Press ESC to close

Konfrontasi Iran Vs Israel-USA dalam Konsep Kosmologi Budaya Rudyard Kipling

Konfrontasi Iran vs Israel-USA yang berujung pada saling di antara mereka benar-benar telah melahirkan berbagai analisis baik segi politik praksis, geopolitik maupun hukum internasional. ‘Uji coba’ yang dilakukan Israil untuk mengusik Iran dengan penyerangan misil (rudal udara) ke Teheran telah dijawab dengan perbuatan yang sama. Al hasil di luar dugaan, USA pun ikut kaget dengan anak emasnya Israil yang luluh lantak oleh rudal-rudal ganas Iran. Ibarat pepatah Jawa mengatakan “tega larane ora tega patine” sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang berarti "tega sakitnya, tidak tega kematiannya". Ungkapan ini menggambarkan perasaan orang tua yang meskipun mampu menahan kesedihan melihat anaknya sakit, namun tidak tega membayangkan kehilangan anaknya. Jadi, orang tua mungkin bisa bersikap tegas atau bahkan terlihat "tega" dalam mendisiplinkan anaknya, tetapi mereka tidak akan tega jika anaknya sampai meninggal dunia. Atau ‘anak polah bapa kepradah” yang memiliki arti bahwa tingkah laku atau perbuatan anak akan membawa konsekuensi atau dampak bagi orang tua, baik itu dampak positif maupun negatif. Ungkapan ini menyiratkan bahwa orang tua turut bertanggung jawab atas tindakan anak-anak mereka, dan perilaku anak dapat mencerminkan didikan orang tua.

Pepatah itu pun terbukti, demi melihat kenyataan Israil babak-belur oleh serangan balik Iran, USA dengan dalih mendisiplinkan Iran yang dicurigai memiliki instalasi pembuatan senjata nuklir –tiga lokasi pengayaan nuklir dan militer Iran, yakni Natanz, Fordo, dan Isfahan pun dibombardir habis-habisan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tetapi senyatanya apa yang dilakukan USA tersebut tidak membuat Iran jera, tetapi sebaliknya serangan itu dibalas oleh Iran dengan dibombardir Pangkalan Militer AS Al Udeid di Qatar. Sungguh pemandangan yang jauh di luar dugaan negara-negara di dunia dengan keberanian Iran tersebut.

Lepas dari kenyataan konfrontasi Iran vs Israel-USA saat ini, sebenarnya secara konsepsi hal itu telah dipaparkan oleh Rudyard Kipling yang dikenal dengan kutipannya

"Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bertemu". 

Rudyard Kipling, dalam kutipannya tersebut menggambarkan perbedaan budaya dan pandangan dunia antara Timur dan Barat, seringkali disalahpahami. Meskipun secara harfiah menunjukkan perbedaan geografis, makna yang lebih dalam dari kutipan ini berkaitan dengan perbedaan filosofis dan cara berpikir. Kipling, yang lahir di India dan kemudian tinggal di Inggris, memiliki pemahaman mendalam tentang kedua budaya tersebut, tetapi dalam tulisannya, ia seringkali menekankan perbedaan tersebut, bahkan menganggap budaya Barat lebih unggul. 

Beberapa poin penting terkait kosmologi budaya Barat dan Timur dalam karya Kipling tersebut adalah: Pertama, Timur vs. Barat. Kipling memandang Timur (terutama India) sebagai tempat yang mistis, spiritual, dan penuh dengan kearifan kuno. Sementara Barat (Inggris) diasosiasikan dengan rasionalitas, materialisme, dan kemajuan. Meski penelitian Kipling saat itu hanya membandingkan kedua negara yang memang pernah dia tempati, tetapi senyatanya konsep ini berkembang untuk menggambarkan kehidupan di dunia barat (Eropa dan Amerika), dan dunia timur (Asia khususnya).

Kedua, Kolonialisme. Kutipan ini juga mencerminkan pandangan kolonial pada masa itu, di mana Barat menganggap dirinya lebih maju dan memiliki hak untuk memerintah bangsa-bangsa Timur. Barat selalu beranggapan golongan kulit tidak berwarna (Eropa) selalu lebih unggul dari bangsa kulit berwarna (Asia-Afrika). 

Ketiga, Pemisahan. Kipling tampaknya percaya bahwa perbedaan ini tidak dapat dijembatani, bahwa kedua budaya tidak akan pernah bisa sepenuhnya memahami atau berintegrasi satu sama lain. 

Keempat, Mitos dan Simbolisme. Kipling sering menggunakan mitos dan simbolisme dalam karyanya untuk menggambarkan perbedaan ini, misalnya, matahari yang terbit di timur dan terbenam di barat. 

Meski konsep Kipling begitu memberikan warna dalam hal kosmologi kebudayaan, tetapi beberapa kritikus menganggap bahwa Kipling terlalu mempolarisasi perbedaan ini, dan bahwa karyanya berkontribusi pada stereotip dan prasangka terhadap budaya Timur. 

