Press ESC to close

Satu-satunya Perempuan di Jajaran Rektorat, Dr. Wafi Ali Hajjaj Ingatkan Mahasiswa At-Taqwa: IPK Bukan Segalanya

Bondowoso, (Pesantren.Id) – Di tengah tuntutan mahasiswa untuk meraih prestasi akademik, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas At-Taqwa Bondowoso, Dr. Wafi Ali Hajjaj, M.Pd.I., mengingatkan bahwa keberhasilan seorang mahasiswa tidak cukup diukur dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) maupun selembar ijazah.

Pesan tersebut disampaikan Dr. Wafi saat memberikan materi Orientasi Akademik dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MB) Universitas At-Taqwa Bondowoso 2026, Jumat (4/9/2026).

Sebagai satu-satunya perempuan dalam jajaran pimpinan rektorat Universitas At-Taqwa Bondowoso, Dr. Wafi membawa pesan akademik yang cukup tegas kepada mahasiswa baru. Ia mendorong mahasiswa agar tidak terjebak pada orientasi kuliah yang hanya berakhir pada nilai, jumlah SKS dan gelar sarjana.

Menurutnya, kuliah harus dipandang sebagai investasi masa depan. Waktu, tenaga dan pikiran yang diberikan mahasiswa selama berada di perguruan tinggi harus menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar angka di dalam transkrip akademik.

“Kuliah bukan sekadar untuk menyenangkan orang tua, mencari uang, mencari jodoh, atau mengisi waktu. Kuliah merupakan investasi masa depan. Waktu, tenaga, dan pikiran yang dikorbankan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan di masa mendatang,” ujar Dr. Wafi.

Ia menilai mahasiswa perlu memiliki kesadaran mengenai alasan mereka berada di perguruan tinggi. Kesadaran tersebut kemudian harus diwujudkan melalui proses pendidikan yang serius dan bertanggung jawab.

Dr. Wafi menyebut terdapat sejumlah karakter yang harus dibangun mahasiswa agar mampu berkembang. Di antaranya komunikatif, proaktif, gigih, etis dan kooperatif.

Mahasiswa harus mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, membangun relasi, menciptakan peluang dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Namun, kemampuan intelektual menurutnya harus tetap berjalan bersama moral dan etika. Kecerdasan akademik tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan kemampuan bekerja sama maupun tanggung jawab sosial.

“Mahasiswa sukses memiliki karakter komunikatif, proaktif dan gigih, etis dan kooperatif. Kecerdasan intelektual harus berjalan bersama moral dan etika,” jelasnya.

Dr. Wafi juga mengingatkan mahasiswa baru agar tidak terjebak pada kebiasaan menginginkan hasil secara instan. Salah satu persoalan yang harus dilawan mahasiswa sejak awal adalah kemalasan.

Kebiasaan menunda tugas, tidak mampu menentukan prioritas, menghindari proses dan berharap mendapatkan hasil secara cepat dinilai dapat menghambat perkembangan mahasiswa.

Karena itu, mahasiswa didorong membangun kedisiplinan dan manajemen waktu sejak semester pertama.

“Di perguruan tinggi, tingkat kemandirian, kedisiplinan dan tanggung jawab jauh lebih tinggi. Mahasiswa menjadi nahkoda bagi dirinya sendiri,” tegas Dr. Wafi.

Pernyataan tersebut menjadi penekanan bahwa mahasiswa tidak lagi dapat sepenuhnya bergantung kepada dosen sebagaimana ketika berada di bangku sekolah. Mahasiswa harus memiliki kemampuan mengatur dirinya sendiri, menentukan prioritas dan bertanggung jawab terhadap pilihan akademiknya.

Di sisi lain, kehidupan mahasiswa juga diminta tetap seimbang. Menurut Dr. Wafi, mahasiswa memiliki tiga ruang yang perlu dijaga, yakni akademik, sosial dan personal.

Akademik berkaitan dengan perkuliahan, tugas dan cita-cita masa depan. Sementara kehidupan sosial mencakup pertemanan, organisasi dan jejaring. Sedangkan aspek personal berkaitan dengan keluarga, kesehatan mental dan waktu istirahat.

Keseimbangan tersebut menjadi penting agar mahasiswa tidak hanya tumbuh secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan sosial dan kehidupan personal yang sehat.

Dalam materi Orientasi Akademik, Dr. Wafi turut memperkenalkan penerapan Outcome Based Education (OBE) di Universitas At-Taqwa Bondowoso.

Melalui pendekatan tersebut, pendidikan tidak hanya berorientasi pada apa yang dipelajari mahasiswa, tetapi juga pada apa yang mampu dilakukan mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.

OBE mencakup profil lulusan, capaian pembelajaran yang terukur, bahan kajian dan mata kuliah yang relevan, serta metode pembelajaran dan asesmen yang inovatif.

Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menghafal materi untuk mendapatkan nilai, tetapi mampu mengubah proses pembelajaran menjadi kompetensi yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata.

Dr. Wafi juga memberikan pemahaman mengenai berbagai prosedur akademik yang harus diketahui mahasiswa sejak awal, termasuk registrasi dan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS).

Mahasiswa perlu memperhatikan mata kuliah yang ditawarkan program studi melalui SIPINTER, mengisi KRS secara mandiri, berkonsultasi dengan Dosen Wali, memperoleh persetujuan hingga mendapatkan pengesahan.

