Hikmah

Zuhud Kiai Sahal

Kiai Sahal dalam Sebuah Akad Nikah/Doc.Istimewa

Di samping pakar fiqih, perilaku sehari-hari Kiai Sahal dihiasi nilai-nilai tasawuf, yakni nilai-nilai yang membeningkan hati menuju ridla Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam diri Kiai Sahal terintegrasi fiqh dan tasawuf sekaligus sebagai sarana bertaqarrub kepada Allah Ta’ala.

Ingat maqalah:

من تفقه بلا تصوف تفسق ومن تصوف بلا تفقه تزندق ومن جمع بينهما فقد تحقق

Orang mendalami fiqh tanpa dilambari tasawuf maka mudah melakukan kefasikan. Orang mendalami tasawuf tanpa pondasi fiqh maka jatuh dalam kezindikan (menyembunyikan kekafiran atas Iman). Orang yang mampu menggabungkan fiqh Dan tasawuf maka ia sudah menggapai puncak kebijaksanaan.

Kiai Sahal tidak hanya mengkaji ilmu tasawuf yang terlihat dari kitab-kitab yang dibaca, seperti Hikam, Ihya’ Ulumiddin, Ayyuhal Walad, Salalim al-Fudlala’, dan lain-lain, tapi Kiai Sahal juga pelaku-pengamal ajaran tasawuf tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak sekali orang yang mempelajari kitab-kitab tasawuf tapi belum mampu mengamalkannya. Kiai Sahal selain pakar tasawuf, juga sosok Sufi yang menjadikan nilai-nilai tasawuf sebagai sumber nilai yang melandasi seluruh aktivitas kehidupannya.

Zuhud

Salah satu ajaran tasawuf yang inhern dalam diri Kiai Sahal adalah zuhud. Zuhud adalah pola hidup yang tidak berorientasi materi dan jabatan. Pola hidup ini bukan menghindari benda dan kekuasaan, tapi menjadikan keduanya sebagai sarana menggapai ridla Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Abdul Ghoffar Rozin, 1 Maret 2012).

Dalam diskursus tasawuf, zuhud adalah:

فقد علاقة القلب بالمال وليس هو فقد المال

Hati yang tidak terpatri (kecantol) harta. Zuhud bukan Tidak Punya harta.

Maka jangan anggap Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad tidak zuhud. Justru keduanya orang yang paling zuhud karena jika makan untuk diri sendiri yang dimakan adalah rotidan gandum. Sedangkan ketika memberi makan orang lain dengan makanan yang Paling lezat (Salalim al-Fudlala’ karya Imam Nawawi Banten, h. 21).

Nabi bersabda:

ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما في أيدي الناس يحبك الناس

Zuhudlah dalam masalah dunia maka Allah mencintaimu Dan zuhudlah Apa yang Ada di tangan manusia maka manusia mencintaimu (HR. Hakim).

ازهد الناس من لم ينس القبر والبلي وترك افضل زينة الحياة الدنيا وأثر ما يبقي علي ما يفني ولم يعد غدا من أيامه وعد نفسه في الموتي

Manusia yang paling zuhud adalah orang yang tidak melupakan kubur dan kehancuran, meninggalkan perhiasan kehidupan dunia yang paling utama, memilih sesuatu yang abadi dari pada sesuatu yang rusak-hancur, Tidak mempersiapkan Hari besok dari sisa hari-harinya, dan mempersiapkan dirinya dalam kematian (HR. Baihaqi).

ازهد الناس في العالم أهله وجيرانه

Manusia yang paling zuhud pada orang yang berilmu adalah ahli ilmu dan tetangga-tetangganya (HR. Ibnu ‘Adi).

Zuhud Kiai Sahal

Banyak indikator kezuhudan Kiai Sahal Mahfudh yang bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain:

Pertama, informasi dari santri ndalem, Bapak Wakhradi, Kiai Sahal tidak kagum terhadap harta benda, misalnya Mobil. Hampir tidak pernah Kiai Sahal melihat-lihat Mobil kemudian mengaguminya seperti punya rasa cinta kepada Mobil.

Mobil dianggap sebagai sarana beribadah dan berjuang di jalan Allah, bukan menjadi tujuan hidup, sehingga Tidak Ada rasa bangga Dan sombong terhadap harta yang Ada.

