Press ESC to close

Pola Asuh Santri Generasi Z

Santri adalah sebutan umum yang biasanya ditujukan bagi seorang yang fokus belajar mendalami kitab suci dan mengikuti pendidikan agama. Santri biasanya menetap di tempat belajar yang disebut pondok pesantren hingga pendidikannya selesai.

Kegiatan yang dilaksanakan santri di pesantren pun berbeda dengan kegiatan belajar di pendidikan islam lainnya. Jika di lembaga pendidikan non pesantren mereka hanya mendapatkan pengetahuan agama secara mendasar, namun di pesantren memiliki model pendidikan yang multi aspek. Mereka tidak hanya dididik tentang pemahaman ilmu agama secara mendalam tapi juga mendapat tempaan kemandirian,kesederhanaan,ketekunan, kebersamaan,dan sikap positif lainnya.

Seiring dengan perkembangan zaman. Pendidikan pesantren telah jauh mengalami perubahan, mulai dari segi bangunan, segi pakaian, hingga metode pembelajarannya. Pesantren tidak lagi sederhana seperti yang digambarkan oleh masyarakat dahulu, namun pesantren di era sekarang sudah mengikuti perkembangan zaman yang ada.

Oleh karena itu pola asuh santri pun harus diinovasi. Para Kyai, Gus dan Ning memiliki peran yang sangat besar dalam menangani pola asuh santri saat ini. Seperti yang kita ketahui bahwa ada pergeseran generasi dalam beberapa tahun belakangan ini, yang mana saat ini kita berada di dua kelompok generasi besar yaitu antara generasi milenial dan generasi Z yang masing-masing dari kedua generasi ini memiliki cara pandang dan karakteristik yang berbeda.

Jika pola asuh santri generasi milenial cenderung otoritar maka pola asuh santri saat ini sudah menuju ke otoritarian atau demokratis dimana sudah sedikit ada keleluasaan dan kebebasan bagi santri untuk berpendapat, berekspresi serta turut berkontribusi dalam menentukan aturan dan lain-lain.

Juga dalam pondok pesantren terdapat beberapa aturan yang harus ditaati oleh seluruh santri, dan memberikan punishment bagi siapapun yang melanggar. Jika di zaman santri milenial bentuk hukuman erat kaitannya dengan fisik, seperti dipukul menggunakan rotan dan sebagainya, pada generasi Z ini bentuk hukuman lebih kepada mental dalam mengembangkan pengetahuannya seperti menghafal, membaca dan lain-lain.

Pola asuh seperti itu menurut saya kurang efektif karena hal tersebut menjadikan santri menghindari orang atau pihak pengurus yang akan menghukumnya dan bukan mengurangi kenakalan mereka. Kenakalan itu tetap ada pada diri santri tersebut dan mereka akan semakin berkreasi bagaimana cara agar kenakalannya tidak diketahui oleh subjek yang akan memberikan hukuman.

Jadi dalam memberikan pola asuh kepada para santri ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Seperti contoh pada saat memberikan hukuman, kita harus memastikan bahwa sepenuhnya itu untuk mendidik santri tersebut dan bukan atas dasar emosi si pengurus atau si masyayikh.

Untuk itu bagi setiap pengurus, pengasuh dan siapapun yang bertanggung jawab dalam pendidikan santri ia harus memperhatikan pola asuh di pondok pesantren yang ia kelola dan sadar sepenuhnya bahwa setiap intervensi yang diberikan kepada santri adalah untuk mendidik mereka menjadi manusia yang lebih baik ke depannya. []

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Redupnya Minat Nyantri: Refleksi Atas Daya Tarik Pendidikan Pesantren
Formalitas Makna Halalbihalal dalam Timbangan Ushul Fikih
Antara Tap dan Sentuhan: Refleksi Teknologi Digital dan Kerapuhan Moralitas Manusia
Pesan bulan Syawal untuk para santri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.