“Man is essentially ignorant, and becomes learned through acquiring knowledge”.
Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun adalah salah satu cendekiawan muslim yang sangat terkenal tidak hanya pada zamannya, melainkan juga hingga kini terus dikenang jasa-jasanya. Berdasarkan perjalanan akademiknya, beliau sangat produktif dalam menghasilkan pemikiran-pemikiran, yang di antaranya pemikiran pendidikan. Sebelumnya kita kenali dulu, sosok Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun, nama lengkap: Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami, lahir 27 Mei 1332 di Tunisia, meninggal 19 Maret 1406 di Kairo, Mesir, pada umur 73 tahun) adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karena itu beliau disebut Bapak Demografi dan Sosiologi Ilmuwan Muslim di bidang agama, antropologi, demografi, ekonomi, filsafat, historiografi, dan sosiologi.

Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis). Selain itu at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya) dan Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).

Kita Muqaddimah yang paling terkenal di antara karya-karyanya telah diakui oleh ilmuwan Barat, baik berkaitan dengan sosiologi maupun ekonomi serta bidang-bidang lainnya. Pada bab keenam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alat-alatnya. Sebagaimana kata beliau, “Ketahuilah bahwa pendidikan Al Qur-an termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.” Ungkapan ini merupakan refleksi pengalaman pribadi mengalami proses pendidikan dalam keluarga yang terdidik. Sungguh bahagia seorang anak yang memperoleh pendidikan terbaik langsung dari orangtuanya di masa-masa awal pertumbuhan dan perlembangannya.

Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara/founding fathers) yang memiliki tekad, kekuatan, dan perjuangan yang gigih untuk mendirikan negara. Kemudian disusul oleh generasi kedua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Selanjutnya datang generasi ketiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi, sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.

Gambaran sangat logis, dan diam-diam kita bangga bahwa negara Indonesia berproses seperti teori Ibnu Khaldun. Karena itu kita harus segera introspeksi, agar masa kestabilan dan kemakmuran dapat tercapai tuntas disusul dengan ketenangan dan kesenangan dapat berlangsung lebih lama, dengan konsolidasi yang kuat, baik untuk selesaikan masalah internal, maupun dalam menghadapi serangan dari luar yang sangat dahsyat.

Ada banyak pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan, namun pada kesempatan ini hanya difokuskan pada pemikiran. Pertama, “Ibnu Khaldun has emphasized the importance of science, education and teaching. He foresees science and education as an inseparable part of prosperity. According to him, the real difference between mankind and other beings is the power of thought. Science and art are born from open-minded thought and the intricate learning of the principles of all issues. Ideas emerge from those who have the curiosity and desire to investigate what is unknown”.

Di sini disadari bahwa manusia itu punya potensi otak yang tidak bisa dibiarkan. Harus bisa dimanfaatkan untuk produksi ide, yang akhirnya dapat bermanfaat untuk perbaiki pendidikan.

Kedua, “He advises teachers to teach in a comprehensive manner and to gradually teach subjects in stages, moving from easier to the more difficult. Memorization should be avoided. He emphasizes that teaching methods should be simple and not complicated. He states that the teaching of subjects should not be in broken sequences or else the subject will become scattered and forgotten”. Pada hakekatnya belajar yang efektif harus diciptakan pembelajaran komprehensif yang dimulai dari sederhana dan mudah. Selain itu pembelajaran uang tidak potong-posting materinya. Strategi yang seperti ini diharapkan bisa melibatkan siswa belajar yang lebih optimal.

Ketiga, “Education should consist of theory and practice. Education should be revised and repeated until a good level is attained. He also declares that learning and teaching the sciences require skill and that the teachers of these sciences should be knowledgeable in their fields”. Dalam konteks ini pendidikan seharusnya membangun keseimbangan antara pengetahuan dan keterampilan. Apalagi ada slogan, “Ilmu kita adalah apa yang kita lakukan, Bukan apa yang kita ketahui”. Karena itu perilaku akademik dan karya akademik sangatlah penting untuk setiap peserta didik.

Demikianlah beberapa pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan, di samping bidang lainnya, yang tidak hanya berlaku saat itu saja, melainkan saat masih memiliki relevansi yang tinggi. Dengan berasumsi pada kekuatan pemikiran, saat ini dan mendatamg kita dengan potensi pemikiran dan ide kita untuk mengidentifikasi idea dan menerapkannya untuk memecahksn masalah yang terus berkembang. Bagaimana menurut Anda rentang pemikiran Ibnu Khaldun?

Prof Rochmat Wahab
Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Ia Pernah Menjabat Rektor UNY periode 2009-2017

    Berdakwah Melalui Kesenian: Kita Menganggap Seni sebagai Apa? (1)

    Previous article

    Resensi Buku: Menjadi Generasi Optimis dan Nasionalis

    Next article

    You may also like

    Comments

    Tinggalkan Komentar

    More in Ulama