Alhamdulillah, saya berguru ke beliau saat kuliah S1 dan S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya. Sering pula sowan ke ndalemnya yang waktu itu ada di Wonokromo Surabaya. Beliau mengajar kelas kami mata kuliah Fiqh Siyasah dan Sejarah Peradaban Islam. Bahasa lisan dan tulisannya sama-sama bagusnya. Referensi yang beliau gunakan juga komplit: Indonesia, Arab dan Inggris. Maklum, alumni pesantren yang kemudian melanjutkan pendidikan strata duanya di Universitas McGill Kanada. Perpaduan kiai dan akademisi.

Saat mengajar, jika menjelaskan sesuatu secara lisan, beliau menyebut salah satu rujukan buku secara lengkap: nama penulis judul, penerbit, hingga daftar halamannya pula! Tak heran jika kami menjuluki beliau perpustakaan berjalan.

Di S1 pula, saya juga diajar beliau materi Filsafat Islam, dimana kewajiban kami saat itu meresensi buku “PARA PENCARI TUHAN: Dialog Al-Quran, Filsafat dan Sains dalam Bingkai Keimanan” karya Syaikh Nadim al-Jisr. Buku yang bagus dan bermutu. Menyajikan dialog-dialog filosofis tentang sains dan teologi. Yang asyik, beliau memberi Nilai A+ dan hadiah Rp 100.000 bagi beberapa resensi yang bagus. Saya dapat keduanya. Lumayan, nominal itu cukup buat makan dan ngopi seminggu.

Di S2 pada kampus yang sama, saya diajar beliau Ushūl Fiqh. Waktu itu saya diberi tugas menulis makalah pemikiran Dr. Ahmad Arraysūnī, pakar Ushūl Fiqh Maroko, yang dijuluki “juru bicara” Abū Ishāq Asy-Syathibī, peletak rancang bangun konsep Maqāshid Asy-Syarī’ah.

Awalnya, materi Ushūl Fiqh diasuh Prof. Dr. KH. Sjechul Hadi Permono, pakar zakat dan waris itu. Namun setelah wafatnya beliau, MK ini diampu oleh Prof Mawardi.

Waktu itu pula, pada 2011, buku karya Prof. Mawardi terbit. Judulnya “FIQH MINORITAS ; Fiqh Al-Aqalliyyāt dan Evolusi Maqāshid al-Syarī‘ah dari Konsep ke Pendekatan” yang diterbitkan LKiS Yogyakarta. Isinya mantab betul! Waktu itu, kami diminta untuk mendiskusikan buku tersebut di kelas, dan juga diminta oleh Prof. Mawardi untuk memberikan masukan dan kritik atas buku yang beliau tulis di atas. Sebuah pertanggungjawaban ilmiah yang menarik!

Selain tugas makalah, Prof. Mawardi juga meminta kami membaca dan menulis resensi atas novel karya budayawan-sastrawan Prof. Kuntowijoyo. Judulnya, “Impian Amerika”. Novel budaya yang asyik. Mengisahkan kurang lebih 30 orang diaspora Indonesia yang datang ke New York dengan tujuan masing-masing. Syakir dari Aceh, Suleman dari Madura, Sukiman dari Yogyakarta, dan sebagainya. Adaptasi budaya dan kecermatan dalam mempertahankan prinsip keIndoensiaan dirangkai dengan baik oleh Prof. Kuntowijoyo.

Tahun 2018, bulan April, acara diskusi dan pelatihan Metodologi Islam Nusantara digelar di Pesantren Alif Laam Min, Surabaya, yang diasuh Prof. Mawardi. Beliau bukan saja bertindak sebagai tuan rumah yang baik, melainkan juga sebagai pemateri yang ciamik. Kalau menyampaikan ulasan, walaupun tetap akademis dan ilmiah, Prof. Mawardi selalu menyelipkan dua kategori humor untuk menertawakan diri sendiri: joke tentang santri dan ledekan tentang orang Madura. Dua kategori yang melekat pada diri beliau.

Saya masih ingat dalam acara Pelatihan Metodologi Islam Nusantara tersebut, beliau menyampaikan joke orang Madura kaya yang sedang berada di restoran Eropa. Dia melihat tikus berkeliaran di sekitar meja. Karena lupa bahasa Inggris-nya tikus, tapi ingat sosok Jerry dalam serial kartun Tom and Jerry, akhirnya dengan percaya diri dan logat Madura yang kental, dia bilang ke pelayan, “Excuse me. There is Jerry here!” sembari menuding tikus di pojokan.

28 Januari 2020 silam, INAIFAS Kencong Jember mengundang beliau untuk menjadi pemateri dalam Studium Generale. Dalam kondisi yang masih capek setelah mengisi seminar di Turki, beliau langsung ke Kencong, Jember, memberi motivasi bagi adik adik mahasiswa. Penyampaiannya tetap menarik, sistematis, kaya data dan referensi, dan tentu saja humoris. Gestur tubuhnya juga khas saat memotivasi: berdiri, ekspresi wajah yang mendukung, juga berjalan kesana-kemari. Perpaduan komplit retorika ala mubalig dan kecerdasan akademisi. Lucu tapi penuh data!

Sebagai murid, tentu saya bersedih kehilangan sosok guru multitalenta seperti beliau. Namun melihat kiprahnya di dunia pendidikan dan dakwah, saya lega. Karena ilmu yang beliau berikan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Pesantren Alif Lam Mim yang beliau dirikan juga menjadi prasasti kepeduliannya atas pengembangan dakwah Islam berbasis pesantren di Kota Metropolitan Surabaya.

Selamat jalan, guruku. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya, menaungi alam kubur beliau dengan cahaya al-Qur’an dan shalawat…lahul Fatihah

Rijal Mumazziq Zionis
Pecinta Buku, Rektor INAIFAS Kencong Jember, Ketua LTN NU Kota Surabaya

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini