Press ESC to close

Alumni Pesantren, Kader NU Ini Dipercaya Memimpin Sekolah Negeri di Pacitan

  • Jun 27, 2026
  • 4 minutes read
  • 16 Views

Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ula Ngawak Kertosono Nganjuk ini patut diapresiasi. Ketekunan dan ketaatan saat menimba ilmu di pesantren telah mengantarkannya pada posisi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dia kini diberi amanah sebagai kepala sekolah SMAN 2 Ngadirojo Kabupaten Pacitan. 

Ya, namanya cukup singkat, Maslachah. Pendidikan sarjananya juga ditempuh di STAI Miftahul Ula Nglawak. “Jurusan PAI tamat tahun 2002,” ujarnya. Baru tahun 2014 dia melanjutkan S-2 ke Konsentrasi Supervisi Pendidikan Universitas Islam Malang. “Lulus 2016, atas beasiswa dari Departemen Agama RI,” imbuhnya. Saat ini, dia menyelesaikan disertasinya di UIN Syaikh Wasil Kediri. 

Sebagai abdi negara, dia diangkat sebagai PNS menjadi guru mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) ditugaskan di SMAN Pace Nganjuk sejak tanggal 1 April 2006. Kemudian mutasi ke SMAN Patianrowo Nganjuk. Di sekolah ini, dirinya pernah menjadi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. 

Perempuan penggemar kuliner bakso ini menuturkan kabar pelantikan pertama kali diperoleh dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Kabupaten Nganjuk. “Pelantikannya langsung oleh Gubernur Jawa Timur hari Rabu tanggal 3 Juni 2026 kemarin,” tuturnya. Lokasi penugasan baru diketahuinya setelah pelantikan dan pembinaan di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

“Awalnya perasaan saya agak cemas saat tahu penempatannya ternyata di Pacitan, khawatir keluarga tidak berkenan, karena harus berjauhan,” kisahnya. “Tapi alhamdulillah suami dan anak-anak yang saat itu ikut di acara pelantikan sangat mendukung tugas yang saya emban. Kami semua yakin dan percaya semua adalah takdir dari Allah,” ujarnya.

Bagi perempuan kelahiran 27 Juli 1978 ini, lanjutnya, motivasi utamanya menjadi kepala sekolah adalah untuk ikut serta dalam membangun karakter peserta didik melalui kebijakan-kebijakan yang bisa mewarnai dunia pendidikan. “Selain itu saya secara pribadi juga ingin membuktikan bahwa guru PAI juga bisa memiliki hal yang sama, kompetensi yang sama dengan guru mata pelajaran umum lainnya,” tuturnya. 

Disinggung agenda untuk memajukan SMAN 2 Ngadirojo, dia memiliki jargon MAJU. “Ini akronim dari empat agenda pokok,” ujarnya. “Pertama adalah mandiri dalam berpikir dan bertindak,” jelasnya. 

“Kedua adalah adaptif terhadap lingkungan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan perubahan zaman,” tuturnya. Ketiga adalah juara dalam prestasi akademik dan non-akademik, baik lokal, nasional maupun internasional. Sedangkan keempat, imbuhnya, adalah unggul dalam karakter, layanan pendidikan dan kualitas lulusan.

Untuk mewujudkan visi itu, dirinya sudah memiliki beberapa program unggulan. “Mulai dari program SMADA Ngadirojo Berprestasi, Sekolah Ramah Berkarakter, Sekolah Green School Ketahanan Pangan hingga Program Guru Hebat Sekolah Hebat,” tambahnya. Termasuk di antaranya program kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), orang tua, alumni dan masyarakat lokal. “Sehingga pada akhirnya SMAN 2 Ngadirojo menjadi pilihan utama masyarakat,” harapnya.

Dia memprediksi tantangan ke depan adalah membangun kepercayaan diri dan seluruh warga sekolah. “Mampu nggak ya jadi pemimpin, bisa nggak ya memimpin perubahan dari sekolah biasa menjadi luar biasa,” ucapnya. “Termasuk meningkatkan mutu pendidikan di tengah keterbatasan sumber daya, apalagi sekolah berada di pegunungan, dengan medan yang lumayan ekstrim dan jauh dari akses fasilitas umum,” tambahnya. 

Ini membutuhkan kepemimpinan mumpuni sebagai solusi. “Dan alhamdulillah pengalaman di organisasi sudah menempa jiwa kepemimpinan yang saya alami,” ujarnya. Tercatat tahun 2009-2013 dia menjadi Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Nganjuk. “Sekarang ditunjuk menjadi dewan pembinanya,” imbuhnya. 

Menurut penuturan Dr Budi Harianto, ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Nganjuk, sosok Maslachah sebagai kader NU yang aktif di berbagai kegiatan di Nganjuk. “Setelah purna di Fatayat, beliau duduk sebagai Dewan Ahli PC ISNU Kabupaten Nganjuk,” ujarnya. 

Dosen UIN Satu Tulungagung ini mengapresiasi atas prestasi dan amanat baru yang diemban. “Semoga Ibu Maslachah sehat dan sukses dalam melaksanakan tugas baru ini di Pacitan,” pungkasnya. 

Perempuan yang tinggal di Desa Pisang Kecamatan Patianrowo Nganjuk ini menikah tanggal 20 November 2000. Suaminya Dr. H. Solichul Hadi bertugas sebagai pengawas di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk sekaligus Bendahara PCNU Nganjuk. Dari pernikahan ini dikaruniai tiga anak. Ketiganya adalah Maschan Fadhil Muhammad Al-Hafidz, Ahmad Ghozali Rifani dan Ridha Iqlima Khumaida. (muk)

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Ranting NU Kayangan Gelar Lailatul ljtima' di Pesantren Izzatul Qur'an
Gebyar Muharam IGRA Diwek, Wujud Kepedulian Guru RA kepada Sesama
Selasa Legi MWCNU Diwek Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Pengajian Umum
Wisuda Santri Alif Laam Miim, Pengasuh Tekankan Ilmu dan Keberkahan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.