Sore itu saya bertemu dengan Mbah Fatih (lahir 1949). Mbah Fatih silsilahnya dari ayah dan ibu sambung ke Mbah Usman. Dari jalur ayah: Fatih bin Mujib bin Aqib bin Tandur bin Usman. Dari jalur ibu: Fatih bin Mulaikah binti Mustojidah binti Tandur bin Usman.

Mbah Fatih yang tinggal di Gedang sejak tahun 1970-an menyimpan kisah klasik yang menarik, termasuk kisah yang didapat dari Kiai Wahab.

Suatu saat di tahun 1969, Mbah Fatih didatangi santrinya Mbah Wahab yang bernama Kang Muhaini (penghuni pondok horor). Intinya Mbah Fatih disuruh datang ke ndalem Mbah Wahab. Sesampai di ndalem, Mbah Fatih disuruh makan lalu Mbah Wahab dawuh, “Insya Allah aku tahun 71 ditimbali Allah. Nek aku kapundut besok, bakale kiamat akhlak” (Insya Allah saya meninggal tahun 1971. Nanti sepeninggalku akan terjadi kerusakan akhlak yang semakin marajalela).

Masalah Mbah Kiai Wahab mengetahui akan wafatnya ini ada dua kisah lain dan dari sumber lain yang dimuat di edisi 2019 dari buku TMSMU “Tambakberas: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah”.

Di saat yang lain, Mbah Fatih dapat cerita dari Kiai Wahab tentang perang melawan penjajah, tepatnya saat resolusi jihad. Sebelum pencetusan resolusi jihad, Kiai Hasyim, Kiai Wahab dan Kiai Bisri ziarah ke makam Mbah Kiai Usman di Gedang (100 meter dari rumah saya). Sedikit informasi, Mbah Kiai Usman adalah menantu Mbah Kiai Sechah, pendiri pondok Tambakberas. Mbah Kiai Usman mempunyai menantu yang bernama Mbah Kiai Asy’ari (ayah Kiai Hasyim Asy’ari). Adapun Kiai Bisri diambil menantu Mbah Kiai Chasbullah. Mbah Kiai Chasbulllah ayah Kiai Wahab. Walhasil seluruh kiai di atas mempunyai relasi saudara.

Saat di makam Mbah Usman itulah secara metafisik, beliau bertiga diberi sorban oleh Mbah Kiai Usman. Mbah Kiai Usman juga bepesan, “Kalau berperang, jangan hanya ditujukan untuk membela umat Islam, tapi belonono (belalah) umatnya Allah.” Kata Mbah Fatih, seluruh manusia entah agama apapun adalah umatnya Allah yang perlu juga diperhatikan.

Tentu pesan Mbah Kiai Usman ini menarik. Pertama, dari sisi pandangan dasar bahwa ulama adalah pewaris Nabi yang bermisi membawa rahmat bagi seluruh alam, termasuk manusia. Misi ini relevan dengan hadis yang disebut al-musalsal bil awwaliyah:
«اِرْحَموا مَنْ في الأَرْضِ يَرْحَمُكُم مَنْ في السَّماء»
“Sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.”

Kedua, menarik dari kenyataan di area makam Mbah Usman di mana ada makam non muslim atau Hindu yakni istri Ronggolawe (dalam versi Mbah Fatih adalah Hindu, tapi dalam versi lain adalah Islam). Dalam tuturan Mbah Fatih, saat haflah pondok Bahrul Ulum Tambakberas tahun 2003-an, seperti biasa ada khataman di makam para kiai Tambakberas, salah satunya di makam Mbah Kiai Usman. Saat itu ada orang (katanya dari Bali) datang dan mempunyai catatan buku bahwa makam istri Ronggolawe juga ada di area makam Mbah Usman. Setelah dicari ada tumpukan batu bata lawas lalu diperbaiki. Makam istri Ronggolawe hanya berjarak 10 meteran dengan makam Mbah Kiai Usman, dan berdampingan dengan makam istri Mbah Kiai Usman dan istri Mbah Kiai Said.

Artinya Mbah Usman yang wafat belakangan dibanding istri Ronggolawe tidak berpesan agar dimakamkan di makam lain, semisal makam utara di mana ada Makam Mbah Sechah. Maka dapat disimpulkan bahwa Mbah Kiai Usman memang pribadi yang penyayang kepada seluruh hamba.

Nampaknya Gus Dur sebagai cicit Mbah Kiai Usman mengamalkan ajaran leluhurnya itu. Buktinya sangat banyak. Di sini saya contohkan yang terkait dengan Mbah Fatih. Tahun 2001 Mbah Fatih dipesani Gus Dur yang saat itu juga ada Kiai Hasib Wahab, Kiai Fadlullah dll, Gus Dur berkata, “Dik, ramuten makam iki, tapi gak onok bisyarohe.” intinya Mbah Fatih disuruh merawat makam Mbah Kiai Usman tapi Gus Dur menegaskan tidak ada gajinya. Sekalipun demikian, Gus Dur sangat perhatian.

Suatu pagi Pak Yani (sopir Gus Dur) bilang ke Mbah Fatih bahwa sepulang dari meresmikan kantor PKB di Surabaya, Gus Dur malamnya akan ziarah ke makam Mbah Kiai Usman tapi tidak usah diworo-woro (disebarkan info kedatangannya).

Dan betul pada malam hari yang sepi, Gus Dur ke makam dan amplop tebal tanpa dibuka oleh Gus Dur langsung diberikan ke Mbah Fatih. Uang itu ditotal Mbah Fatih sekitar 15 juta yang lalu dipakai untuk membeli lampu, sanyo dan tambahan renovasi rumah. Masih banyak kisah humanisnya Gus Dur yang tidak hanya kepada sesama muslim, tapi juga kepada non-muslim.

Terima kasih kepada Mbah Fatih dan kepada informan awal, mas Arif serta kepada guru dan murid MI Bahrul Ulum.

Ainur Rofiq Al Amin
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Penulis Buku "Membongkar Proyek Khilafah Ala HTI", dan Salah Satu Tim Penulis Buku "Tambakberas, Menelisik Sejarah, Memetik Uswah"

Ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib Memindahkan Ibu Kota Negara

Previous article

KH Abdul Ghofur: Pondok Pesantren harus Kaya

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Karomah