JEMBER – Dalam tradisi pesantren, seorang guru tidak hanya dikenal dari keluasan ilmunya, tetapi juga dari ketulusan dalam mengajarkan ilmu, kesabaran membimbing murid, serta keteladanan yang ditinggalkannya. Sosok seperti itulah yang banyak dilekatkan kepada KH Badrud Tamam, M.H.I., seorang ulama pesantren yang hingga kini terus mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan kaderisasi generasi Nahdlatul Ulama.
Bagi para santri dan masyarakat yang mengenalnya, KH Badrud Tamam bukan sekadar seorang pengasuh atau akademisi. Beliau adalah guru yang menjadikan mengajar sebagai jalan pengabdian. Di tengah berbagai amanah yang diemban, beliau hampir tidak pernah meninggalkan majelis ilmu. Bahkan, mengajar santri usia anak-anak dan remaja menjadi aktivitas yang paling beliau nikmati. Baginya, menanamkan kecintaan terhadap ilmu sejak usia dini merupakan investasi terbesar bagi masa depan umat.
Perjalanan hidup KH Badrud Tamam ditempa di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, salah satu pesantren terbesar di Indonesia yang telah melahirkan banyak ulama, cendekiawan, dan pemimpin Nahdlatul Ulama. Di lingkungan pesantren itulah karakter beliau dibangun melalui kedisiplinan, kesederhanaan, dan tradisi keilmuan yang kuat.
Rekan-rekan seperjuangannya mengenang beliau sebagai santri yang tekun dan memiliki semangat belajar yang tidak pernah surut. Ketika menjalani masa khidmah sebagai penggembala kambing di lingkungan pesantren, beliau tidak membiarkan waktu berlalu tanpa makna. Kitab selalu dibawa ke mana pun pergi. Di sela-sela menggembala, beliau membaca, menghafalkan matan, dan melakukan murojaah. Kebiasaan sederhana itu menjadi cerminan bahwa kecintaan terhadap ilmu telah tumbuh menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Semangat tersebut terus terjaga hingga sekarang. Rumah beliau dipenuhi kitab-kitab turats dari berbagai disiplin ilmu. Hampir setiap sudut ruangan menjadi ruang belajar yang dipenuhi referensi klasik. Bahkan, menurut sejumlah pemerhati kitab di Jember, terdapat salah satu kitab langka yang hanya dimiliki oleh dua orang di Kabupaten Jember, dan salah satunya berada dalam koleksi pribadi KH Badrud Tamam. Bagi beliau, kitab bukan sekadar koleksi, melainkan sahabat yang selalu menemani proses belajar sepanjang hayat.
Dedikasi beliau terhadap dunia pendidikan juga melahirkan karya yang bermanfaat bagi para santri. Salah satunya adalah penyusunan kitab Al-Ijaz, sebuah buku yang disusun sebagai teori dasar dalam membaca kitab kuning. Kitab tersebut lahir dari pengalaman panjang beliau mengajar ilmu alat dan mendampingi santri memahami khazanah turats. Kehadiran Al-Ijaz menjadi ikhtiar untuk memudahkan para pelajar, khususnya generasi muda pesantren, dalam memasuki dunia literatur klasik Islam secara lebih sistematis dan terarah.
Komitmen itu kemudian diwujudkan dalam kepemimpinannya sebagai Mudir Ma'had Aly Nurul Qarnain. Di bawah arahannya, Ma'had Aly berhasil meraih Akreditasi A dan berkembang sebagai salah satu pusat kaderisasi ulama yang menaruh perhatian besar pada pendalaman fikih dan ushul fikih. Banyak alumninya kini mengabdi sebagai guru, dai, peneliti, akademisi, maupun pengasuh pesantren di berbagai daerah.
Selain aktif di dunia pendidikan, KH Badrud Tamam juga mengemban berbagai amanah organisasi, di antaranya sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Jember, Ketua Aswaja NU Center Jember, Ketua Keluarga Alumni Ma'had Aly (KAMLY) Jember, serta menjadi bagian dari Pengurus Pusat KAMALY. Berbagai amanah tersebut dijalankan seiring dengan aktivitas mengajar yang tetap menjadi prioritas dalam kesehariannya.
Melalui Aswaja NU Center Jember, beliau aktif menguatkan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah melalui kajian ilmiah, pembinaan kader, dialog keagamaan, dan pendidikan masyarakat. Pendekatan yang digunakan lebih menekankan penguatan argumentasi ilmiah dan tradisi intelektual pesantren, sehingga dakwah yang dibangun tetap menyejukkan, moderat, dan mudah diterima berbagai kalangan.
Di balik keluasan ilmunya, KH Badrud Tamam dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan dekat dengan masyarakat. Beliau tidak membatasi diri dengan ruang formal. Dalam berbagai kegiatan pesantren, beliau kerap terlihat duduk bersama santri, berdialog dengan masyarakat, bahkan turut mengangkat material atau membantu pekerjaan fisik ketika pesantren menyelenggarakan pembangunan maupun kegiatan besar. Keteladanan tersebut menjadi pelajaran bahwa seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu melalui lisan, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan.
Selain menguasai berbagai cabang ilmu turats, beliau juga memiliki perhatian terhadap psikologi, pendidikan, dan manajemen. Perpaduan antara tradisi klasik pesantren dan wawasan kontemporer membuat cara pandangnya mampu menjawab tantangan pendidikan Islam tanpa kehilangan akar nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Kiprahnya yang menjangkau Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, hingga berbagai daerah lain di Jawa Timur menjadikan KH Badrud Tamam dikenal luas sebagai guru, pendidik, sekaligus ulama yang konsisten merawat tradisi keilmuan. Bagi banyak santri, beliau bukan hanya sosok yang mengajarkan cara membaca kitab, tetapi juga mengajarkan bagaimana mencintai ilmu, menghormati guru, dan menjadikan pengabdian sebagai jalan hidup.
Di tengah berbagai amanah yang kini diemban, satu hal yang tetap tidak berubah adalah kecintaannya pada majelis ilmu. Sebab, bagi KH Badrud Tamam, membangun peradaban tidak selalu dimulai dari mimbar yang tinggi, tetapi sering kali berawal dari sebuah ruang belajar sederhana, ketika seorang guru dengan sabar membimbing santri membaca kalimat demi kalimat kitab kuning hingga kelak mereka mampu meneruskan estafet keilmuan kepada generasi berikutnya.