Yuk Berdzikir

Manusia setengah hewan setengah malaikat. Ada dua unsur yang dimiliki manusia sepanjang hidupnya. Manusia diciptakan sempurna. Dengan akal, manusia terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, disisi lain manusia juga dituntut untuk selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan hati yang dimiliki.

Sering kali manusia menjauh dari Tuhannya lantaran sisi hewannya lebih mendominasi, sehingga dia lupa akan peran dan tujuan awal manusia diciptakan. Dalam firmannya, Allah menyebutkan bahwa menciptakan manusia tidak lain adalah untuk menghamba, mengabdi kepadanya. Nyatanya, manusia lupa akan peran dan tugasnya. Dalam ayat yang lain, manusia mendapat amanah agar memakmurkan bumi dan seisinya.

Terjadi pro-kontra di kalangan makhluk langit ketika tuhan mendeklarasikan diri akan menciptakan manusia. Mereka akan merusak, menumpahkan darah di muka bumi. Kekhawatiran itu benar-benar terjadi. Manusia banyak menyebabkan kerusaan di atas bumi.

Ketika sudah merusak dengan nafsu dan ambisinya, maka manusia menjauh dari Tuhannya. Merusak adalah sifat yang tidak dimiliki Tuhan, hal ini bertolak belakang dengan sifat Tuhannya. Ketika sudah menjauh dari tuhannya, tentu ada sesuatu yang hilang dalam diri manusia. Antara akal dan hati akan terus-terusan menarik manusia ke jalannya masing-masing.

Akal, ketika sudah mengusai diri manusia, dirinya akan terjebak pada pemahaman yang keliru, ambisi, nafsu yang mendominasi. Hatinya akan padam dan tidak bisa memberikan arah dan penerangan dalam hidupnya. Sebaliknya, hati akan terus menyinari perjalanan hidup manusia. Waktu berlalu tidak begitu saja, ada nilai ibadah di dalamnya. Maka, jalan satu satunya untuk terus menghidupkan hati adalah berdzikir kepada-Nya.

Buku ini sangat layak dibaca siapapun, tidak pandang bulu. Karena, sejatinya setiap manusia mempunyai keharusan untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Boleh mengejar dunia, tapi jangan sampai dibutakan mata hatinya. Dunia hanya persinggahan, tidak untuk selamanya.

Baca Juga:  Resensi Buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas

Dalam diri manusia terdapat ruangan yang selalu menerima apapun yang masuk. Ketika banyak kebaikan yang masuk ke dalamnya, maka kejelekan terdesak dan mengecil. Sebaliknya, jika lebih banyak kejelekan yang masuk ke dalamnya, maka kebaikan akan terdesak dan mengecil. (17)

Syetan-selaku musuk abadi manusia- selalu mencari celah untuk mencari ruang dan membujuk manusia agar terjerumus ke dalam kemaksiatan. Bahkan, dalam hadits disebutkan bahwa syetan mengalir pada manusia (anak adam) seperti aliran darah. Bisa saja mereka menguasai seluruh ruangan sehingga tak ada lagi kebaikan, hatinya gelap dan mati. Bahkan, tidak bisa menerima kebaikan lagi di depannya.

Maka, untuk menghindari segala keburukan yang ada, manusia dianjurkan untuk selalu berdzikir agar hatinya hidup dan menerangi jalan hidup manusia. Syetan halus sekali membujuk manusia. Kita bisa mengendalikan hati sekarang, entah lima menit atau sepuluh menit yang akan datang kecuali diri ini selalu berdarap berada dalam lindungannya.

Orang yang paling bertakwa adalah orang yang senantiasa menyibukkan diri berdzikir kepada Allah. Dalam hati manusia terdapat sifat keras yang tidak bisa dilunakkan kecuali berdzikir kepadanya(38). Oleh karena itu, manusia dituntup berzikir setiap saat, ingat kepadanya agar tidak dikendalikan oleh syetan.

Dzikir menyatukan hal-hal yang terpisah dan memisahkan hal yang menyatu, menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Hati yang jenuh, risau dan tidak tahu arah tujuannya dengan berdzikir disatukan dalam ketentraman, ketenangan kenyamanan. Seseorang yang menyatu dengan nikmatnya dosa akan dipisahkan, dan setan yang menuntunnya akan dicerai-beraikan.112

Dzikir menyembuhkan segala penyakit hati. Manusia tanpa dzikir semisal ikan tanpa air. Ia akan mati perlahan. Begitulah manusia, tanpa dzikir, hatinya akan mati. Hidupnya hanya seonggok daging tanpa nilai di dalamnya.

Baca Juga:  Belajar Tawasut dari Sebuah Novel

Dzikir tidak cukup dengan lisan dan hati, tetapi juga dengan akal. Merenung atau mentadabburi ayat kauniyah, ayat tentang alam dan sebagainya. Segala yang ada-termasuk yang belum ada- adalah ciptaan Tuhan yang maha Kuasa. Lalu, siapakah manusia. Manusia adalah tanah. hidup di tanah akan kembali ke tanah. Jika manusia tanah, jangan pernah melangit. Mereka yang tak pernah melangit namanya akan menggema di langit.

Oleh karena itu, buku ini mengajak para pembaca untuk berdzikir agar terhindar gari segala macam cobaan dan godaan. Hidup tidak melulu tentang kenikmatan sesaat, ada yang abadi di akhirat kelak. Mereka yang mengendalikan dan menahan diri dari segala nikmat duniawi, mereka yang akan memperoleh kenikmatan abadi. Maka satu-satunya jalan yang harus ditempuh dengan berdzikir.

Semua amalan yang disyariatkan oleh Allah pada ujungnya berdzikir kepada-Nya. shalat, puasa, zakat pada ujungnya adalah dzikir. Maka, jangan anggap remeh dzikir. Ringan di dunia, namun berat ditimbangan akhirat. []

 

Buku                : Kekuatan Dzikir

Penulis            : KH. Mahsun Muhammad, M. A

Penerbit          : Qaf

Terbitan          : Februari, 2021

ISBN                : 978-602-5547-79-9

Musyfiqur Rozi
Alumnus Institut Ilmu Keislaman Annuqayah dan Santri Annuqayah Lubangsa Utara

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka