Press ESC to close

Ramadan adalah Pintu Kemenangan Spiritual

Jika kita melihat kembali ayat-ayat tentang puasa dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183-189, di situ disebutkan apa yang hendaknya diraih dalam berpuasa, yaitu menjadi manusia bertakwa, menjadi manusia bersukur serta pada akhirnya memperoleh kemenangan. Dalam hal ini tentu saja kemenangan spiritual.

Sedari dulu di negara-negara maju seperti negara Barat, telah digiatkan pelatihan untuk meningkatkan spiritualnya. Mula-mula mereka memperoleh bibit-bibit manusia unggul melalui peningkatan IQ (Intelligence Quotient) atau tingkat kecerdasan otaknya.

Dengan adanya pengamatan yang cukup lama terhadap orang-orang sukses sebagai manager di perusahaan-perusahaan besar, hingga akhirnya para ahli mamperoleh kesimpulan bahwa keunggulan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan otaknya, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya atau EQ  (emotional intelligence).

Padahal, belum terlalu lama EQ ini diajarkan di sekolah-sekolah, kampus-kampus, atau pada pelatihan manajeman, malah telah ditemukan bahwa yang sangat memengaruhi keunggulan manusia adalah kecerdasan spiritualnya atau SQ (spiritual intelligence).

Berbeda, dari segi psikoanalisis atau kejiwaan, manusia bisa menggapai kecerdasan yang lebih tinggi bila kebutuhan yang lebih rendah terpenuhi terlebih dahulu. Dengan kata lain, jika perut masih keroncongan, jangan harap untuk bisa berpartisipasi dalam pengendalian emosi maupun spiritual.

Karena itu, pada awal-awal perkembangan Islam, upaya untuk memberi makan orang-orang miskin sangat ditekankan. Abraham Maslow, salah satu tokoh psikologi humanistik mengatakan bahwa manusia akan termotivasi untuk meraih tujuan yang luhur bila kebutuhan dasarnya terpenuhi lebih dahulu.

Manusia, kata Maslow, dimotivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah, dan berasal dari sumber genetis atau naluriah.

Tujuh Kebutuhan Dasar Hidup

Tak hanya itu, Maslow, sang maha guru dari Universitas Brandeis itu juga mengatakan bahwa ada tujuh tangga kebutuhan dasar dalam hidup manusia. Pertama, kebutuhan yang paling mendasar yaitu kebutuhan fisiologis.

Adalah satu kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, seperti kebutuhan makanan, minuman, tempat berteduh, oksigen, tidur, dan seks. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka sulit bagi orang tersebut untuk bisa meraih motivasi hidup yang lebih tinggi.

Kedua, kebutuhan akan rasa aman. Pernakah anda melihat tukang batu, penambang, atau tukang pasir yang menempuh perkerjaanya tanpa peduli akan keamanan dirinya? Mereka berani melakukan itu karena belum terpenuhi kebutuhan dasarnya. Kalau makan, minum, tempat tinggal sudah terpenuhi, orang akan melakukan kerja yang mendatangkan rasa aman bagi dirinya.

Ketiga, kebutuhan akan rasa kasih sayang, termasuk dalam kebutuhan cinta, rasa memiliki, dan dimiliki. Bila orang masih kelaparan akan hal ini, maka paduan kasih sepasang sejoli yang masih kelaparan itu bukan wujud kebutuhan akan kasih sayang, tetapi kebutuhan akan seksual.

Keempat, kebutuhan akan penghargaan. Kebutuhan ini meliputi kepercayaan diri, prestasi, penguasaan, kompetensi, dan ketidaktergantungan. Seseorang yang merasa cukup harga diri akan lebih percaya diri lebih produktif.

Kebutuhan keempat ini sebenarnya merupakan kebutuhan yang kompleks. Disebut kompleks karena kegagalan pada tingkat ini bisa menyebabkan orang tak termotivasi untuk hidup pada tingkat kebutuhan yung lebih rendah.

Anda pasti sering mendengar ada orang yang bunuh diri karena gagal bercinta. Padahal cinta itu ada di level tiga. Tetapi, kegagalan bercinta menyebabkan seseorang bisa merasa tak dikasihi oleh orang lain, merasa ditolak kehadiran dirinya, sehingga ia putus asa.

Kelima, kebutuhan akan aktualisasi diri. Jika keempat kebutuhan yang lebih rendah itu terpenuhi, maka seseorang pasti ingin mengaktualisasikan dirinya. Dengan kata lain, setelah kebutuhan akan rasa cinta dan penghargaa terpuaskan secara memadai, maka ia akan menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan dirinya.

Keenam, hasrat untuk tahu dan memahami. Adalah usaha pencarian makna dalam hidup ini. Jadi, bukan hanya mengaktualisasikan dirinya, tetapi tetap juga ingin mencari makna hidup hagi dirinya.

Ketujuh, kebutuhan estetik. Kebutuhan ini berupa kebutuhan akan keindahan, yang meliputi keindahan pemandangan, kata-kata, suara, lingkungan, perilaku, dan lainnya. Keindahan membuat seseorang lebih sehat. Itu sebabnya, jika keindahan tidak membuat lebih sehat, berarti pikirannya terbelenggu batin.

Kemenangan Spiritual

Penting juga dikatakan, bahwa sisi lain puasa dianggap sebagai kemenangan spiritual. Kenapa demikian? Karena jika puasa dilakukan dengan benar, maka puasa adalah ibadah terberat bagi manusia. Dengan kata lain, puasa bukan hanya meninggalkan makan, minum, dan hubungan seksual di siang hari, melainkan upaya mengekang dorongan hawa nafsu lahir dan batin.

Karena itu, wajar saja jika puasa menjadi amalan untuk Tuhan. Puasa yang kita lakukan hari ini umumnya baru masuk ke kulitnya. Bila kita sudah mampu mengekang diri pada saat malam berbuka dan sahur, maka puasa kita telah merasuk ke daging. Pun, bila kita sudah mampu mengendalikan pekerjaan hati, seperti hasud, iri, benci, dengki, menyakiti orang lain, maka hakikat puasa telah kita lalui.

Tidak lain harapannya adalah kualitas puasa pada hari yang kedua lebih baik dari pada hari yang pertama dan seterusnya. Jika dihitung tahunan, kualitas puasa tahun ini seharusnya lebih baik dari pada tahun lalu, dan kualitas tahun lalu lebih baik dari tahun sebelumnya.

Syahdan. Jalur takwa yang dipilih oleh orang yang berpuasa adalah jalur pengekangan diri. Orang yang memilih jalur berpuasa disebut sebagai “shimin” bagi laki-laki, dan “shimt” bagi perempuan seperti yang dinyatakan dalam surah Al-Ahzab ayat 35.

Dengan demikian, shimin dan shimt tentu saja bukan orang yang hanya menahan lapar, dahaga, dan dorongan seksual setiap harinya. Sebab, pelaku puasa adalah mereka yang mampu menahan dorongan hawa nafsanya di setiap keadaan.

Sekali lagi, pelaku puasa adalah mereka yang sanggup menderita dalam keadaan kurang, dan tampil biasa bila keadaan berlebihan. Mereka tidak malu jadi orang biasa dan tidak terlalu bila berkuasa. Inilah spiritual. Wallahu a’lam bisshawab.

Salman Akif Faylasuf

Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Taujih Syaikh Aiman Rusydi Suwaid tentang Kualitas Bacaan Para Hafidz Al-Qur’an
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Ketika Agama Ditukar Dunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.