Ada buku yang mengajak kita memahami sesuatu. Ada pula buku yang membuat kita mempertanyakan kembali sesuatu yang selama ini kita anggap benar. Sufipreneur: Tekun Beribadah, Giat Berwirausaha karya Doni Ekasaputra termasuk jenis yang kedua. Buku ini tidak datang dengan ceramah panjang tentang bagaimana menjadi pengusaha sukses, tetapi membawa pembaca pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mungkinkah seseorang mengejar keberhasilan dunia tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya?
Pertanyaan itu terasa semakin menarik ketika kita membuka daftar isinya. Penulis tidak berhenti pada pembahasan kewirausahaan, tetapi membawa pembaca melewati tema yang berlapis: dari ribuan definisi tasawuf, Nabi Muhammad saw. sebagai pelopor sufipreneur, kerja keras para nabi, sahabat, dan ulama, pandangan objektif terhadap harta, hingga muamalah, thariqah sufiyah, mujahadah, riyadhah, kejujuran, warā’, dan zuhud. Bahkan ada pembahasan tentang fikih bisnis, wirid, hingga cara memperoleh keuntungan yang lancar dan halal.
Dengan demikian, sufipreneur dalam buku ini bukan sekadar istilah yang terdengar unik. Ia adalah sebuah cara pandang.
Menariknya, penulis berani menyentuh wilayah yang sering dianggap paradoks: sufi dan Alphard. Berangkat dari dawuh almarhum Kiai Abu Zairi, “Engkok terro endik santreh se sufiy, se numpa’ mobil Alphard,” buku ini justru mengajak kita membongkar pemahaman tentang zuhud. Apakah zuhud berarti tidak boleh memiliki? Ataukah zuhud sebenarnya berarti tidak membiarkan apa yang kita miliki menguasai hati?
Di sinilah gagasan Doni Ekasaputra menjadi relevan. Sebagai Owner Adeeva Group, alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang kini berkiprah sebagai dosen sekaligus penulis buku, ia membawa pengalaman dan refleksi tersebut ke dalam sebuah gagasan yang dekat dengan kehidupan hari ini: menjadi manusia yang tekun beribadah sekaligus giat bekerja.
Salah satu bagian yang menarik adalah pembahasan “Sufipreneur: Tekun Beribadah dan Giat Bekerja”. Penulis mengingatkan bahwa ibadah dan pekerjaan sering kali dipertentangkan, seolah keduanya berada di dua jalan yang berbeda. Padahal, mencari nafkah juga merupakan tanggung jawab. Bahkan kutipan Syekh Abu Hasan Syadzili yang ditampilkan dalam buku ini terasa sangat kuat: “Barang siapa bekerja (mencari nafkah) disertai mengerjakan kewajiban ibadahnya kepada Allah maka mujahadahnya menjadi sempurna.”
Kalimat itu seperti merapikan kembali hubungan antara sajadah dan pasar, antara masjid dan ruang usaha, antara zikir dan kerja keras.
Lebih jauh, buku ini juga tidak memberikan pembenaran sederhana terhadap praktik bisnis. Pembahasan tentang keuntungan mengingatkan bahwa mencari laba tetap memiliki batas etis. Keuntungan tidak boleh berubah menjadi jalan untuk memudaratkan orang lain. Karena itu, bisnis yang halal bukan hanya tentang barang yang dijual, tetapi juga tentang cara memperoleh keuntungan dan bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Sufipreneur akhirnya bukan buku yang sekadar mengajarkan cara menjadi kaya. Ia mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sulit: bagaimana memiliki tanpa dimiliki, bekerja tanpa diperbudak pekerjaan, dan berhasil tanpa kehilangan Tuhan.
Maka, jangan hanya puas membaca resensinya. Buka bukunya. Telusuri halaman demi halaman. Sebab bisa jadi, setelah membacanya, kita akan menemukan bahwa jalan menuju keberlimpahan tidak selalu harus menjauh dari tasawuf. Barangkali, justru di sanalah kita belajar bagaimana menjadi kaya tanpa kehilangan jiwa.
Judul: Sufipreneur: Tekun Beribadah, Giat Berwirausaha
Penulis: Doni Ekasaputra
Pengantar Ahli: Dr. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I. dan Dr. (HC) K.H. Afifuddin Muhajir, M.Ag.
Penerbit: Madani, Malang
Cetakan: Pertama, Juni 2026
Tebal: xxvi + 170 halaman
ISBN: 978-623-8042-69-2
Kategori: Ekonomi Islam, Tasawuf, Kewirausahaan