Menurut sopir Kiai Sahal, Mas Sumar, awal-awal Kiai Sahal menggunakan Mobil adalah saat posisi beliau sebagai Rais Syuriyah PWNU Jateng dan Mobil tersebut bukan Mobil pribadi, tapi Organisasi. Mobil tersebut sangat sederhana, bukan Mobil mewah.

Kedua, menu makanan Kiai Sahal menurut informasi dari teman-teman Penulis yang menjadi Anak ndalem sangat sederhana. Bahkan digambarkan seperti menu santri yang Ada sayur-sayuran dan ikan Apa adanya, jauh dari kemewahan.

Penulis juga pernah Derek dahar di ndalem sekali dan menu makanannya memang sangat sederhana, benar-benar ala santri yang ala kadarnya dan jauh dari kesan tabdzir (menghambur-hamburkan harta) dan israf (berlebih-lebihan).

Ketiga, saat Penulis masih di Pondok Kajen (1995-1998), ndalem Kiai Sahal sangat sederhana. Meskipun posisi beliau adalah Wakil Rais Am Syuriyah PBNU dan Ketua Umum MUI Jawa Tengah, namun Rumah beliau sangat sederhana.

Keempat, dalam konteks Organisasi, Kiai Sahal Tidak mengambil manfaat dari Organisasi, tapi justru memberikan manfaat kepada Organisasi. Ketika menghadiri acara besar NU, seperti Muktamar, Munas dan Konbes, maka Kiai Sahal menggunakan Uang pribadi, bukan Organisasi. Kisah yang populer adalah pernah Panitia akan mengganti Uang Kiai Sahal saat menginap di Salah satu tempat, namun Kiai Sahal menolaknya.

Kelima, menurut cerita-cerita santri-santri ndalem Kiai Sahal, ketika beliau menghadiri acara-acara PBNU, seperti Muktamar, maka Kiai Sahal memilih bertempat di sebuah Rumah, bukan di hotel. Tentu ini adalah pelajaran zuhud Dan wirai sekaligus yang menghindari sesuatu yang Haram dan syubhat.

Keenam, dilihat dari pakean yang diagem Kiai Sahal saat menghadiri acara-acara Penting atau dalam kehidupan sehari-hari atau saat mengaji dengan santri, maka jauh dari kesan mewah. Justru yang kelihatan adalah kesederhanaan yang sangat kuat terpancar.

Ketujuh, menurut Ibu Tutik Nurul Janah (dalam buku Metodologi Fikih Sosial FISI 2015, h. 184), gerakan Ekonomi Kiai Sahal menggunakan pola ijtihad jama’i (ijtihad kolektif). Artinya, Kiai Sahal menekankan pada pembentukan lembaga Dan Penguatan sistem. Kiai Sahal memelopori Pendirian Rumah Sakit dan Bank sebagai upaya Kiai Sahal menitikberatkan kekuatan perubahan pada institusi dan sistem, bukan pada kekuatan individu.

Lebih lanjut Ibu Tutik Nurul Janah (h. 192) menyatakan, ijtihad jama’i berhasil jika Ada kolektivitas, keputusan Tidak untuk kepentingan pribadi atau menuruti Hawa nafsu, kontekstualisasi dilakukan bersama-sama, identifikasi dan solusi dilakukan kolektif, dan individu yang tergabung merupakan orang yang profesional dalam bidangnya.

Secara lebih tegas, Kiai Sahal membedakan antara Uang keluarga dan Pesantren yang dipimpinnya. Kiai Sahal wafat meninggalkan banyak unit usaha Pesantren, bukan unit usaha keluarga, sehingga unit usaha Pesantren ini digunakan untuk kebutuhan Pesantren Dan pengembangannya.

Begitu hati-hati Kiai Sahal dalam persoalan Ekonomi. Lagi-lagi ajaran zuhud-wirai sangat kuat tertanam dalam setiap langkah yang beliau lakukan Dan dalam setiap keputusan yang beliau ambil.

Semoga Kita mampu meneladaninya, amiin.

فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم – ان التشبه بالرجال فلاح

Dr. H. Jamal Makmur AS., M.A.
Penulis, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pati, dan Peneliti di IPMAFA Pati

    Rekomendasi

    Ketemuan (2)
    Cerpen

    Ketemuan (2)

    “Jadikan masa lalumu sebagai pelajaran, dan perbaiki di masa depan” Aku terbangun dalam ...

    1 Comment

    1. […] diberi tugas Kiai Sahal membersihkan kantor, mengantar surat, dan menyiapkan kebutuhan rapat (konsumsi, dan […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah