Press ESC to close

NYAI HJ. QOMARIYAH: SOSOK PENDIAM BERJIWA TANGGUH (Catatan Pertama pada Haul Simbah Nyai Hj. Qomariyah binti KH Abdul Karim, Lirboyo)

Nyai Hj. Qomariyah lahir di Kediri, pada tanggal 16 Juni 1930. Beliau wafat pada tanggal 14 Safar 1411 atau bertepatan dengan September 1990, dan dimakamkan di dekat makam kedua orang tuanya di kompleks pemakaman keluarga besar Pesantren Lirboyo. Putri bungsu KH Abdul Karim dan Nyai Dlomroh ini melalui masa belajar sekaligus perkhidmatan sepanjang hayatnya di kampung halamannya sendiri, Lirboyo, Kediri.

Meski seorang perempuan yang sejak kecil tumbuh di lingkungan pesantren, Nyai Hj. Qomariyah bukanlah seorang yang hanya duduk manis berpangku tangan. Selain mendidik putra-putranya dan membersamai keluarga besar dalam mengasuh santri, Nyai Qomariyah juga dikenal sebagai seorang perempuan yang cakap dalam bertani dan berdagang.

Sejak kecil ia telah menyaksikan bagaimana kedua orang tua dan keluarga besarnya mendedikasikan hidupnya untuk khidmah perjuangan. Ayahnya yang menghabiskan hari harinya untuk tirakat dan ngadep dampar (muthalaah dan mengajar santri), berkhidmat untuk ilmu pengetahuan. Sedangkan ibunya menopang ekonomi keluarga dan kehidupan pesantren dengan bertani dan berdagang. Ritme kehidupan sehari hari inilah yang menjadi pelajaran penting yang membentuk kehidupan dan jiwa tangguh yang dimilikinya.

Nyai Qomariyah belajar di bawah pengampuan kedua orang tuanya sendiri. Pada masanya ketika perempuan belum seluruhnya bisa membaca dan menulis, Nyai Qomariyah telah terbiasa membuat catatan kecil terkait dg kejadian penting yg ada di sekitarnya. Dalam sebuah buku kecil yg masih disimpan oleh keluarga, catatan tersebut menunjukkan tanggal-tanggal kejadian penting dalam keluarga besar Lirboyo saat itu.

Ada banyak kesan yang saya dapatkan selama dalam pengampuan simbah Nyai Qomriyah. Maklum, sejak usia 2 tahun hingga 9 tahun, saya berada dalam pengasuhan beliau. Dalam kehidupan sehari-hari, saya melihat bagaimana simbah Nyai Qomariyah yang seorang perempuan itu, berkontribusi dalam kehidupan pesantren dan keluarga. Sikapnya yang pendiam, memberikan beliau lebih banyak ruang untuk lebih banyak mendengarkan sebelum berembug untuk memutuskan sesuatu. Kerapkali saat saudara perempuan beliau (Nyai Aisyah binti Abdul Karim) yang berdomisili di depan ndalem beliau datang utk berambug tentang persoalan penting yang mesti diputuskan. Bahkan kadangkala hal itu dilakukan saat hari telah menjelang malam.

Sebagaimana ayahanda dan ibundanya, Nyai Qomariyah juga sosok yang berhati-hati, dan memegang teguh birrul walidain. Seluruh kehidupan beliau diselimuti oleh nilai nilai luhur yang diajarkan oleh kedua orang tuanya. Dari beliau pula, kami banyak belajar mengenai prinsip penting dalam memahami khidmah perjuangan.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Refleksi Ngaji Jawahirul Qur’an Gus Ulil (Episode 28): Ayat-Ayat Kosmis, Dialektika Evolusi, dan Membaca Ulang Narasi Keimanan
Menakar Riyadhah: Nalar Etis dan Sufistik ala Kiai Zuhri Zaini
Refleksi Ngaji Jawahirul Qur’an Gus Ulil (Episode 27): Menggali Mutiara Makrifat dan Retorika Kosmis
Dialektika Adam dan Homo Sapiens: Sebuah Refleksi atas Kajian Jawahirul Qur’an Bersama Gus Ulil (Episode 26)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.