Press ESC to close

Tradisi yang Disensor Modernitas

Dalam dominasi cara pikir modern, karomah dicibir sebagai mitos dan haul dianggap warisan feodal, seolah tradisi tersebut tak layak hadir di ruang publik yang menjunjung rasionalitas.

Pengetahuan modern bekerja sebagai kekuasaan yang menentukan batas antara yang sah disebut ilmiah dan yang dianggap irasional. Tradisi non-Barat dicitrakan mistik, tertinggal, dan tak layak hadir dalam wacana akademik.

Pola ini terlihat dalam penerjemahan puisi Jalaluddin Rumi oleh Coleman Barks, seperti dicatat Rozina Ali di The New Yorker. Rujukan-rujukan sufistik nyaris dihapus, menjadikan Rumi bukan tampil sebagai sufi, melainkan penyair romantis yang laris dikomersialisasi.

Dalam Muslim Society, Ernest Gellner menggunakan pendekatan sosiologis dan antropologis, memandang tasawuf sebagai mekanisme sosial untuk menjembatani ketegangan antara elite agama dan masyarakat awam, bukan sebagai laku spiritual yang otentik.

Melalui Barks dan Gellner, kita melihat bahwa sekularisme yang mengklaim dirinya netral, tapi dalam praktiknya malah mengesampingkan unsur-unsur spiritualitas yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah menurut standar logika modern, seperti tasawuf dan sufisme.

Berbeda dengan pola di Nusantara, Sunan Kalijaga justru menanamkan ruh tauhid ke dalam budaya lokal melalui wayang, gamelan, dan tembang. Islam hadir membumi tanpa menjadi alat dominasi, sementara tradisi Jawa menjadi wahana transenden yang tak tercerabut dari akar sejarahnya.

Jika Islam tak menghapus budaya, tak menaklukkan yang lokal, dan tak menanggalkan akar tradisi, masih layakkah disebut Islamisasi? Ironisnya, karomah yang dulu pernah menyatukan tradisi dengan spiritualitas, kini justru dicurigai, bahkan ditolak oleh sebagian umat.

Persepsi tersebut tidak lepas dari warisan kolonialisme intelektual, modernisme anti-Sufi, dan orientalisme akademik yang menjauhkan Islam dari akar sufistiknya. Selama tiga abad terakhir, gerakan reformis melontarkan kritik tajam terhadap tasawuf.

Tokoh seperti Ibn Abd al-Wahhab menyebarkan narasi yang menyingkirkan simbol-simbol sufi dari ruang keislaman. Ziarah kubur, maulid, tahlil, haul, dan tradisi spiritual lainnya dianggap menyalahi tauhid.

Representasi sufisme turut didistorsi dari luar. Artikel "Tasawwuf in the West: Goofy Sufis?" mencatat bahwa sejak abad ke-20, gerakan ini bahkan mendapat dukungan struktural dari negara Amerika dan Inggris untuk ikut menyebarkan anggapan bahwa tasawuf adalah bid‘ah atau syirik.

Di Nusantara, Sunan Kudus menunjukkan bahwa Islam tak harus datang dengan benturan. Ia melarang penyembelihan sapi bukan karena kompromi akidah, tetapi demi menghormati keyakinan masyarakat Hindu. Dakwah yang merawat tauhid dengan menjaga harmoni budaya, apakah layak dicap sebagai bid‘ah atau syirik?

Karomah tidak melulu soal keajaiban adikodrati, melainkan juga kemampuan membaca konteks sosial dan budaya untuk menyampaikan pesan iman secara efektif.

Dalam tradisi Islam, karomah justru merupakan bentuk kemuliaan yang tak dapat diukur secara empiris, tetapi hidup dalam kesadaran spiritual umat. Ia adalah anugerah Tuhan atas laku keimanan seseorang. Meski bukan mukjizat, karomah mampu membawa dampak sosial.

Semasa hidup, para wali membina masyarakat melalui dakwah, hadir dalam kehidupan sosial, dan menjadi penengah dalam konflik. Setelah wafat, pengaruh mereka justru meluas dan berkembang menjadi peringatan tahunan seperti haul yang turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Di Solo dan Martapura, haul Habib Ali Alhabsyi serta Abah Guru Sekumpul membentuk ekonomi kultural berskala besar, melibatkan jutaan jamaah dari berbagai penjuru, termasuk mancanegara. Di Pasuruan, peringatan Kiai Abdul Hamid menghidupkan ekonomi lokal melalui ribuan pedagang kecil. Di Jombang, haul Gus Dur membuka ruang bagi pelaku UMKM dan komunitas lintas identitas untuk terlibat dalam sirkulasi ekonomi berbasis spiritualitas.

Fenomena ini kerap dipandang sebagai personifikasi berlebihan atau warisan feodalisme. Dalam cara pandang sekular, keberlanjutan pengaruh tokoh setelah wafat dianggap tidak rasional.

Padahal, dalam tradisi Islam, penghormatan kepada para wali dan peringatan maulid Nabi bukan pemujaan simbolik, melainkan bentuk kecintaan sekaligus penghargaan atas peran mereka dalam menyebarkan ajaran.

Dalam wacana kolonial, praktik-praktik spiritual seperti haul dan maulid kerap dicitrakan irasional, mistik, dan tak ilmiah, lalu dilekatkan dengan label bid‘ah atau syirik. Tradisi semacam ini dianggap tak layak hadir di ruang publik modern yang menjunjung rasionalitas.

Pandangan seperti itu bukan sekadar bias intelektual, melainkan turut membatasi ekspresi keimanan dan menyingkirkan spiritualitas dari lanskap kebudayaan. Kita perlu memahami sejarah Islam Nusantara secara utuh agar kekayaan nilai lokal dan warisan spiritual yang membentuk wajah keislaman bangsa ini tidak terbunuh saat perang narasi.

Tradisi semacam haul dan maulid perlu dirawat, agar tetap menjadi ruang tafakur yang jernih. Jika dibiarkan melenceng, keduanya bisa hanyut dalam kemasan kampanye politik yang dibungkus nuansa spiritual.

Islam macam apa yang terus disuarakan di ruang publik? Mereka yang merawat iman lewat tradisi, atau mereka yang menjual rasionalitas demi kuasa yang dibungkus keimanan?

 

Penulis: Eka Nusa Pertiwi (aktris, sutradara, pelatih akting, produser teater. Alumnus S-1 Seni Teater dalam bidang keaktoran di Institut Seni Indonesia Yogyakarta sejak 2008, kemudian melanjutkan studi S-2 Penciptaan dan Pengkajian Seni di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dengan tesis berjudul “Penciptaan Post-Teater: Pengembangan Bentuk Teater Post-dramatik di Era Post-Truth").

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
ISRA’–MI’RAJ:  SUATU KAJIAN KEIMANAN, SAINS, DAN SOSIAL
Rethinking Spirit Isra Mikraj: Spiritual Sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga
Menuju Kesalehan Sosial

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.