Press ESC to close

Mengapa Masih Ada Umat Islam yang "Jahil" di Tengah Lautan Alumni Pesantren?

Asumsikan saja, hampir setiap desa di Jawa-Madura memiliki alumni pesantren. Sekecil apa pun ilmunya, mereka pasti memiliki pengetahuan dasar fikih (hukum Islam) dan akidah (keyakinan) yang bisa diajarkan kepada masyarakat. Namun, realitanya, masih ada umat Islam—yang rumahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari alumni pesantren atau bahkan dari pesantren itu sendiri—tidak tahu cara salat, wudu, atau puasa yang benar. Pertanyaannya adalah kemana peran alumni pesantren? 

Ini bukan sekadar masalah kurangnya penyebaran ilmu (nasyr al-‘ilm), tetapi lebih kompleks. Ada faktor sosial, budaya, dan struktural yang membuat dakwah tidak efektif. Namun, alasan kompleksitas ini tidak boleh menjadi pembenaran untuk membiarkan umat tetap dalam kejahilan.  

Allah berfirman dalam QS. At-Taubah [9]: 122 yang berbunyi "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar."  

Lalu, mengapa potensi besar alumni pesantren belum optimal dimanfaatkan? Masalah Utama adalah qlumni Pesantren yang "Terkepung" dalam Identitas Primordial. Salah satu masalah terbesar adalah kecenderungan alumni pesantren membentuk kelompok eksklusif. Perkumpulan alumni seringkali hanya menjadi ajang kumpul-kumpul, nostalgia, atau bahkan mempertebal tembok identitas primordial ("kita vs mereka").  

Alih-alih menjadi kekuatan perubahan, mereka terjebak dalam beberapa persoalan yaitu: Pertama, rivalitas antaralumni pesantren – Misalnya, alumni Pesantren A enggan bekerja sama dengan alumni Pesantren B karena perbedaan tradisi atau afiliasi organisasi.  Kedua, kegiatan seremonial tanpa dampak – Banyak acara alumni yang hanya berisi ceremonial, seperti reuni atau ziarah, tanpa agenda konkret dakwah.  Ketiga, tidak ada sinergi dengan masyarakat – mereka mungkin aktif di internal kelompoknya, tetapi tidak turun ke lapangan untuk mengajari tetangga yang butuh bimbingan agama.  

Energi mereka besar, tetapi karena tidak terarah, akhirnya hanya habis untuk "rame-ramean" tanpa makna.  

Mengapa Mereka Tidak Bergerak?

Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab yaitu: Pertama, mentalitas “Bukan Urusan Saya” banyak alumni pesantren merasa bahwa berdakwah adalah tugas kyai atau ustad, bukan tanggung jawab mereka. Padahal, Rasulullah Saw. bersabda: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." (HR. Bukhari) Ilmu sekecil apa pun wajib disampaikan.  

Kedua, tidak ada wadah yang efektif
Perkumpulan alumni seharusnya bisa menjadi motor penggerak, tetapi seringkali tidak memiliki program yang jelas. Mereka perlu dakwah (door-to-door) mengunjungi rumah-rumah warga untuk mengajarkan hal dasar seperti wudu dan salat.  Lalu kelas agama informal dengan membuka pengajian kecil di masjid atau rumah warga.  Bisa juga kolaborasi dengan pesantren dengan Membuat program turun-temurun di mana alumni wajib mengajar masyarakat sekitar.  

Ketiga, faktor sosial-ekonomi
Tidak semua alumni pesantren memiliki kapasitas ekonomi yang memadai untuk fokus pada dakwah. Banyak yang sibuk bekerja sehingga tidak sempat terlibat dalam kegiatan keagamaan.  

Keempat, kurangnya kepemimpinan yang menggerakkan. Perlu ada sosok yang memimpin gerakan ini. Jika tidak ada inisiator, energi besar alumni hanya akan menguap tanpa hasil.


Bagaimana Memaksimalkan Peran Alumni Pesantren?

Pertama, membentuk komunitas dakwah mandiri. Alumni pesantren harus membentuk kelompok-kelompok kecil yang fokus pada beberala aspek: 1) Pendidikan dasar Islam untuk masyarakat sekitar; 2). Pembinaan remaja masjid yang seringkali kurang pemahaman agamanya; 3). Konsultasi keagamaan bagi yang membutuhkan.  

Kedua, sinergi dengan pesantren induk. Pesantren harus aktif memantau dan mengarahkan alumninya, misalnya dengan membuat database alumni untuk memetakan potensi dakwah. Lalu kengadakan pelatihan dakwah sebelum alumni lulus.  Bisa juga memberikan proyek dakwah seperti program "satu alumni bina satu keluarga".  

Ketiga, menghilangkan ego sekolah. Alumni pesantren harus berhenti memikirkan perbedaan mazhab atau ormas. Fokus pada tujuan bersama yaitu membimbing umat.  

Keempat, memanfaatkan media sosial.
Dakwah tidak harus tatap muka. Mereka bisa membuat konten keagamaan sederhana di WhatsApp Group, YouTube, atau TikTok.


Saatnya Alumni Pesantren Bangkit!

Potensi alumni pesantren sangat besar, tetapi sayang jika hanya terbuang percuma. Mereka harus keluar dari zona nyaman, menghilangkan ego kelompok, dan benar-benar turun ke masyarakat.  

Jika setiap alumni pesantren di Jawa-Madura mau mengajari hanya satu orang tentang cara salat yang benar, maka ribuan—bahkan jutaan—umat akan terbebas dari kejahilan.  

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Alumni pesantren punya ilmu, punya jaringan, dan punya tanggung jawab. Kini saatnya mereka bergerak.  

"Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya." (HR. Muslim)  

Mari kita mulai dari hal kecil. Dari diri sendiri. Dari tetangga terdekat. Sebelum kita ditanya di akhirat: “Apa yang telah kamu lakukan dengan ilmu yang kau dapat dari pesantren?”. 

Intan Diana Fitriyati

Pengasuh PP. Al Masyhad Manbaul Falah Walisampang Pekalongan

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Taujih Syaikh Aiman Rusydi Suwaid tentang Kualitas Bacaan Para Hafidz Al-Qur’an
Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Konsekuensi Hukum Mengingkari Konsensus Ulama
Ngaji Adabul Sulukil Murid: Menjaga Diri dari Dosa dengan Mengendalikan Tiga Anggota Tubuh
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Ketika Agama Ditukar Dunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.