Press ESC to close

Metode Pembelajaran Pesantren yang Mengabadi

Sebagai institusi pendidikan, pesantren merupakan lembaga yang pertama dan tertua di Indonesia. Pesantren merupakan basis historis serta akar filosofis pendidikan di Indonesia itu sendiri. Zuhairi Misrawi (2010) mengidentifikasi pesantren sebagai kawah candradimuka yang menjadi tahap penting bagi para generasi muda Nusantara sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ke luar negeri. 

Eksistensi pesantren di Nusantara berkorelasi dengan sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia. Terutama dalam kontribusi meraih dan mengisi kemerdekaan yang sudah diraih Indonesia. Meminjam analisis Manfred Ziemek dalam opus-nya Pesantren dalam Perubahan Sosial (1986), pesantren adalah embrio utama serta tonggak berdirinya sejarah pendidikan di Indonesia sampai dewasa ini. 

Zamakhsyari Dhofier dalam The Pesantren Tradition (1980) menulis pesantren memiliki lima unsur, yaitu kiai, santri, pondok, masjid dan pembelajaran membaca kitab kuning. Kelima elemen tersebut merupakan ciri khas khusus yang dimiliki sebuah pesantren dan membedakan pesantren dengan institusi lainnya. Kelima elemen ini saling menunjang eksistensi sebuah pesantren.

Mengabadi

Sebagai institusi pendidikan yang sudah berdiri di Nusantara jauh hari sebelum era kolonial, pesantren memiliki tiga metode pembelajaran. Ketiganya berhasil menopang esksistensi dunia pesantren dalam memberikan kontribusi positif untuk mencerdaskan anak bangsa. Ketiga metode itu adalah bandongan, sorogan dan wetonan. 

Meski dengan istilah berbeda, secara substansi, ketiga metode diadopsi dunia pendidikan masa sekarang. Konsistensi dunia pesantren untuk tetap mengimplementasikan tiga metode pembelajaran di dunia modern mewariskan karakter positif bagi generasi milenial. Bahkan ketiganya menunjukkan resiliensi pesantren dari berbagai zaman, mulai pra-kolonial hingga sekarang di era digital.

Bandongan didefinisikan Ahmad Saefuddin (2005) sebagai metode yang dilaksanakan saat kiai membacakan kitab kuning tertentu. Sedangkan santri memberikan makna di kitabnya tentang materi yang sedang dibacakan kiai. Makna yang diberikan menggunakan aksara Pego, sebagai salah satu ciri khas Islam Nusantara. 

Meski pesantren tidak mengenal evaluasi secara formal, dengan pengajaran secara bandongan ini, kemampuan para santri dapat diketahui keberhasilan kreativitasnya. Kiai juga bisa mengetahui siapa di antara para santrinya yang berhasil atau gagal. Meskipun metode ini dikritik sebagai metode pengajaran tradisional karena sistemnya yang monolog, top-down dan indoktrinatif.

Armi (2002) mengunggulkan bandongan dibanding metode-metode lainnya. Ini dikarenakan lebih cepat dan praktis untuk mengajar santri yang jumlahnya banyak. Bandongan juga lebih efektif bagi santri yang telah mengikuti sistem sorogan secara intensif. Materi yang diajarkan bandongan sering diulang-ulang sehingga memudahkan dan memahaminya. Bandongan juga efisien membiasakan dalam mengajarkan ketelitian memahami kalimat yang sulit dipelajari.

Pada era sekarang, bandongan menjelma menjadi metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar dalam Kimia. Ini sudah dilakukan Ratih Miftakhur Rosidah (2022) saat mengajarkan materi asam basa di MAN 3 Kediri. Begitu juga Effendi Chairi (2019) yang menggunakan pemikiran Paulo Friere dan Taksonomi Bloom untuk membedah metode bandongan di sebuah pesantren.

Metode sorogan, menurut Qodry A. Azizy (2000), diklaim lebih efektif dari pada metode-metode lainnya di pesantren. Dengan cara santri menghadap langsung ke kiai/ustadz secara individual untuk menerima pelajaran, kemampuan santri dapat terkontrol. Metode ini, menurut Ridlwan Natsir (2005), memungkinkan kiai mengawasi dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi kitab kuning yang dipelajari. Kiai tidak hanya sekadar mengetahui minat dan intelegensi siswa, tetapi juga tentang kepribadian, sifat dan karakter sebagai pribadi yang utuh.

