post power syndrome

Pada hakekatnya manusia bermula dari lahir, tumbuh dan berkembang mencapai puncak, menurun dan berakhir dengan wafat. Inilah sunnatullah, normalnya manusia, walau pada prakteknya ada juga yang dipanggil Allah swt, sejak lahir, usia anak dan remaja, dewasa, dan di usia senja. Semuanya itu tidak lepas dari takdir-Nya. Di antara proses kehidupan ini yang menarik adalah tidak semua orang yang turun dari puncak karir memiliki kesiapan yang cukup dan sehat, sehingga menjadi post-power syndrome.

Post-power syndrome adalah gejala yang terjadi yang mana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (pangkat, jabatan, kesuksesannya, kecantikannya, ketampanannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa menerima realita yang ada saat ini. Pada masa lalu dan sebelumnya mendapatkan posisi yang membanggakan, tetapi saat ini posisi itu lepas dan dalam keadaan yang tidak ada yang dibanggakan. Hidup biasa seperti orang kebanyakan. Namun kadang-kadang tampilannya seperti pada saat berada pada posisi sebelumnya.

Post-power syndrome tidaklah datang tiba-tiba, melainkan disebabkan oleh sejumlah Faktor, yaitu faktor stressor fisik, faktor stressor psikologis, dan faktos usia. Namun yang lebih umum dapat dilihat bahwa penyebab Post-power syndromes adalah datangnya usia pensiun, di samping turunnya dari jabatam tertentu. Walaupun secara luas bisa dimaklumi bahwa orang yang biasanya memiliki aktivitas penting, tiba-tiba berhenti, apakah karena sakit atau dihentikan dari aktivitas, tetapi tidak siap menjadi orang biasa. Memang post-power syndromes itu bisa dari faktor eksternal dan internal, tetapi yang lebih berat itu faktor internal yang disebabkan oleh ketidaksiapannya menerima kenyataannya.

Kehadiran post-power syndromes itu tidak bisa dilepaskan dari cara pandang terhadap jabatan, pangkat, atau apapun yang membuat berada pada posisi terhormat. Jika posisi ini dianggap sebagai suatu keagungan atau kebesaran atau kehormatan, sehingga bisa dijadikan klaim sesuatu untuk bisa disombongkan atau sebagai alasan untuk takabbur, maka sehabis turun dari posisi tersebut cenderung memiliki potensi post-power syndromes. Namun jika posisi atau jabatan itu sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, maka orang itu akan bekerja dengan adil dan selalu melayani, yang pada akhirnya akan siap sekali menjadi orang biasa dan insya Allah terjauhkan dari post-power syndromes. Dengan begitu bahwa post power syndromes itu cenderung diciptakan sendiri.

Baca Juga:  Post Tradisionalisme Islam: Suatu Diskursus Kaum Intelektual Muda NU

Orang yang mengalami post-power syndromes itu pada hakekatnya membikin masalah sendiri. Yang akibatnya tidak hanya merugikan diri sendiri, melainkan yang lebih parah merugikan orang lain, bahkan institusinya sendiri. Merugikan sendiri, karena dia hidup dalam bayang-bayang atau angan-angan serta menyiksa dirinya sendiri karena kepribadiannya terpecah, split personality. Merugikan orang lain, karena orang lain menjadi tidak nyaman menerima perlakuan orang yang mengindap post-power syndrome secara tidak tepat dan fair, sehingga bisa jadi timbul berontak dan konflik. Yang jelas post power syndromes merugikan semua. Tak sedikit keuntungan yang bisa dipetik.

Untuk mengantisipasi timbulnya post-power syndromes bisa dilakukan dengan persiapan diri menghadapi turun jabatan atau pensiun baik terkait dengan aspek fisik, psikologis maupun finansial. Menjaga kesehatan fisik dan kondisi mental. Jika persiapan dilakukan lebih lama, akan lebih baik. Juga penyediaan keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, termasuk penyediaan biaya obat untuk kesehatan. Selain itu bisa juga menyalurkan keahlian yang dimiliki pada setting yang berbeda, termasuk pengabdian untuk kegiatan sosial kemasyarakatan dan sosial keagamaan.

Selanjutnya, jika diperlukan untuk mengatasi orang yang mengalami post-power syndromes, maka keluarga juga bisa memainkan peran. Salah satu di antaranya memberikan rekognisi bahwa dalam karirnya sudah memberikan yang terbaik semoga menjadi bagian dari amal baiknya. Walaupun sudah tidak aktif lagi baik dalam jabatan atau tugas, apa yang sudah ditinggalkan tetap berarti. Demikian juga kolega kerja tetap respek terhadap pribadi maupun karya-karya yang telah ditinggalkan. Semuanya ini diharapkan mampu menghilangkan secara perlahan-lahan gejala post-power syndromes.

Demikianlah sekelumit tentang post-power syndromes yang perlu kita kenali. Post-power syndromes bukanlah monopoli mantan pejabat, sang juara, dan bos sukses saja, tetapi dalam batas tertentu bisa menimpa lainnya, jangan-jangan kita juga. Yang jelas post-power syndromes lebih banyak madzarat-nya, daripada maslahahnya. karena potensial timbulkan masalah psikologis dan sosial. Semoga kita terjauhkan, atau terbersihkan dari benih-benih post-power syndrome. Kita harus banyak bersyukur, menerima apa yang ada dengan qanaah, dan ikhlas terhadap takdir Allah swt. Semakin dekat dengan akhir usia, semakin dekat dengan sang Khaliq. Semoga. Aamiin. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini