Press ESC to close

Pesantren dan Boarding School: Dua Jalan namun Satu Tujuan

Pesantren dan boarding school adalah dua bentuk lembaga pendidikan yang sering disandingkan, seolah berdiri pada dua kutub berbeda. Padahal keduanya lebih mirip dua cahaya yang menerangi ruang yang sama, hanya memancar dari arah yang berbeda. Pesantren memancarkan cahaya tradisi yang hangat; boarding school memancarkan cahaya modernitas yang terang. Ketika keduanya bersinar bersama, pendidikan Indonesia justru menjadi lebih utuh.

Pesantren adalah warisan berabad-abad dalam sejarah Islam Nusantara. Ia bukan sekadar bangunan dengan pondok-pondok sederhana, melainkan laboratorium peradaban. Sejak abad ke-16, pesantren telah menjadi pusat tafaqquh fi ad-din pendalaman agama dan pembentukan karakter melalui pendekatan kesederhanaan, adab, dan hidup berjamaah. Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya, Tradisi Pesantren menggambarkan pesantren sebagai sistem pendidikan yang paling otentik, lahir dari rahim budaya sendiri, bukan salinan dari mana pun dan dari ciri khasnya sendiri.

Di pesantren, ilmu bukan benda mati. Ia hidup melalui talaqqi, belajar langsung di hadapan guru, sebagaimana tradisi ulama sejak masa Nabi. Kitab-kitab turats seperti Ta’lim al-Muta’allim, Ihya’ Ulumuddin, Syarh al-Hikam, dan Tafsir Jalalayn dijadikan peta batin untuk membentuk santri menjadi manusia yang matang secara spiritual, akhlak, dan keilmuan. Pada titik ini, pesantren bukan hanya sekolah ia adalah ruang pembentukan jati diri.

Di sisi lain, boarding school hadir sebagai model pendidikan modern yang menggabungkan kurikulum nasional, internasional, dan sistem asrama yang tertata rapi. Dalam penjelasan Peter Gordon dalam A History of Education, boarding school dirancang untuk membentuk manusia yang disiplin, menguasai akademik, terampil berbahasa asing, dan siap menghadapi dunia global yang sangat kompetitif. Dengan fasilitas lengkap, sistem manajemen yang tertata, serta pembinaan karakter terukur, boarding school menjawab kebutuhan era teknologi dan percepatan informasi.

Jika pesantren adalah akar yang kuat, boarding school adalah cabang yang menjulang. Pesantren menanamkan adab sebelum ilmu sebagaimana pesannya KH Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Boarding school menanamkan ketertiban sebelum prestasi. Dua pendekatan ini tidak bertentangan; keduanya adalah dimensi penting dalam pendidikan holistik.

Hubungan guru dan murid di pesantren dibangun bukan hanya dari otoritas ilmiah, tetapi juga kedalaman ruhani. Kiai bukan sekadar pendidik; ia adalah mursyid, pembimbing jiwa. Suasana ngaji sorogan atau bandongan, suasana subuh dengan aroma kitab kuning, derap langkah santri menuju masjid, semua itu menciptakan ritme hidup yang menanamkan nilai. Boarding school membangun kedekatan guru-siswa melalui mentoring, konseling akademik, dan program pengembangan diri. Keduanya membentuk karakter, hanya melalui citarasa yang berbeda.

Pesantren kuat dalam kedalaman hikmah. Boarding school kuat dalam luasnya kompetensi. Pesantren menguatkan spiritualitas. Boarding school menguatkan rasionalitas. Pesantren membentuk kepekaan batin. Boarding school membentuk ketajaman nalar. Jika ibarat tubuh manusia, pesantren adalah jantung, boarding school adalah otak dan keduanya dibutuhkan agar pendidikan berjalan dengan seimbang.

Dalam buku Azyumardi Azra, The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia, pesantren disebut sebagai pusat kelestarian tradisi ilmu Islam yang mampu bertahan dalam guncangan zaman. Di sisi lain, banyak boarding school menjadi pusat inovasi, memperkenalkan literasi digital, kurikulum internasional, hingga integrasi teknologi AI dalam pembelajaran. Indonesia sangat beruntung memiliki keduanya.

Kitab-kitab pesantren seperti Hikam Ibn ‘Atha’illah, Nashoihul ‘Ibad, atau Bidayat al-Hidayah memberikan kedalaman moral dan filosofis. Buku-buku modern di boarding school memberikan wawasan saintifik dan global. Dua khazanah ini, ketika dipadukan, menghasilkan generasi yang berakar kuat namun berwawasan luas.

Inilah harmoni pendidikan Nusantara. Tidak saling mengalahkan, tetapi saling mengisi. Pesantren menjaga kebijaksanaan masa lalu agar tidak hilang. Boarding school menjaga kesiapan masa depan agar tidak tertinggal. Ketika keduanya berjalan bersama, kita mendapatkan generasi yang beradab sekaligus cakap, tawadhu sekaligus percaya diri, religius sekaligus produktif.

Pendidikan Indonesia bukan hanya tentang memilih antara pesantren atau boarding school. Pendidikan Indonesia adalah tentang merawat cahaya dari keduanya agar masa depan bangsa diterangi tradisi yang kokoh dan inovasi yang cerah.

Sebagai ending, sebuah pesan indah dari Imam Malik yang sering disampaikan kepada murid-muridnya:
“Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat baik generasi awalnya.”

Wildan Miftahussurur

Wildan Miftahussurur adalah alumnus mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Jember sekaligus mahasiswa pascasarjana IAI At Taqwa Bondowoso saat ini. Aktif di dunia akademik dan keagamaan, ia menjadi bagian dari tim editorial Indonesian Journal of Islamic Law serta terlibat dalam berbagai kegiatan Nahdlatul Ulama di Jawa Timur. Wildan dikenal sebagai penulis muda yang konsisten menyuarakan gagasan

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
Tradisi yang Disensor Modernitas
ISRA’–MI’RAJ:  SUATU KAJIAN KEIMANAN, SAINS, DAN SOSIAL
Rethinking Spirit Isra Mikraj: Spiritual Sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.