Literasi Religi Santri, Sebagai Implementasi Toleransi di Era Kini

Literasi religi, menurut ilmuwan, Diane L More, ialah kemampuan untuk melihat dan menganalisis titik temu antara agama dan kehidupan (baik sosial, politik, dan budaya dari bermacam sudut pandang.)

Diane menuliskannya dalam artikel dengan judul Overcoming Religious Illiteracy: A Cultural Studies Approach dalam situs World Connected History.

Mengingat kompleksnya keragaman yang ada di dunia Pesantren. Menjadi bermanfaat adalah sebuah keharusan diri bagi setiap santri. Memproduktifkan dengan aneka ragam karya, salah satunya merawat budaya Sastra Pesantren di era masa kini.

Dengan membentuk wadah komunitas literasi, inilah jalur yang saya pilih. Sebagai ‘jalan’ alternatif dalam menanamkan ghirah menulis bagi santri di Pondok Pesantren saya, (Pesantren Al-Hamidiyah, Depok- Jawa Barat).

Aktivitas menulis juga dapat menumbuhkan rasa cinta para santri terhadap karya-karya Ulama Nusantara dengan manaqib-manaqibnya, syair-syair dan buku-buku yang ditulis oleh orang-orang pesantren.

Kalau istilah saya sendiri, para santri melalui pertunjukan seni literasi “Orkestra Sastra Santri”, dapat mencipta harmonisasi dzikir dan fikir yang juga telah termaktub dalam kidung, syair-syair, bait-bait puisi, dan naskah cerita novel yang dikemas dengan menggunakan bahasa sastra.

Literasi mencakup seluruh sendi, boleh diterapkan melalui model konvensional maupun digital. Generasi santri Indonesia disiapkan karakternya agar di kemudian hari bisa menjadi pemimpin bangsa yang sangat mencintai Sastra.

Tujuan literasi religi untuk meningkatkan kualitas keimanan, dan dengan mentadabburi cerita fiksi, seperti kumpulan puisi, cerpen dan novel. Literasi biasanya diterapkan melalui keterampilan membaca dan menulis.

Dewasa ini di era kemudahan digital, komunitas menulis online kian menggeliat di berbagai media sosial. Maka menjadi sangat penting menghubungkan antara media atau wadah literasi dengan nilai-nilai religiusitas khas didikan orang-orang pesantren, serta menyajikan narasi-narasi islam yang menyejukkan.

Baca Juga:  Pentingnya Berteman dengan Non Muslim

Berkaitan dengan kemampuan santri di dalam mengolah rasa dan mengekspresikan diri melalui aktivitas literasi (tulis-menulis) tentu kebiasaan ini dapat meningkatkan kemampuan daya kritis mereka dan juga menuangkan kesegaran gagasan melalui tulisan. Kaum santri hari ini jauh lebih produktif dan berani tampil di ruang-ruang digital dengan memproduksi karya-karya yang inspiratif, edukatif dan inklusif.

Bila kita tengok perjuangan kaum santri di masa kemerdekaan, ada begitu banyak sahabat santri yang sejak usia muda telah mengambil peran penting di masa-masa perjuangan itu.

Namun hari ini medan pertempuran di era digital bagi kaum santri adalah menelusuri belantara sosial media yang dipenuhi informasi yang belum tentu kebenarannya, mesti dilakukan proses kroscek, tabayyun.

Masa muda adalah masa-masa terbaik. Karunia muda ini harus tersalurkan dengan baik. Para santri muda harus berani beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Santri dengan keterampilan literasinya dapat menciptakan sesuatu yang baru, gagasan baru, penawaran-penawaran inovatif yang memiliki daya kreatif.

“Santri itu hobinya meniru padi, tumbuh semakin berisi di kemudian hari, itulah berkah dari para Kiai.”

Berkaitan dengan masifnya komunitas literasi. Saya bersama teman-teman alumni Pesantren Al-Hamidiyah, Depok pun membuat komunitas literasi Gerakan Penulis Santri, yang disingkat “GPS”.

Setiap komunitas literasi memiliki gaya khas-nya masing-masing. Komunitas Gerakan Penulis Santri (GPS) memiliki muatan nilai-nilai Agamis, Humanis dan Humoris. Tiga hal yang melandasi komunitas ini. Dengan harapan Santri dan para alumni pesantren kami (Pesantren Al-Hamidiyah, Depok) turut berkontribusi aktif di bidang literasi.

Gerakan menulis ini bertujuan untuk menghadapi pendangkalan ajaran Islam dengan narasi-narasi yang berusaha mengadu-domba, yang dilakukan secara sengaja maupun tidak untuk membenturkan sesama anak bangsa di ranah sosial media. Dengan menulis para santri akan mengaktualisasikan dirinya yang otentik dan tentu berpegang teguh dalam ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. (27/12)

Baca Juga:  Agama, Nalar, dan Televisi Hari Ini

Penulis: Abdul Majid, Founder Komunitas Penulis Santri, GPS.

Abdul Majid Ramdhani
Penulis merupakan lulusan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok dan melanjutkan mondoknya di Pesantren Al-qur'an Syihabudin Bin Ma'mun, Caringin Banten. Bagi diri penulis, "Menulis bisa menjadikanmu optimis, romantis & humanis". Penulis juga lulusan KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) di kampus STAI INDONESIA JAKARTA dan Penulis buku "Jurnal: Jurus Nulis Anak Milenial".

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini