Let’s be honest dulu ya: topik tentang seksualitas itu kalau muncul di obrolan, banyak orang otomatis langsung kikuk, salah tingkah, atau pura-pura sibuk sama HP buat menghindar. Di pesantren, kata “seksualitas” sering dianggap kayak Voldemort—the topic that must not be named. Padahal, semua manusia (termasuk santri yang tiap hari ngaji) punya tubuh, punya rasa penasaran, dan butuh ilmu supaya tidak tersesat oleh “fakta-fakta ngawur dari Internet”.
Jadi, apakah ngomongin seksualitas itu dosa? No, bestie. Yang dosa itu kalau kita ngomongin dengan cara yang vulgar, merusak adab, atau malah menyebarkan hal-hal maksiat. Tapi kalau dibahas dengan adab, ilmu, dan nilai Islam, maka obrolan itu justru jadi ibadah: thālabul ‘ilm alias mencari ilmu!
Kenapa Kita Masih Gagap Ngomongin Seksualitas?
Pertama, karena budaya malu. “Malu bertanya sesat di jalan” itu relate banget di topik ini. Banyak remaja akhirnya malu bertanya dan memilih Google secepat kilat sebagai guru. Masalahnya, Google itu kayak hutan—kamu bisa menemukan ilmu, bisa juga nyasar ke konten yang bikin dosa berjamaah kalau nggak hati-hati.
Kedua, ketakutan akan stigma. Begitu ada yang nanya, “Bu, menstruasi itu normalnya berapa hari?” tiba-tiba responnya jadi, “Astaghfirullah, kamu nanya apa sih?” Padahal, itu pertanyaan ilmiah plus fardu ‘ain untuk dipahami!
Ketiga, kurangnya role model yang bisa menjembatani bahasa ilmiah dengan bahasa remaja. Topik ini sering hanya dibahas saat problem sudah terjadi. Kalau belum terjadi? “Nanti aja, kamu masih kecil.” Padahal pencegahan lebih penting daripada penyesalan.
Table of contents [Show]
Seksualitas Itu Bukan ‘Cabul’, Tapi Ilmu
Kita harus bedain:
- Ilmu seksualitas (seks & kespro) → ilmiah, menjaga, beradab
- Konten pornografi → syahwat, merusak akhlak dan otak
Edukasinya itu tentang:
- Bagaimana tubuh bekerja
- Pubertas & perubahan hormon
- Batasan aurat & adab pergaulan
- Menjaga diri dari kekerasan/pelecehan
- Hak atas kesehatan & keselamatan tubuh
Islam tuh sangat lengkap dalam membahas kesucian, adab hubungan suami istri, hingga fitrah manusia. Bedanya, Rasulullah SAW mengajarkannya dengan sopan, jelas, bertahap, dan tidak vulgar. Jadi kalau sekarang ada ustaz/ustazah, guru, atau santri yang mau bahas dengan cara baik, itu justru meneruskan sunnah edukatif.
Obrolan Sehat: Bukan Untuk Bikin Kepo, Tapi Biar Nggak Kecolongan
Kalau remaja belajar dari teman sebaya, rumor, atau konten random, hasilnya sering halu. Misalnya, mitos “kalau bergaul sama cowok nanti hamil lewat tatapan mata” (yes, ini pernah dipercaya sebagian remaja!). Atau yang ekstrim: “asal pakai plastik es batu sudah aman” (NOPE!).
Edukasi tuh bukan buat ngajarin “gimana caranya”, tapi gimana menjaga diri, memahami tubuh, dan bersikap bertanggung jawab sesuai syariat dan akhlak.
Cara Ngomongin Seksualitas Biar Halal, Tidak Vulgar, dan Nyaman
Nah, ini yang sering bikin bingung: ngomonginnya gimana biar nggak awkward?
Berikut tips “S.O.P Halal Talk” versi santai namun beradab:
1. Pakai Bahasa yang Sopan & Netral
Gunakan istilah ilmiah atau bahasa yang jelas tapi tidak cabul.
Contoh: organ reproduksi, hubungan suami istri, pubertas, haid.
Jangan pakai bahasa kasar atau slang yang menjurus. Bukan karena jaim, tapi karena menjaga marwah pembicaraan.
2. Fokus ke Ilmu, Bukan Drama
Tujuannya edukasi, bukan gosip. Bedakan:
✅ “Bagaimana cara menjaga kebersihan saat menstruasi?”
❌ “Eh, kamu udah puber belum? Kok suaramu berubah sih hehe?”
3. Sesuaikan dengan Usia & Kesiapan
Anak SD, SMP, SMA, santri, dan calon pengantin itu beda level ilmunya.
Islam mengenal konsep tadarruj — bertahap.
4. Jangan Sendirian, Pakai Lingkungan yang Aman
Idealnya, edukasi dilakukan oleh orang berkompeten: ustaz/ustazah, guru BK, tenaga kesehatan, atau konselor. Biar tidak salah arah dan tetap menjaga batas.
5. Hubungkan dengan Nilai Islam
Bahas soal:
- Menjaga kehormatan (hifdz al-‘irdh)
- Adab pergaulan lawan jenis
- Menjaga pandangan (ghadhlul bashar)
- Tanggung jawab terhadap tubuh
Biar anak muda paham: Menjaga diri itu ibadah, bukan penjara.
6. Kasih Ruang Bertanya Tanpa Judgement
Kalimat “Ih kok kamu nanya kayak gitu?” langsung mematikan diskusi.
Ganti dengan: “Pertanyaan yang bagus. Kita bahas ya dengan cara yang sopan dan sesuai syariat.”
Biar Tidak Vulgar: Ingat “3 Filter Adab”
Sebelum ngomong, cek dulu:
- Ada faedahnya?
- Sesuai adab & syariat?
- Tujuan mendidik, bukan menggoda?
Kalau lolos, lanjut. Kalau hanya buat lucu-lucuan? Skip, mending bahas meme kucing dulu.
Santri dan Remaja Berhak Dapat Edukasi yang Benar
Banyak kasus pelecehan atau pernikahan dini terjadi karena orang nggak paham batasan, adab, dan hak tubuh mereka. Edukasi kespro dan seksualitas yang benar bikin remaja:
- Punya harga diri
- Tau cara melindungi diri
- Paham konsekuensi
- Tidak gampang dirayu modus rayyan zaman now
Akhir Kata: Tabu Boleh, Tapi Jangan Bikin Gelap Ilmu
Boleh menjaga adab dan malu — itu akhlak.
Tapi kalau rasa “tabu” dipakai buat menghalangi ilmu yang penting, itu justru merugikan.
Islam tidak pernah menyuruh kita buta soal urusan tubuh dan seksualitas. Yang Islam larang adalah vulgar, jorok, dan bebas tanpa aturan. Jadi PR kita bukan “jangan bahas”, tetapi “bahas dengan cara yang benar”.
Obrolan seksualitas yang halal itu:
- Beradab
- Membuka wawasan
- Menjaga marwah
- Berlandaskan ilmu & iman
Karena ilmu itu cahaya. Dan cahaya tidak boleh kita tutupi hanya karena takut dianggap “tabu”. []