Gus Dur
Ksatria Nusantara/Zuli Rijal/SDC/Pesantren.id

Gagasan tentang kosmopolitanisme Islam sebenarnya bukan hal yang baru. Jika rajin membaca tulisan-tulisan Gus Dur, sejatinya gagasan itu sudah muncul dan dikenalkan sejak kurun 1980 hingga 1990-an, jauh sebelum buku Islam Kosmopolitan (yang berupa kumpulan artikel) terbit pada tahun 2007. Menarik untuk diangkat kembali karena gagasan kosmopolitanisme Gus Dur ternyata semakin menemukan relevansinya jika dihadapkan pada berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia dalam lima tahun terakhir, terutama terkait dengan kehidupan sosial, politik, budaya, dan agama.

Kendati sering dicibir dan disalahpahami karena sisi kontroversialnya, Gus Dur sejak awal konsisten menyuarakan betapa pentingnya menjadi kosmopolis.

Yaitu menjadi manusia yang berpikir terbuka, toleran, moderat, dan mampu menerima perbedaan sebagai sebuah hukum alam yang digariskan Tuhan. Bukankah sejarah telah memberikan pelajaran bahwa kemajuan peradaban berawal dari adanya keterbukaan? Bangsa-bangsa yang menjunjung tinggi keterbukaan, terbukti menjadi bangsa yang berperadaban maju. Sebaliknya, bangsa yang menutup diri, cenderung akan mengalami ketertinggalan dan terasing dari peradaban dunia.

Dalam Islam, kosmopolitanisme mengambil peran yang sangat penting dalam kemajuan peradaban Islam. Jejak kosmopolitanisme Islam dapat dilacak dari peristiwa hijrah Nabi Muhamad bersama para sahabatnya ke Madinah. Ketika Nabi Muhammad dan umat Islam yang masih minoritas itu mengalami tekanan fisik dan mental yang luar biasa dari penduduk Makkah, Nabi memutuskan untuk meninggalkan kota Makkah. Hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah menuju Madinah merupakan peristiwa sangat heroik dan fenomenal.

Jika di Mekkah Nabi banyak disibukkan dengan berbagai konflik dengan kaum Quraisy, maka di Madinah Nabi memulai babakan kehidupan baru dalam menata kehidupan sosial, politik, dan kenegaraan. Nabi mengokohkan persaudaraan antar umat Islam, menginisiasi Piagam Madinah untuk membangun harmoni sosial dengan seluruh suku dan agama di Madinah. Seluruh peristiwa sejarah yang dijalankan Nabi mencerminkan sebuah kosmopolitanisme peradaban, yang bahkan terlalu modern untuk ukuran Timur Tengah waktu itu. Dari Madinah inilah Islam kemudian memulai kejayaannya.

Konsep kosmopolitaisme Islam menurut Gus Dur berakar dari lima jaminan kehidupan dasar yang diberikan Islam pada individu atau kelompok, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh umat manusia. Kelima jaminan tersebut berupa jaminan keselamatan jiwa (hifdzun nafs), keselamatan akidah/kebebasan memeluk agama (hifdzud din), keselamatan keluarga dan nasab (hifdzun nasl), dan keselamatan harta (hifdzul maal), serta keselamatan hak milik (hifdzul milk). Artinya bahwa kehadiran Islam (termasuk agama lain) harus berfungsi sebagai solusi permasalahan umat manusia, bukan sebaliknya yaitu menjadi sumber perdebatan dan konflik.

Sayangnya, akhir-akhir ini berbagai konflik dan gesekan horizontal yang berwujud pada maraknya kasus intoleransi justru disebabkan oleh sentimen agama. Hasil riset Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI pada Maret 2019 di 11 provinsi menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Disebutkan bahwa terjadi ketidakpercayaan antar kelompok suku dan agama (67,60%), perasaan terancam oleh kelompok lain (71,70%), masalah religiusitas (67,60%), penyebaran berita bohong (92,40%) dan ujaran kebencian yang bermotif agama (90,40%).

Berbagai konflik tersebut terjadi karena sempitnya sudut pandang, kurangnya keterbukaan pola pikir dan kebesaran hati untuk menerima perbedaan, baik agama, suku, budaya, maupun latar belakang sosial politik. Semua warga negara harus lebih mendalami arti “Bhinneka Tunggal Ika” serta menyadari sepenuhnya bahwa Indonesia memang memiliki begitu banyak suku, bahasa, agama, budaya, yang semestinya disyukuri sebagai anugerah Yang Maha Kuasa. Bukankah sejak dahulu bangsa Indonesia dapat menjadi besar karena mampu mempersatukan dan mengelola berbagai keanekaragaman?

Inilah yang diperjuangkan Gus Dur hingga akhir hayatnya. Gus Dur merupakan sosok yang mampu mengambil peran tersebut dengan sangat baik. Gus Dur memiliki rekam jejak yang mengesankan dalam membangun dialog dan keterbukaan. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk menjalin persahabatan, menjembatani perbedaan, dan merajut tenun kebangsaan. Persahabatan Gus Dur yang heterogen, membaur dengan berbagai lapisan masyarakat serta dunia internasional mengantarkannya menjadi sosok yang kosmopolit.

Dalam konteks kekinian, penting sekali untuk menyegarkan kembali gagasan kosmopolitanisme Gus Dur. Apa yang dilakukan Gus Dur merupakan ikhtiar untuk mengukuhkan ikatan batin dengan kehidupan. Gus Dur rajin melahirkan sintesis dalam setiap problem kemanusiaan. Kosmopolitansime yang dimiliki Gus Dur, tidak hanya menjadi bagian penting dalam menjalin toleransi antar umat beragama, tapi juga menjadi bagian dari sejarah untuk menghilangkan sekat-sekat perbedaan yang ada dalam rangka menciptakan harmoni kehidupan umat manusia. Wallahu a’lam bis shawab.

Muhammad Makhdum
Alumni Magister Pendidikan Sains Universitas Negeri Malang, Pengurus PC LTN NU Kabupaten Tuban dan Ahlul Ma'had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

Pentingnya Berteman dengan Non Muslim

Previous article

Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan; Rembug Budaya Haul Gus Dur

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Kisah