Dosen Wali sendiri memiliki peran sebagai pembimbing akademik, pengontrol kelancaran studi, pemberi arah dan solusi serta validator dokumen akademik mahasiswa.

Mahasiswa juga diingatkan agar tidak mengabaikan status akademiknya. Mahasiswa aktif memiliki hak memperoleh layanan akademik, sementara cuti harus ditempuh melalui prosedur resmi. Ketidakaktifan selama dua semester berturut-turut dapat menyebabkan batalnya status mahasiswa atau Drop Out sesuai ketentuan yang berlaku.

Tidak hanya berbicara mengenai sistem akademik, Dr. Wafi memberikan perhatian khusus terhadap persoalan integritas.

Mahasiswa diminta menjunjung kejujuran, menolak plagiarisme dan berbagai bentuk kecurangan serta menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara etis.

Menurutnya, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan sebagai jalan pintas untuk menghilangkan proses berpikir mahasiswa.

“Jangan takut bertanya, jangan malu mencoba, dan jangan lelah memperbaiki diri,” pesannya.

Dr. Wafi juga mendorong mahasiswa memanfaatkan berbagai ruang pengembangan diri selama berada di kampus. Mahasiswa dapat membangun pengalaman melalui organisasi, mengikuti kompetisi, melakukan riset hingga mengembangkan jejaring.

Menurutnya, seluruh pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa sebelum memasuki dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat.

Perjalanan mahasiswa pun tidak berhenti pada fase awal perkuliahan. Pada tahap awal, mahasiswa perlu membangun adaptasi, fondasi akademik dan literasi digital. Pada tahap berikutnya, mahasiswa dapat memperkuat pengalaman melalui organisasi, kompetisi dan riset.

 

 

Sementara ketika memasuki fase akhir, mahasiswa mulai diarahkan mempersiapkan tugas akhir, magang, publikasi dan karier profesional.

 

 

Dari seluruh proses tersebut, Dr. Wafi kembali menegaskan bahwa IPK tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan mahasiswa.

“Nilai akademik penting, tetapi karakter, kompetensi, pengalaman, dan kontribusi juga sangat menentukan,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa baru yang baru memasuki dunia perguruan tinggi. Mereka tidak hanya dituntut untuk mampu memperoleh nilai akademik yang baik, tetapi juga harus mulai membangun kualitas diri secara menyeluruh.

Menurut Dr. Wafi, mahasiswa yang hanya mengejar angka tanpa membangun karakter dan kompetensi berpotensi kehilangan banyak kesempatan dalam proses pendidikan.

Karena itu, mahasiswa harus berani bertanya, mencoba, berorganisasi, membangun relasi, mengikuti kegiatan pengembangan diri dan terlibat dalam proses yang dapat memperluas pengalaman.

Ia kemudian menitipkan pesan kepada mahasiswa baru agar menjadi pribadi yang aktif dan terus berkembang.

“Jadilah mahasiswa yang hadir, aktif, berintegritas, dan terus belajar.”

Sebagai pimpinan yang membidangi akademik, Dr. Wafi menegaskan bahwa kampus telah menyediakan berbagai sistem dan ekosistem pendidikan yang dapat dimanfaatkan mahasiswa. Namun, keberhasilan pada akhirnya sangat bergantung pada kesungguhan mahasiswa dalam menggunakan berbagai kesempatan tersebut.

“Universitas menyediakan ekosistem; keberhasilan Anda ditentukan oleh bagaimana Anda memanfaatkannya,” pungkasnya.

Materi Orientasi Akademik tersebut menjadi salah satu bekal mahasiswa baru Universitas At-Taqwa Bondowoso untuk memahami bahwa kehidupan perguruan tinggi bukan sekadar perpindahan dari bangku sekolah menuju bangku kuliah.

Lebih jauh, mahasiswa sedang memasuki proses pembentukan diri. Mereka dituntut menjadi pribadi yang mandiri, memiliki kompetensi, berintegritas, mampu membangun relasi serta siap memberikan kontribusi.

Pada akhirnya, IPK mungkin tercatat di atas kertas, tetapi karakter, kompetensi, pengalaman dan kontribusi akan menjadi bekal yang dibawa mahasiswa ketika kembali ke tengah masyarakat. (Rif)

Rifky Gimnastiar

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Aktif di lingkungan Organisasi Nahdlatul Ulama' (NU), Ikatan Santri Alumni Salafiyah-Syafi'iyah (IKSASS), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Aktivitasnya banyak mewarnai dunia pesantren, gerakan kemahasiswaan, kehidupan masyarakat, dan pengabdian kepada umat, sembari menekuni bidang akademik dan pers.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Politisi Asal Pesantren Banyuwangi Dorong Warga Bondowoso Tak Tunggu Sakit Untuk Cek Kesehatan
NYAI HJ. QOMARIYAH: SOSOK PENDIAM BERJIWA TANGGUH (Catatan Pertama pada Haul Simbah Nyai Hj. Qomariyah binti KH Abdul Karim, Lirboyo)
DPRD JATIM dan Akademisi Bondowoso Perkuat Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045
Wabup Ulfiyah Dorong Santri Putri Aktif Berorganisasi dan Berani Mengembangkan Potensi Diri
@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.