Press ESC to close

Apakah Kuliah Itu Scam? Antara Realitas Sosial dan Cara Pandang yang Keliru

 

Di tengah maraknya konten media sosial yang menampilkan kisah sukses pasangan muda, muncul sebuah pernyataan bahwa “Kuliah itu kalau bisa dibilang scam” Pernyataan ini memantik diskusi yang menarik, terutama ketika kita melihat realitas di lapangan banyak lulusan perguruan tinggi masih kesulitan memperoleh pekerjaan, sementara sebagian orang yang tidak menempuh pendidikan formal justru tampak sukses secara finansial. Namun, menyederhanakan kuliah sebagai bentuk “penipuan” merupakan pandangan yang terlalu sempit dan tidak sepenuhnya adil dalam melihat persoalan secara utuh.

Kuliah pada hakikatnya bukan jaminan kaya, jabatan, atau hidup nyaman. Kuliah adalah proses atau sarana untuk menumbuhkan cara berpikir kritis, memperluas wawasan, melatih disiplin intelektual, dan membangun jaringan sosial. Masalah muncul ketika kuliah dipersepsikan sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan atau ketika seseorang kuliah tanpa tujuan, tanpa kesadaran, dan tanpa kesungguhan. Di titik inilah kekecewaan sering terjadi. Dalam agama Islam sejak awal tidak pernah menjanjikan dunia melalui satu jalan tunggal. Namun, Al-Qur’an menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi, terlepas dari hasil materi yang menyertainya. Allah Swt. berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah [58]: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa nilai ilmu tidak diukur dari gaji, jabatan, atau kecepatan sukses, tetapi dari kemuliaan proses dan dampaknya bagi kehidupan. Dengan kacamata ini kuliah tidak bisa disebut scam, selama ia benar-benar menjadi jalan untuk memperoleh ilmu yang bermakna dan bermanfaat. Selain itu, Rasulullah Saw. juga memberikan landasan yang sangat jelas mengenai posisi ilmu dalam kehidupan seorang muslim. Beliau bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Mājah)

Hadis ini menegaskan bahwa belajar adalah kewajiban moral, bukan sekadar kebutuhan ekonomi. Namun, kewajiban ini juga mengandung tanggung jawab ilmu harus dicari dengan sungguh-sungguh dan digunakan secara benar. Ketika kuliah dijalani asal lulus, minim pengembangan diri dan tanpa kesadaran sosial, maka kegagalannya bukan bukti bahwa kuliah menipu, melainkan bukti bahwa prosesnya kehilangan ruh.

Islam juga mengajarkan keseimbangan. Tidak semua orang harus kuliah, dan tidak semua kesuksesan lahir dari perkuliahan di kampus. Tetapi menyimpulkan bahwa kuliah adalah scam sama kelirunya dengan menganggap kuliah sebagai satu-satunya jalan hidup. Keduanya berangkat dari cara berpikir instan yang tidak sejalan dengan nilai Islam.

Islam juga mengajarkan bahwa hasil tidak selalu sebanding secara instan dengan proses. Allah  Swt. menilai usaha dan niat, bukan semata-mata hasil duniawi. Banyak orang berilmu yang hidup sederhana, namun ilmunya menjadi cahaya bagi masyarakat. Sebaliknya, ada pula yang sukses secara materi tanpa kuliah, tetapi bukan berarti jalannya bisa digeneralisasi untuk semua orang.

Yang perlu dikritisi bukan kuliahnya melainkan sistem, ekspektasi, dan mindset. Kuliah tanpa keterampilan, tanpa etika kerja, dan tanpa kesadaran realitas sosial memang berisiko mengecewakan. Namun kuliah yang dipadukan dengan akhlak, kerja keras, doa, dan ikhtiar nyata justru memperbesar peluang seseorang memberi manfaat. Sehingga  kuliah adalah alat  bukan tujuan. Ia bisa bernilai ibadah atau menjadi sia-sia, tergantung niat, cara, dan tanggung jawab kita dalam menjalaninya.

 

Khoirul Adib

CEO Santri Academy dan Ansor University

[Pesantren ID] hadir berkat kerja keras jaringan penulis dan editor yang terus memproduksi artikel, video, dan infografis seputar keislaman dan pesantren. Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki, dukunganmu akan sangat berarti untuk menjaga karya ini tetap hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.

Donasi QR Code

(Klik pada gambar)

QR Code Besar

Related Posts

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
Tradisi yang Disensor Modernitas
ISRA’–MI’RAJ:  SUATU KAJIAN KEIMANAN, SAINS, DAN SOSIAL
Rethinking Spirit Isra Mikraj: Spiritual Sebagai Fondasi Ketahanan Keluarga

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

@PesantrenID on Instagram
Pengalaman Anda di situs ini akan menjadi lebih baik dengan mengaktifkan cookies.