seruni.id

Arsy berguncang penuh suka cita dan riang gembira di detik-detik kelahiran sang Baginda. Pada malam itu, langit dipenuhi jutaan kilau cahaya yang tak pernah terlihat sebelumnya, bertanda akan hadirnya sosok manusia yang agung lagi mulia. Burung-burung pun tak ingin ketinggalan untuk menyambut Nabi akhir zaman dengan kicauan merdu seolah memberi salam sejahtera yang paling sejahtera. Gemuruh do’a-do’a Malaikat saat itu turut menambah sakral suasana, mengiringi kedatangan Rasul yang dicinta dan didamba. Dia lah Muhammad Saw. Manusia luar biasa yang diutus sebagai duta perdamaian untuk alam semesta, pemimpin orang-orang yang bertakwa, dan penyelamat bagi mereka yang berlumuran dosa. Shollu ‘alaih !!

Muhammad, sebuah nama yang cukup asing dan anti-mainstream di zaman itu. Umumnya, orang Arab akan meniru nama orang tua-orang tua mereka saat memberi nama untuk bayi yang baru lahir. Ketika kakeknya, Abdul Mutholib ditanya, mengapa memberi nama Muhammad, ia pun menjawab; “Aku berharap anak ini dipuji, baik di langit maupun di bumi”.

Sungguh, sebuah nama akan menjadi do’a bagi si pemilikinya. Benar saja, anak ini kelak dipuji seluruh penduduk langit dan bumi, bahkan Sang Pencipta pun turut memujinya.

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ (القلم: 4)

“Dan sungguh engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”

Anugerah, karunia, pemberian, dan segalanya yang melimpah ruah kepada makhluk-makhluk Allah, semata-mata karena hadirnya baginda Nabi Muhammad Saw. Maka sudah sepatutnya kita bergembira atas kelahirannya. Bergembira dengan kelahirannya berarti rasa syukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita, dan salah satu kegembiraan dalam bentuk syukur yang dapat kita lakukan adalah merayakan kelahirannya dengan membaca perjalanan hidup Sang Nabi sambil merenungi kembali teladan beliau yang tertuang rapih di dalam kitab-kitab maulid karangan para ulama’ dunia, seperti ad-Diba’i, al-Barzanji, Simthud Duror, ad-Dhliyaul Lami’, dan masih banyak lagi.

Sesungguhnya merayakan kelahiran Nabi besar Muhammad Saw adalah perintah Allah yang tersirat dalam salah satu firman-Nya di surat Yunus, ayat ke 58.

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ (يونس: 58)

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan”

             Ada kah yang lebih besar dari karunia Allah berupa diutusnya Nabi Muhammad Saw rahmatan lil ‘alamin ?? Dia lah karunia di atas karunia. Anugerah terindah yang tak mampu diterjemahkan oleh kata-kata. Menyebutnya akan membuat orang itu cinta. Mengingatnya akan menggugah jiwa dan rasa. Definisi akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Kalimat yang keluar dari lisannya adalah wahyu Tuhan. Jabatannya adalah Tuan dari semua Nabi dan Rasul, serta Nabi akhir zaman.

Ayat di atas cukup jelas untuk dijadikan landasan hujjah ketika bergembira dengan semua karunia dan rahmat Allah yang diberikan kepada para makhluknya, tak terkecuali dengan lahirnya baginda besar Nabi Muhammad SAW. Dan perlu diingat, bahwa bergembira adalah perintah Allah yang beralasan. Selama itu baik dan diridhoi Allah, hendaknya kita bergembira sambil mensyukuri semua yang ada. Tapi ketika hal itu tak diridhoi Allah, maka jangan lah sekali-kali bergembira dan berbahagia.

Mari mengingat kembali cerita lama yang direkam Al-Qur’an ketika Qorun dengan bangga dan gembira menyombongkan kekayaannya. Kegembiraannya bukan berbalas kegembiraan, malah kemurkaan yang ia dapatkan. Mengapa demikian ?? Karena Qorun salah mengeskpresikan kegembiraannya di hadapan Tuhan.

وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوْءُ بِالْعُصْبَةِ أُوْلِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ (سورة القصص: 76)

“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya (Qorun) harta simpanan kekayaan yang kunci-kuncinya itu sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Ingatlah, ketika kaumnya berkata kepadanya: Janganlah engkau terlalu gembira, sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang yang terlampau gembira”

             Ini lah yang menyebabkan bergembira itu ada tempatnya. Ketika alasan bergembira kita itu benar dan dirihdoi Allah, maka Allah pun senang dan gembira dengan kita. Sebaliknya, ketika yang kita jadikan alasan untuk bergembira adalah sesuatu yang tak Allah ridhoi, maka jangan berharap kegembiraan kita dibalas dengan kegembiraan-Nya, justru akan membuahkan kemurkaan. Lalu pertanyaannya, apakah bergembira dengan kelahiran seseorang yang dipuji akhlaknya oleh Allah dalam Al-Qur’an itu termasuk hal yang akan berbalas kegembiraan atau justru kemurkaan ?? Tak semua pertanyaan membutuhkan jawaban.

Maka dari itu, tak menjadi aneh ketika Abu Lahab diringankan adzabnya setiap hari senin sebab bergembira menyambut kelahiran sang Baginda ketika membebaskan seorang budak yang bernama Tsuwaibah, sekalipun kita tahu bahwa Abu Lahab adalah di antara orang yang sangat menentang dakwah Nabi. Sampai-sampai ada satu surat khusus di dalam Al-Qur’an yang menyebutkannya dalam adzab kobaran api yang menyala-nyala, yaitu surat Al-Lahb.  Kalau saja orang yang jelas-jelas diceritakan buruk dalam Al-Qur’an itu mendapatkan balasan manis sebab bergembira atas kelahiran sang Baginda, lantas bagaimana jika yang bergembira itu adalah umatnya yang setiap hari mencoba untuk meneladani akhlak dan tutur perilakunya ?? Min babil aula, pasti lebih besar balasannya.

Syekh Syamsuddin bin Nasiruddin ad-Dimasyqi pernah melantunkan sebuah syair menyangkut hal ini;

إِذَا كَانَ هذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ        #    وَتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيْمِ مُخَلَّدَا

أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ دَائِمَا        #    يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَا

فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِيْ كَانَ عُمْرُهُ  #      بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا

“Kalau saja ada seorang kafir (Abu Lahab) yang sudah jelas diceritakan buruk oleh Al-Qur’an dan akan kekal selama-lamanya di dalam neraka”

“Dalam satu riwayat, Adzabnya diringankan setiap hari senin karena gembira menyambut kelahiran sang Baginda”

“Lalu bagaimana dengan seorang hamba yang sepanjang hidupnya penuh kegembiraan atas kelahiran beliau dan meninggal dalam keadaan mengesakan Tuhannya ??”

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Karena beliau adalah sumber dari kegembiraan yang tercipta. Seandainya saja kegembiraan yang ada di muka bumi itu dikumpulkan dan ditelusuri muara akhir ceritanya, pasti akan kita dapati bahwa semua itu akan berujung pada satu nama, Muhammad Rasulullah Saw. Terlebih dalam satu riwayat, alam semesta tak mungkin tercipta jika Muhammad tiada.

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ لَمَا خَلَقْتُ الْأَفْلَاكَ

“Seandainya tidak ada engkau (Muhammad), Kalau lah bukan karena engkau (Muhammad), sungguh Aku tidak akan menciptakan alam semesta”

Menjadi umat beliau adalah angan-angan dari setiap umat yang ada di muka bumi. Maka dari itu, kita yang ditakdirkan oleh Allah menjadi umat terbaik ini, sudah sepantasnya bersyukur dibarengi dengan mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Semoga kita selalu diberikan taufiq dan hidayah oleh Allah Swt untuk meneladani akhlak luhur beliau, agar nanti kita dikumpulkan di bawah panji besarnya pada saat semua umat iri ingin masuk ke dalam barisan itu. Semua itu dimulai dengan hal yang sangat sederhana, bergembira dengan kelahiran sang baginda.

Salam hangat, semoga bermanfaat.

Imamuddin Muchtar
Mahasiswa PBA Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim, PP Al Awwabin Depok.

    Siapakah Pribadi Mulia yang Memesona itu?

    Previous article

    KH. Masjkur; Sebelum Berjuang di Medan Perang Menempa Dirinya dengan Ilmu

    Next article

    You may also like

    2 Comments

    1. SubhanaLLah, bagus tulisannya ustadz..

    2. SubhanaLLah, bagus tulisannya ustadz..

    Tinggalkan Komentar

    More in Kisah