Press ESC to close

Renungan di Hari Guru Nasional: Membangun Peradaban Baru Melalui Guru

Dalam setiap fase sejarah peradaban manusia, selalu ada kelompok yang menjadi lokomotif perubahan, penentu arah perkembangan, sekaligus penanggung jawab masa depan generasi. Para pemimpin besar, ilmuwan, pembaharu sosial, cendekiawan, dan pemikir visioner lahir dari rahim pendidikan. Tetapi jarang disadari bahwa inti dari seluruh proses lahirnya manusia-manusia besar tersebut adalah peran guru. Guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan peradaban. Ketika kita berbicara tentang pembangunan bangsa dan pembentukan masa depan, sejatinya kita sedang berbicara tentang kualitas guru yang mengajar hari ini.

Tidak ada bangsa besar yang lahir tanpa pendidikan yang kuat, dan tidak ada pendidikan yang kuat tanpa guru yang bermartabat. Jepang mampu bangkit dari kehancuran setelah Perang Dunia II bukan karena sumber daya alamnya—karena negeri itu nyaris tidak memilikinya—melainkan karena investasi tanpa kompromi pada guru. Begitu pula Korea Selatan, Finlandia, dan Singapura menjadikan guru sebagai profesi strategis, bahkan lebih prestisius dibanding profesi birokrasi. Mereka menyadari bahwa guru adalah pondasi pembentuk cultural capital, intellectual capital, dan moral capital yang menjadi modal utama peradaban.

Guru sebagai Arsitek Peradaban

Ketika berbicara tentang membangun peradaban baru, yang dimaksud bukan sekadar pembangunan fisik seperti gedung sekolah, laboratorium, atau fasilitas pembelajaran, tetapi jauh lebih fundamental: bagaimana membangun pola pikir, karakter, kreativitas, kesadaran moral, kecerdasan emosional, serta etos kerja generasi. Semua itu lahir melalui pendidikan, dan pendidikan terjadi melalui relasi humanis antara guru dan peserta didik.

Guru bukan hanya penyampai informasi, tetapi arsitek kemanusiaan yang membentuk cara manusia berpikir dan bertindak. Guru adalah sosok yang memperkenalkan makna kehidupan, menanamkan nilai-nilai kejujuran, membimbing untuk menemukan jati diri, memotivasi agar tidak menyerah, dan memberi arah ketika generasi muda kehilangan tujuan. Dalam tangan seorang guru, seorang anak bisa menjadi ilmuwan, pemimpin bangsa, pengusaha besar, atau sebaliknya, menjadi sosok pasif tanpa kontribusi jika tidak disentuh dengan benar.

Di era digital hari ini, fungsi guru semakin penting. Mesin pencari dapat memberikan informasi dalam hitungan detik, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan sentuhan empati, kedewasaan pikiran, dan hikmah reflektif yang diberikan guru. Teknologi hanya alat, guru tetap subjek utama yang mengarahkan bagaimana teknologi digunakan. Dunia membutuhkan lebih dari sekadar manusia cerdas—dunia membutuhkan manusia bijaksana, dan kebijaksanaan adalah produk pendidikan kemanusiaan.

Tantangan Guru dalam Era Disrupsi

Namun peran strategis guru hari ini berada di tengah tantangan besar. Revolusi industri 4.0, kecerdasan buatan, perubahan sosial, dekadensi moral, dan derasnya banjir informasi menciptakan generasi yang memiliki akses pengetahuan luas tetapi rentan kehilangan arah. Guru sering dituntut menjadi banyak hal sekaligus: pendidik, konselor, teladan karakter, inovator teknologi, kreator konten pendidikan, bahkan pengganti peran orang tua ketika lingkungan keluarga semakin lemah.

Realitasnya, penghargaan terhadap guru di sebagian masyarakat masih rendah. Guru sering dibebani administrasi berlapis, tuntutan kurikulum, dan pekerjaan teknis yang mengalihkan fokus dari mendidik ke urusan administratif. Di sisi lain, transformasi kurikulum menuntut guru untuk terus beradaptasi dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek, berorientasi karakter, dan mengedepankan kreativitas. Banyak guru terjebak di persimpangan antara idealisme pendidikan dan keterbatasan sistem.

Jika bangsa ini ingin membangun peradaban baru, maka langkah pertama harus dimulai dengan memartabatkan guru. Bangsa yang tidak menghormati gurunya sedang menggali kubur peradabannya sendiri.

Transformasi Pendidikan Melalui Guru Visioner

Untuk membangun peradaban baru, diperlukan guru visioner—guru yang tidak hanya mengajar, tetapi menginspirasi; guru yang bukan hanya menyampaikan materi, tetapi membangkitkan kesadaran; guru yang tidak membesarkan angka nilai, tetapi membesarkan kualitas kemanusiaan.

Ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan: Pertama, Restorasi martabat profesi guru. Guru harus diposisikan sebagai profesi prestisius, bukan pelengkap sistem. Penghargaan finansial, kesejahteraan, dan ruang independensi profesional harus diperkuat. Kedua, Penguatan kompetensi abad 21
Guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat; mahir digital, kreatif, komunikatif, dan kritis. Guru masa depan adalah creative learning designer. Ketiga, Menanamkan kesadaran karakter dan spiritualitas. Pembelajaran bukan hanya kognitif tetapi juga pembentukan etika, empati, dan integritas. Peradaban tanpa karakter adalah kehancuran. Keempat, Kemitraan orang tua–sekolah–komunitas. Pendidikan tidak boleh dibebankan hanya kepada guru. Dibutuhkan ekosistem bersama yang menjadikan seluruh masyarakat sebagai sekolah kehidupan. Kelima, Menjadikan kelas sebagai ruang dialog dan pembebasan. Kelas yang baik bukan pabrik hafalan, tetapi tempat lahirnya imajinasi dan keberanian berpikir.

Menatap Masa Depan

Bangsa ini tidak kekurangan sumber daya manusia. Kita memiliki generasi muda dengan energi besar, kreativitas tinggi, dan keinginan untuk berubah. Yang mereka butuhkan adalah bimbingan guru sejati yang mampu menyalakan api semangat mereka. Guru adalah pelita yang menerangi jalan peradaban. Dalam kegelapan zaman, guru tetap menjadi cahaya.

Tidak ada investasi yang lebih penting dibanding investasi pada guru. Jika kita ingin Indonesia berdiri sejajar dengan bangsa maju dunia, tidak ada jalan lain kecuali melalui guru. Di tangan mereka masa depan ditulis, di pikiran mereka peradaban dirancang, dan melalui hati mereka nilai-nilai kebaikan diturunkan.

Oleh karena itu, membangun peradaban baru bukan slogan, tetapi gerakan kesadaran kolektif: memuliakan guru, memperkuat pendidikan, dan menanamkan harapan pada anak-anak bangsa. Jika guru kuat, pendidikan kuat; jika pendidikan kuat, peradaban akan kokoh.

Catatan penting yang perlu kita pahami: “Guru bukan hanya profesi—guru adalah fondasi peradaban. Dan dari ruang kelas kecil itulah sejarah masa depan ditentukan.”

Prof Dr. Hj. Titik Triwulan Tutik, S.H., M.H

Guru Besar dan Sekretaris Komisi Etik Senat UINSA Surabaya

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
Tradisi yang Disensor Modernitas
ISRA’–MI’RAJ:  SUATU KAJIAN KEIMANAN, SAINS, DAN SOSIAL
Rethinking Spirit Isra Mikraj: Spiritual Sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.