Menurut Iys Nur Handayani dan Suismano (2018), sorogan berasal dari kata sorog (Jawa) yang berarti menyodorkan. Sehingga pada metode ini, seorang santri secara bergiliran harus men-sorog-kan (mengajukan) sebuah kitab kepada kiai untuk dibacakan di hadapannya. Metode ini, menurut Nurul Amin (2014), bisa dikatakan sebagai pembelajaran sistem privat yang dilakukan santri kepada seorang kiai, dengan istilah tutorship atau menthorship.

Santri, lewat sorogan, dapat menerima pelajaran dan pelimpahan nilai-nilai sebagai proses delivery of culture di pesantren. Ini karena sorogan lebih mengutamakan proses belajar dari mengajar, merumuskan tujuan yang jelas dan mengusahakan partisipasi aktif dari murid. Karakter sorogan juga menggunakan banyak feedback dan evaluasi serta memberikan kesempatan kepada murid untuk maju berdasarkan kecepatan masing-masing.

Metode sorogan akan membangun karakter mandiri bagi generasi milenial dalam menghadapi kehidupan. Sehingga akan muncul kompetensi dan kompetisi yang sehat di antara murid. Pada tataran lain, kemajuan individu murid akan lebih terjamin. Pada konsep ini, tercetuslah istilah student center pada masa sekarang.

Sedangkan wetonan merupakan metode pengajaran dengan cara kiai/ustadz membaca, menterjemahkan, menerangkan dan mengulas kitab atau buku-buku keislaman dalam bahasa Arab, sedangkan santri mendengarkannya. Pelaksanaannya secara rutin berdasarkan hari tertentu dalam sepekan atau sebulan. Lokasi pengajian juga tidak melulu di pesantren, tetapi juga bisa digelar di kampung sekitar. 

Pada metode wetonan, murid didorong sebagai generasi milenial untuk terus menjaga relasi positif dengan lingkungan sosialnya. Ini karena kepekaan sosial dan attitude menjadi kritik keras bagi generasi milenial era sekarang. Keduanya masih jauh dari ekspektasi, meski generasi milenial selalu dikaitkan dengan penguasaan teknologi dan informasi yang mumpuni.

Mutu Pendidikan

Sebagai “operator” dunia pendidikan di Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag), sekarang menggalakkan impementasi pembelajaran mendalam alias deep learning. Istilah ini dimaknai sebagai salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran. Tentu dengan memiliki karakter khas yang berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang sudah digunakan selama ini dalam pembelajaran di sekolah/madrasah. 

Deep learning merupakan pendekatan yang menekankan kepada pemahaman mendalam dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Ini berbeda dengan pembelajaran yang hanya mengutamakan hapalan atau penerimaan informasi pasif. Deep learning mendorong siswa untuk menghubungkan teori dengan dunia nyata, berpikir kritis dan menciptakan pengetahuan baru. 

Implementasi deep learning, menurut Kenya Swawikanti (2024), tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa. Tetapi juga mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan tuntutan zaman. 

Keberadaan deep learning dalam pembelajaran di sekolah/madrasah makin menegaskan murid harus tetap dekat dengan lingkungan sekitarnya. Melalui karakter progresif dan didukung perangkat evaluasi yang aplikatif, diharapkan murid mampu belajar kesalehan sosial. Sehingga mereka mampu melihat dunia dengan cakrawala luas melalui pengusaan sains dan aktualisasi nilai-nilai yang berlaku pada masyarakatnya secara menyeluruh. 

Dunia pesantren sudah seharusnya dijadikan cermin konkrit dalam memajukan kualitas pendidikan. Bahwa konsistensi mengimplementasikan tiga metode pembelajaran di atas telah mampu menjaga eksistensi pesantren di tengah gempuran perubahan zaman. Tidak sekedar ganti menteri ganti kurikulum. Dan, otomatis berganti pula “istilah-istilah baru” yang disosialisasikan. 

 

Penulis: Mukani (Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang dan dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk)

Redaksi PSID

Official Akun Redaktur Pesantren ID.

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
Tradisi yang Disensor Modernitas
ISRA’–MI’RAJ:  SUATU KAJIAN KEIMANAN, SAINS, DAN SOSIAL
Rethinking Spirit Isra Mikraj: Spiritual Sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.