Semenanjung Persia sering digambarkan sebagai anugerah Tuhan karena letaknya yang strategis, kekayaan alamnya yang melimpah, serta perannya dalam mewarnai peradaban dunia. Ia menjadi jembatan antara Timur dan Barat. Tempat dimana lahirnya berbagai kebudayaan, pemikiran, tokoh dan agama besar. Dari jalur perdagangan kuno seperti Jalur Sutra hingga sumber daya minyak dan gas ada disini. Kawasan ini memiliki nilai yang sangat luar biasa bagi umat manusia. Pendek kata Semenanjung Persia -yang diantaranya didiami Bangsa Iran saat ini- adalah anugerah Tuhan yang menyimpan khazanah sejarah dan peradaban dunia.
Cerita awal tentang Persia yang sempat di dokumentasikan oleh sejarah modern bermula dari kawasan hunian manusia purba di gua-gua pada 100.000 tahun lalu. Yang kemudian pada masa neolitik, masyarakatnya mulai bertani dengan hewan piaraan. Kemudian berkembang pada penggunaan logam di masa Chalcolithic. Selanjutnya peradaban Elam muncul sekitar 3.200 SM, yang kemudian berinteraksi dengan peradaban Mesopotamia. Migrasi bangsa Arya membawa bahasa Indo-Iran pada tradisi keagamaan awal. Proses-proses berikutnya menjadikan bangsa Persia menjadi suku bangsa yang besar. Menjadi salah satu imperium kekaisaran terbesar dunia kuno.
Demikian juga cerita lahirnya agama-agama besar di masa itu. Memang setiap rezim dan peradaban tidak lepas dari legitimasi sosial, termasuk keberadaan agama. Persia mengenal kepercayaan animisme dan penyembahan alam. Bangsa Arya membawa tradisi yang melahirkan Ajaran Zoroaster sebagai agama besar pertama. Kemudian hadir pengaruh Helenistik hingga Kristiani muncul. Sejak abad ke-7, Islam hadir secara cepat dan menjadi agama yang dominan. Dari dinamika yang ada, muncul kemudian kelompok atau fragmentasi atas beberapa faham dan aliran. Singkatnya terkanalisasi pada dua mainstream: Sunni dan Syi’I atau Syiah. Di Iran penganut Syiah hingga 95 persen. Selebihnya Muslim Sunni, atau penganut agama lainnya.
Disisi yang lain tokoh politik dan pemikir besar yang lahir dari tanah Persia, misalnya Cyrus Agung yang mendirikan Kekaisaran Achaemenid, hingga yang belakangan seperti Imam Abu Hanifah pendiri Mazhab Hanafi, Al-Farabi yang mengembangkan filsafat politik Islam. Maupun ilmuwan seperti Al-Khwarizmi ahli matematika, Ibnu Sina pelopor kedokteran, hingga Al-Farghani yang ahli astronomi itu. Singkatnya mereka menjadikan Persia sebagai pusat intelektual dan peradaban.
Disisi yang lain Iran mampu maju dalam sains dan teknologi karena kombinasi tradisi intelektual panjang sejak era Persia kuno. Sejak masa klasik, Persia melahirkan tokoh besar seperti Ibnu Sina dan Al-Khwarizmi yang telah disebutkan diatas. Iran menginvestasikan besar dalam hal pendidikan, serta dorongan yang kuat dari pemerintah untuk mandiri menghadapi embargo internasional. Tekanan global justru memacu inovasi lokal, menjadikan Iran sebagai pusat riset dan teknologi di dunia Islam.
Singkat kata peran sejarah yang luar biasa, menempa mental untuk menjadi bangsa besar, letak yang strategis memiliki akses ke kawasan teluk, serta sumberdaya alam yang itu kemudian membuat iri sejumlah bangsa lain agar bisa mengendalikan negara itu. Namun sekali lagi Iran telah membuktikan, misalnya dominasi pengaruh asing tidak serta merta mudah dicapai. Revolusi besar Islam Iran membuktikan itu. Di embargo puluhan tahun oleh Amerika dan sekutunya tidak cukup mempan. Bahkan pembelaan terhadap bangsa Palestina semakin mengokohkan itu semua.
Hari ini kita melihat bahwa peperangan Iran vs Amerika Serikat dan Israel, yang didahului oleh serangan dari pihak musuh terlebih dahulu telah lebih dari dua pekan. Sejauh ini tidak ada tanda tanda berhenti atau berakhir di meja perundingan, meskipun kapal induk Amerika menjauh dari kawasan laut oman. Serangan antar keduanya terus berlangsung. Ribuan nyawa melayang karena itu. Insfrastruktur porak poranda. Fasilitas kesehatan, pendidikan dan lainnya rusak.
Disaat warga muslim dunia berpuasa ramadhan 1447 H, mereka berjibaku bertaruh nyawa. Secara umum tidak ada tempat perlindungan khusus semacam bungker untuk berlindung bagi warga sipil. Boleh dibilang rutinitas harian baik beraktivitas dan beribadah sangat terbatas. Sebagai muslim, tentunya memiliki asa untuk merayakan idul fitri setelah genap satu bulan berpuasa. Meskipun tradisi berlebaran idul fitri disana tidak se semarak kita di Indonesia. Mereka lebih meriah dalam memperingati Tragedi Karbala pada 10 muharam, saat cucu nabi Imam Husain bin Ali dibunuh. Tetapi bukan hiruk pikuk hedonitas, melainkan semangat keprihatinan dan kesedihan.
Menjadi bertolak belakang kita disini. Lebaran idul fitri yang dipahami sebagai puncak kemenangan justru terjebak bukan pada isensi ‘kemenangan’ dalam menahan hawa nafsu untuk prihatin. Terutama disaat saudara kita di Iran misalnya, yang sedang berjuang untuk hidup ditengah gemuruh perang.
Semangat konsumerisme belanja dan lainnya seolah menandai kemenangan setelah sebulan berpuasa, menegasikan kefitrian itu sendiri. Mengutip istilah dari Hannah Arendt seorang filsuf dari Jerman yang menyebutnya sebagai banalitas. Sebuah kondisi yang fitri tetapi tidak ‘suci’ lagi. Menjadi sesuatu yang profan. Oleh karena itu kita perlu mengandaikan berlebaran di tanah Persia dengan keprihatinan. Dengan segala kefitrian yang hakiki.
Penulis: Dr Yusuf Amrozi adalah staf pengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya, Wakil Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi PWNU Jawa Timur