Atas kritik tersebut, Kipling memberikan jawaban klise meskipun dia menekankan perbedaan, ia juga mengakui bahwa ada "dua pria kuat" yang bisa berdiri bersama, terlepas dari asal mereka, yang menunjukkan adanya potensi kesetaraan dan kerjasama, meskipun ada perbedaan budaya.

Dampak atas pandangan Rudyard Kipling

Satu pandangan besar dari kutipan "Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bertemu" semula merupakan asumsi Rudyard Kipling berdasarkan referensi dan kenyataan sejarah yang dipelajarinya. Istilah itu kemudian dimanifestasikan dalam puisi karya Rudyard Kipling “The Ballad of East and West". Puisi ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1889, dan telah banyak dikumpulkan dan diantologikan sejak itu.

Pada puisi tersebut Rudyard Kipling menggambarkan keberadaan dunia Timur dan Barat. Dunia Timur menurut Kipling merupakan dunia satu yang mengumpul dalam satu kesatuan utuh sebut saja misalnya di jazirah Arab. Di sana hidup sekumpulan negara-negara Timur Tengah (bangsa-sanga Arab) yang jika dilihat dari luar solid, bersatu-padu tetapi mereka adalah keropos di dalam. Hal ini disebabkan masing-masing memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda. Irak-Iran meski seolah-olah sebagai saudara kembar tetapi senyatanya mereka keropos dalam hal persekutuan. Dan ini telah diuji Barat dengan terjadinya perang teluk Irak-Iran 1980 hingga 1988. “Benua India” meski mereka terlihat padu dalam satu ‘benua’, tetapi di dalamnya pecah sehingga mengakibatkan perang yang tidak berkesudahan antara India dan Pakistan memperebutkan Kasmir pada tahun 1947, 1965, dan 1999, dan sejak tahun 1984, kedua negara juga terlibat dalam beberapa pertempuran-pertempuran dalam memperebutkan kuasa atas Gletser Siachen. Hal yang sama dengan Korea Utara dan Korea Selatan. 

Sementara itu negara Barat bagi Kipling berlaku sebaliknya, meski mereka dari luar terpisah dalam konstalasi dunia seperti di benua Eropa, Amerika, dan Australia - tetapi mereka satu dalam ikatan sejarah dan budaya. Mereka disatukan oleh kosmologi Budaya Yunani dan Romawi kuno yang memiliki pengaruh kuat pada seni, filsafat, dan pemikiran Barat. Dengan kosmologi ini dimanapun orang-orang barat berada mereka terikat oleh kesatuan darah dan budaya, sehingga penyerangan terhadap satu dari mereka sebut saja misalnya ada negara Timur tertentu yang menyerang Australia maka Inggris, Amerika dan negara Barat lainnya akan bergerak untuk membantu mati-matian. Kesatuan kosmologi demikian yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa di dunia Timur.

Guyonan dalam kosmologi budaya ini adalah semua bangsa Barat di benua manapun baik itu Eropa, Amerika, Australia sangat paham dengan cerita-cerita seperti Monalisa, Robin Hood, Cinderella, Snow White, dan lainnya. Dan itu diakui sebagai milik dan budaya mereka. Tetapi tidak demikian dengan bangsa di dunia Timur. Kisah Seribu Satu Malam (Alf Lailah wa-Lailah) meski seolah-olah merupakan kisah dari Timur Tengah apalagi bangsa Asia tetapi senyatanya itu hanyalah milik Bagdad-Irak. Begitupun dengan kisah Sampek Engtay hanyalah menjadi milik bangsa China, dan/atau Epos-epos besar seperti Ramayana dan Mahabarata hanyalah milik India. Meski yang terakhir ini memiliki pengaruh besar pada budaya-budaya lain di Asia, termasuk Indonesia melalui penyebaran agama Hindu dan perdagangan tetapi belum menjadi milik bangsa-bangsa Asia secara menyeluruh sebagaimana cerita dalam kosmologi budaya barat. 

Kenyataan demikian yang membuat bangsa Timur itu rapuh di dalam, sehingga sulit dalam penyatuan sebagai satu-kesatuan kosmologi budaya. Dalam aspek geopolitik bangsa-bangsa Timur berdiri satu-satu sehingga jika ada bangsa Barat yang menyerang mereka maka jangankan negara bangsa Timur lainnya membantu malah mereka menyalahkan dan/atau malah sebaliknya membela bangsa Barat. Dalam konteks inilah serangan Israil atas Iran merupakan pengujian dari teori-teori Kipling, dan senyatanya teori itu benar. Iran dengan  gagah berani berjuang sendirian dalam pembelaan dan pembebasan diri dari hegemoni barat, khususnya Israel-USA.

Prof Dr. Hj. Titik Triwulan Tutik, S.H., M.H

Guru Besar dan Sekretaris Komisi Etik Senat UINSA Surabaya

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
Tradisi yang Disensor Modernitas
ISRA’–MI’RAJ:  SUATU KAJIAN KEIMANAN, SAINS, DAN SOSIAL
Rethinking Spirit Isra Mikraj: Spiritual Sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.