Berita

UNISMA Adakan Seminar Kontroversi Cadar di Indonesia

Seminar "Cadar" UNISMA

Serangkaian diesnatalis Universitas Islam Malang (UNISMA) mengadakan seminar nasional, tadi Kamis sore (09/01). Bertempat di aula KH. Oesman Mansur yang pukul 13.00 WIB terjadwal dimulai sudah dipenuhi audien dari berbagai kampus, baik mahasiswa, dosen maupun karyawan civitas akademika.

Pemateri yang mengisi diantaranya Ahmad Tohe,MA, Phd dosen Universitas Negeri Malang, Dr.H.A. Syamsu Madyan,LC,MA. Dosen Universitas Negeri Malang, serta terakhir Dr. Merry Fridha Tri Palupi, S.Sos.,M.Si. pelaku peneliti perempuan sekaligus dosen tetap  Ilmu Komunikasi Universitas Tujuh belas Agustus Surabaya.

Bekerjasama dengan Dai Intelektual Nusantara Network (DINUN) dan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama serta panitia dienatalis UNISMA yang ke 39 tahun.

Berikut poin-poin pemaparan dari ketiga narasumber :

Hijab merupakan sebagai trend di enam tahun terakhir ini, dahulu penyebutan mulai dari tudung, sampai kerudung. Hal ini jika ditelisik sebenarnya adalah proses bagaimana mengangkat agar kerudung go international. Kalau pecinta kerudung diberi nama kerudungers tidak pas, dan yang pas memang adalah hijab, dengan penambahan hijaber’s membuat lebih keren dan laku dipasaran. Dapat kita lihat tiga aspek dalam hijab. Pertama, sebagai trend modis, kedua, menganggap sebagai nilai norma akan simbol keislaman. Ketiga,media sebagai agen pengaruh.

Hanya ada di Indonesia hijab yang mempunyai banyak model, kreatif dan sangat bermacam-macam bentuk sampai harganya jutaan.

Kajian cadar ini sangat sensitive diperbincangkan, karena yang pro mengatakan ini wajib harus untuk akhwat dan yang kontra mengklaim bahwa ini adalah budaya. Dalam membahas tersebut sebenarnya kita tidak boleh menyampingkan sosiologi-antropologi pada zaman arab dahulu. Karena ini tidak dapat dipisahkan.

Agama selalu tumbuh, lahir, an berkembang alam konteks budaya. Adalah mustahil membayangkan pemisahan antara agama dan budaya. Budaya Arab pernah (dan sedikit/banyak masih) mempresentasikan islam. Walaupun demikian, islam bukanlah arab. Pelajaran fassafat dan sejarah akan membuat kita melihat bagaimana nila-nilai agama akan berakulturasi dengan symbol-simbol budaya.

“Dalam beragama kita harus menyerahkan kepada ahlinya yang sudah bertahun-tahun atau bahkan sedari kecil bergelut dalam keilmuan itu, seperti halnya kedokteran kita harus menyerahkan kepada ahlinya.” tutur dosen Bahasa dan Sastra Arab Universitas Negeri Malang

Sekarang ini banyak orang yang baru belajar agama, yang ngustadz  tidak begitu faham agama berbicara politik, seolah-olah mengetahui seluk beluk politik. Ini yang menimbulkan benih-benih fitnah.

Diakhir sesi dibuka pertanyaan, banyak yang antusias untuk bertanya. Ada Sembilan audien yang bertanya bermacam-macam keluhan, atau masalah. Mulai dari yang serius ataupun yang membuat seluruh ruangan gerr dengan pertanyaan humor tapi mengena.

Kenapa yang dipermasalahkan cadar sedangkan yang membuka aurat dibiarkan. Adalagi yang menanyakan kenapa peraturan pemerintah aparatur Sipil Negara ASN tidak diperbolehkan menggunakan cadar?. Langsung dijawab oleh Bapak Tohe, “agar tanggung jawab yang diberikan demi pelayanan yang maksimal untuk masyarakat, bertatap langsung face to face.”

Ada juga yang menanyakan bagaimana menjaga pandangan lelaki, karena yang menjadi perbincangan hanya si pemakai cadar, tidak ke pembahasan yang melihat (laki-laki). Apakah harus dengan gerakan atau menggunakan kaca mata kuda? Pertanyaan yang menggelitik bagi pemateri. “Pribadi masing-masing, tidak bisa diformalkan.” tutur direktur DINUN.

Acara selesai pukul 16.30 WIB dengan ditutup oleh moderator, aktivis perempuan Ibu Dr. Qurrota A’yun, M.Pd.  (Madchan Jazuli)

Redaksi
Redaksi PesantrenID

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Berita