Press ESC to close

Mengapa Kita Masih Mengingat Orang yang Pernah Merendahkan Kita?

Mengapa, ketika seseorang akhirnya berhasil, justru wajah orang-orang yang dulu meremehkannya kembali terlintas dalam ingatan?"

Barangkali hampir setiap orang pernah mengalami hal ini. Ketika cita-cita yang dahulu terasa mustahil akhirnya tercapai, atau ketika kehidupan mulai berubah menjadi lebih baik, tiba-tiba ingatan membawa kita kembali pada masa ketika diremehkan, ditolak, bahkan dianggap tidak akan mampu menjadi apa-apa. Sebagian orang menganggap hal itu sebagai tanda bahwa kita masih menyimpan dendam. Sebagian lainnya melihatnya sebagai bahan bakar yang membuat seseorang terus berjuang hingga mencapai keberhasilan.

Lantas, apakah kecenderungan tersebut merupakan sesuatu yang wajar?

Psikologi menjawab: ya. Mengingat pengalaman pahit merupakan salah satu cara alami otak bekerja. Yang perlu diperhatikan bukanlah mengapa kita masih mengingatnya, melainkan bagaimana kita menyikapi ingatan itu.

Dalam psikologi modern terdapat konsep yang dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih mudah memperhatikan dan mengingat pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif. Roy F. Baumeister bersama Ellen Bratslavsky, Catrin Finkenauer, dan Kathleen D. Vohs melalui artikel klasiknya Bad Is Stronger Than Good (2001) menjelaskan bahwa pengalaman buruk meninggalkan jejak psikologis yang lebih kuat daripada pengalaman yang menyenangkan. Itulah sebabnya seseorang mungkin telah menerima ratusan pujian sepanjang hidupnya, tetapi satu penghinaan saja mampu bertahan dalam ingatan selama bertahun-tahun.

Temuan tersebut sejalan dengan penjelasan Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow (2011). Menurut peraih Nobel Ekonomi ini, otak manusia memang dirancang untuk lebih peka terhadap ancaman daripada kenyamanan. Dari sudut pandang evolusi, kemampuan mengingat bahaya membantu manusia bertahan hidup. Karena itu, pengalaman yang menyakitkan lebih mudah tersimpan dibandingkan pengalaman yang biasa-biasa saja.

Inilah yang menjelaskan mengapa ketika seseorang mencapai kesuksesan, kenangan tentang masa-masa sulit sering kali ikut muncul. Bukan semata-mata karena ia ingin membalas perlakuan orang lain, melainkan karena keberhasilan itu mengingatkannya pada perjalanan panjang yang pernah ditempuh. Ingatan tersebut menjadi bagian dari kisah hidup yang membentuk siapa dirinya hari ini.

Albert Bandura dalam Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997) menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya tumbuh melalui pengalaman menghadapi tantangan. Tidak sedikit orang yang menjadikan keraguan, hinaan, atau sikap meremehkan dari orang lain sebagai pemicu untuk belajar lebih giat, bekerja lebih keras, dan terus berkembang. Dalam konteks ini, luka bukan lagi menjadi penghalang, melainkan berubah menjadi energi yang menggerakkan.

Namun demikian, psikologi juga memberikan peringatan. Mengingat masa lalu tidak selalu membawa dampak positif. Ketika seseorang terus-menerus memutar ulang pengalaman pahit tanpa mampu melepaskannya, ia dapat terjebak dalam rumination, yaitu kecenderungan mengulang pikiran negatif secara terus-menerus. Susan Nolen-Hoeksema dalam Women Who Think Too Much (2003) menunjukkan bahwa pola pikir seperti ini berkaitan dengan meningkatnya risiko stres, kecemasan, bahkan depresi. Ironisnya, seseorang bisa saja telah mencapai banyak keberhasilan, tetapi tetap merasa tidak bahagia karena masih hidup di bawah bayang-bayang luka masa lalu.

Carl Rogers, salah satu tokoh utama psikologi humanistik, dalam On Becoming a Person (1961) mengingatkan bahwa kedewasaan bukan berarti melupakan pengalaman hidup, melainkan mampu menerimanya tanpa membiarkan pengalaman itu menguasai diri. Luka boleh tetap menjadi bagian dari sejarah hidup, tetapi tidak boleh menjadi pengendali arah kehidupan.

Pandangan ini menemukan gaungnya dalam filsafat. Aristoteles, melalui Nicomachean Ethics, menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai eudaimonia, yaitu kehidupan yang baik melalui pembentukan karakter dan kebajikan. Karena itu, persoalannya bukan apakah kita masih mengingat orang yang pernah merendahkan kita. Persoalannya adalah apa yang lahir dari ingatan tersebut. Jika yang tumbuh adalah dendam, maka kita sesungguhnya masih terikat pada masa lalu. Sebaliknya, jika yang lahir adalah ketabahan, kebijaksanaan, dan empati, maka luka telah menjelma menjadi guru kehidupan.

Gagasan serupa juga disampaikan Viktor E. Frankl dalam karya monumentalnya Man's Search for Meaning (1946). Frankl menulis, "When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves." Ketika keadaan tidak lagi dapat diubah, manusialah yang ditantang untuk bertumbuh. Kalimat sederhana ini mengingatkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukan kita, tetapi oleh bagaimana kita memilih untuk merespons pengalaman tersebut.

Dalam kehidupan sosial, hampir semua orang akan mengingat siapa yang pernah mendukungnya dan siapa yang pernah meragukannya. Itu adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, ukuran kedewasaan bukanlah seberapa panjang daftar orang yang pernah melukai kita, melainkan seberapa besar kemampuan kita mengubah pengalaman itu menjadi pelajaran. Orang yang benar-benar berhasil biasanya tidak sibuk membalas penghinaan, melainkan menggunakan keberhasilannya untuk memberi manfaat yang lebih luas.

Pada akhirnya, mengingat orang yang pernah merendahkan kita adalah sesuatu yang normal secara psikologis. Memori manusia memang lebih mudah menyimpan pengalaman yang sarat emosi. Akan tetapi, kesuksesan sejati bukanlah ketika kita mampu membuktikan bahwa orang lain telah keliru menilai diri kita. Kesuksesan sejati adalah ketika kita tidak lagi menggantungkan harga diri pada pengakuan mereka. Sebab, keberhasilan yang paling bermakna bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Saat itulah luka tidak lagi menjadi beban yang harus dipikul, tetapi berubah menjadi pijakan yang mengantarkan seseorang menuju kedewasaan.

Wildan Miftahussurur, S.Ag., S.H., M.Pd. (Wakil Kepala Kesiswaan SMP Nurul Qarnain dan Kepala Bidang Penelitian dan Publikasi Institut KH Yazid Karimullah)

Wildan Miftahussurur

Wildan Miftahussurur, S.Ag., S.H., M.Pd. adalah alumnus Ma'had Aly Nurul Qarnain dan Universitas At-Taqwa Bondowoso. Saat ini mengabdikan diri di Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember. Ia aktif sebagai Editor in Chief Islamic Studies of Global South (ISGS), serta Assistant Editor Journal of Islamic Economics Perspectives (JIEP) dan Indonesian Journal of Islamic Law (IJIL) UIN KHAS Jember.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

K.H. Ali Yafie dan Gagasan Fikih Lingkungan
Refleksi Ngaji Jawahirul Qur’an Gus Ulil (Episode 28): Ayat-Ayat Kosmis, Dialektika Evolusi, dan Membaca Ulang Narasi Keimanan
NYAI HJ. QOMARIYAH: SOSOK PENDIAM BERJIWA TANGGUH (Catatan Pertama pada Haul Simbah Nyai Hj. Qomariyah binti KH Abdul Karim, Lirboyo)
Menakar Riyadhah: Nalar Etis dan Sufistik ala Kiai Zuhri Zaini

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.