Press ESC to close

Ramadan Pendidikan Akhlak Menuju Generasi Emas 2045

Ketika kita berbicara tentang “Indonesia emas tahun 2045”, kita akan melihat Indonesia seperti yang diinginkan para pendirinya. Visi ini secara konstitusional dapat dilihat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 31 Ayat 3.

Dalam alinea keempat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan bahwa salah satu tujuan pembentukan negara Indonesia adalah “Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.” Hal yang sama berlaku untuk pasal 31 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa “Pemerintah memberikan layanan pendidikan untuk rakyat Indonesia secara keseluruhan yang tujuannya adalah untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.”

 Jika dikaitkan dengan Undang-Undang Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 kita juga membaca bahwa “Tujuan dan fungsi pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, bertanggungjawab terhadap masyarakat, masa depan bangsa dan negara, dan generasi yang memiliki sikap dan jiwa demokratis.”

Jika kita melihat hubungan antara ibadah puasa dan tujuan didirikannya negara, akan ditemukan bahwa ada hubungan yang kuat antara keduanya dan tujuan pendidikan nasional. Menurut pendapat beberapa ulama, seperti Sayyid Sabiq, dalam “Fiqh As-Sunah”, tujuan dari syariat ini adalah untuk mendidik dan menuntun manusia agar manusia hidup bahagia dan menjadi makhluk Allah yang mulia.

Satu ibadah yang tidak hanya sekedar merupakan sebatas ritual belaka, melainkan merupakan sarana dan proses pendidikan agar kita menjadi hamba Allah yang ber-akhlakul karimah. Dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 70 Allah Swt. berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ ۝٧٠

 Artinya: “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’ [17]: 70).

Jika ayat ini dikaitkan dengan ibadah puasa, kita akan mendapatkan penjelasan dari banyak kitab tafsir yang di dalamnya dinyatakan bahwa puasa adalah “ibadah al-tarbawiyah” dan “madrasah li al-takqwa”.

Adalah satu ibadah pendidikan yang mengajarkan kita cara belajar untuk menjadi manusia bertakwa. Akan tetapi kemudian Allah Swt. memberikan keterangan lebih lanjut bagaimana agar manusia itu potensi takwanya berkembang dan potensi buruknya dapat dihapuskan. Dalam Al-Qur’an dinyatakan:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ۝٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ۝١٠

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syam [91]: 9-10).

Di dalam Al-Qur’an kata “nafs” paling tidak memiliki empat pengertian. Pertama, nafs berarti kehidupan, yang berkaitan dengan ciri-ciri makhluk hidup yaitu mereka yang masih bernafas.

Kedua, nafs berarti individu manusia. Sebagai individu, yang dalam Psikologi Humanistik disebut sebagai “uniq individual” atau manusia yang unik karena memiliki sifat-sifat yang tidak sama dengan manusia yang lainnya.

Ketiga, nafs berarti nafsu. Ini yang seringkali dimaknai mendorong manusia untuk berperilaku tidak baik. Dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 53 Allah SWT. berfirman:

وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٥٣

Artinya: “Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 53).

Keempat, nafs berarti dorongan-dorongan atau sifat-sifat yang membuat manusia melakukan sesuatu. Ini juga yang sering disebut dengan jiwam sehingga ilmu jiwa di dalam bahasa Arab sering disebut dengan “ilmun nafs”. Adalah ilmu yang berkaitan dengan sifat manusia, karakter manusia, dan kepribadian yang menjadi sebab manusia melakakukan sesuatu.

Dalam ibadah puasa, kita diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk membersihkan jiwa dan rohani kita dari sifat-sifat yang buruk yang mendorong untuk melakukan perbuatan buruk, sehingga orang-orang yang mulia dapat jatuh ke derajat yang paling rendah.

Syariat diciptakan oleh Allah Swt. untuk membantu manusia tetap berada pada derajat yang mulia. Tujuannya adalah agar manusia memiliki jiwa yang bersih dan memiliki sifat-sifat yang utama, sehingga mereka dapat tetap berada pada kemuliaannya dan ber-akhlakul karimah.

Lalu bagaimana dengan generasi emas Indonesia 2045?

Menurut Prof Abdul Mukti, generasi emas adalah generasi yang cerdas, “knowledgeable person”, manusia yang serba tahu, dan memiliki iman serta ketakwaan. Karena menurut Al-Qur’an, mereka yang beriman dan berilmu pengetahuan adalah kunci kemuliaan manusia dan kejayaan bangsa. Al-Qur’an menyatakan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Kedua, generasi emas adalah generasi yang memiliki banyak kemampuan dan keterampilan, yang memungkinkan mereka untuk menjadi generasi yang mandiri. Mereka juga akan menggunakan kekayaan alam untuk menghasilkan uang dan pendapatan, yang meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran negara.

Ketiga, generasi emas adalah generasi yang rendah hati, bukan generasi yang sombong, tetapi generasi yang selalu menghasilkan kebaikan di Bumi. Generasi yang senantiasa berada pada jalan yang benar, senantiasa berani mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah.

 Puasa membentuk generasi emas karena mengajarkan kita untuk menjadi orang yang mampu menahan diri, tidak rakus, bersyukur atas apa yang kita makan, dan berusaha meningkatkan diri kita sendiri dengan berbagi dengan sesama.

Erich Fromm menyebutkan bahwa manusia mempunyai kecenderungan yang dia sebut dengan “having mood” dan “being mood”. Ada manusia yang punya keinginan yang sangat kuat, nafsu yang sangat kuat untuk memiliki banyak hal, akan tetapi seringkali yang dimiliki hanya untuk kebanggaan semata, dan tidak bermanfaat bagi dirinya, apalagi bagi orang yang lainnya.

Namun demikian, ada manusia yang merasa cukup dengan yang dia miliki, bersyukur atas nikmat Allah Swt., bersikap qanaah, yang oleh Erich Fromm disebut sebagai manusia memiliki sikap “being mood”, bersyukur dengan yang dimiliki dan kemudian berbagi kepada yang memerlukan uluran tangan kita.

Nah, sikap-sikap ini inilah yang diperlukan untuk Indonesia masa depan. Mereka yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi mereka yang memiliki komitmen untuk memajukan masyarakatnya dan bangsanya demi kemajuan bangsa dan negara.

Salman Akif Faylasuf

Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Taujih Syaikh Aiman Rusydi Suwaid tentang Kualitas Bacaan Para Hafidz Al-Qur’an
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Ketika Agama Ditukar Dunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.