmi yang dipakai pada percetakan uang dinar maupun dirham, alat timbang, serta keperluan resmi lainnya. Namun penduduk cenderung menggunakan istilah lama “Baghdad” yang merujuk kepada salah satu kampung Nasrani Aramaik (Nasrani Assyria) (Agus Waspodo,2015).

Kemajuan kota Baghdad dipengaruhi oleh Khalifah Daulah Abassiyah terutama dalam masa kepemimpinan khalifah Harun Al-Rasyid pada masa kepemimpinanya kota Baghdad menjadi pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, pemikiran dan peradaban Islam, perdagangan, perekonomian, dan politik. Kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Al-Ma’mun Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing dilakukan.

Baca Juga:  Post Tradisionalisme Islam: Suatu Diskursus Kaum Intelektual Muda NU

Al-Ma’mun juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya terbesarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Khalifah Al-Ma’mun juga melengkapi Baitul Hikmah berbagai fasilitas untuk menunjang peranannya sebagai pusat ilmu pengetahuan (Hitti,2005).

Berkembangnya kemajuan intelektual diawali dengan penerjemahan karya-karya berbahasa Persia, Sanssekerta, Suriah, dan Yunani ke bahasa Arab. Dimulai dengan karya mereka sendiri tentang ilmu pengetahuan, filsafat atau sastra. Ilmu pengetahuan dan kesusastraan yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab kemudian dikembangkan oleh para sarjana muslim. Dari Yunani banyak diterjemahkan buku-buku yang berhubungan dengan filsafat, mantiq, tatanegara (politik) dan astronomi, Dari India juga banyak diterjemahkan buku-buku yang berhubungan dengan ilmu obat-obatan, ilmu hisab (hitung), astronomi.

Dari Persia, banyak diterjemahkan buku-buku yang berhubungan dengan ilmu astronomi, hukum, sejarah, kesenian musik, kaligrafi atau yang disebut seni menulis dan kesusteraan, Dari Mesir banyak diterjemahkan buku-buku yang berhubungan dengan ilmu kimia, dan anatomi (biologi), Dari Kaldani, banyak diterjemahkan buku-buku yang berhubungan dengan ilmu pertanian (Hitti,2005).

Dalam berkembangya suatu peradaban pastilah ada tokoh -tokoh yang berperan besar di dalamnya. Adapun tokoh-tokoh yang berperan dalam Pembangunan sebuah peradaban kota Baghdad diantaranya sebagai berikut:

Ilmu Filsafat
  1. Al-Ghazali (1085-1101 M) dikenal sebagai Hujjatul Islam, karangannya Al-Munqizh Minadh Dhalal, TahafutAl-Falasifah, Mizanul Amal, Ihya Ullumuddin.
  2. Ibnu Rusyd (1126-1198 M) dikenal dengan Averros, karangannya: Al-Kuliyah fi Ath-Thib, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah.
  3. Ibnu Shina (980-1037 M). Terkenal dengan Avicenna, yang menghidupkan filsafat Yunani aliran Aristoteles dan Plato. karangan-karangan yang terkenal antara lain: Asy-Syifa, dan Al-Qanun fi Ath-Thib.
Bidang kedokteran
  1. Jabir bin Hayyan (wafat 778 M). dikenal sebagai bapak kimia.
  2. Hurain bin Ishaq (810-878 M). ahli mata yang terkenal disamping sebagai penterjemah bahasa asing.
  3. Ar-Razi atau Razes (809-873 M). Penulis buku mengenai kedokteran anak. karangan bukunya yang terkenal berjudul Al Hawi yang berbicara tentang ilmu kedokteran.
Baca Juga:  PCNU Kota Malang Gelar Halaqah Fikih Peradaban dan Pengukuhan Tiga Lembaga
Bidang Matematika
  1. Al-Khawarismi adalah pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar wal Muqabalah, ilmu hitung), penemu angka (0) Logaritma.
  2. Abu Al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin Al-Abbas (940-998 M) terkenal sebagai ahli ilmu matematika (Munir Amin,2013).
Bidang Astronomi dan ilmu kimia
  1. Jabir Al-Batani (w. 319) sebagai pencipta teropong bintang pertama. Karyanya yang terkenal adalah kitab Ma’rifat Mathiil Buruj Baina Arbai Al-Falak.
  2. Raihan Al Biruni (w. 440 H). karyanya adalah At-Tafhim li Awal AsSina At-Tanjim.
  3. Abu Manshur Al-Falaki (w. 272 H) karyanya yang terkenal adalah Isbat Al-Ulum dan Hayat Al-Falak.
Sastra
  1.  An-Nasyasi, penulis buku Alfu Lailah wa Lailah (Munir Amin,2013).
Ilmu Tafsir
  1. Ibnu Jarir ath Tabari.
  2. Ibnu Athiyah.
  3. Muhammad bin Ishak (Syalabi,2003).
Ilmu Hadits
  1. Imam Bukhori (194-256 H) karyanya Shahih Al-Bukhari.
  2. Imam Muslim (wafat 231 H) karyanya Shahih Muslim.
  3. Ibnu Majah (wafat 273 H) karyanya Sunan Ibnu Majah.
  4. Abu Dawud (wafat 275 H), karyanya Sunan Abu Dawud.
  5. Imam An-Nasai, karyanya Sunan A-Nasai.
  6. At Tarmidzi, Imam Baihaqi.
Ilmu Bahasa
  1. Imam Sibawaih (w. 183).
  2. Abu Zakaria Al-Farra (w. 208 H).
Ilmu Fiqih
  1. Imam Malik bin Anas (713-795 M).
  2. Imam Syafi‟I (767-820 M)
  3. Imam Abu Hanifah (700-767 M)
  4. mam Ahmad bin Hambal (780-855 M) (Susmihara,2013).

Dari pemaparan diatas dapat kita simpulkan, bahwa kota Baghdad dalam kepemimpinan Daulah Abbasiyah memiliki pengaruh yang besar terhadap ilmu pengetahuan sebagai kemajuan peradaban Islam. Pada masa itu kota ini menjadi kunci dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan pemikiran baru di dunia islam, baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Para cendekiawan, ilmuwan, dan filsuf dari berbagai latar belakang budaya berkumpul di kota ini untuk bertukar gagasan dan menyumbangkan karya-karya mereka, yang pada akhirnya berkontribusi besar terhadap peradaban Islam. []

Abiyyu Padma Widya Cakti
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini