Kitab Dala'il al Khairat

Mengenal dan meneladani para sufi adalah langkah awal kita untuk bisa menghadirkan getaran ruhani kita yang kian padam. Di zaman yang modern ini, bukan perkara mudah bagi kita untuk bisa mengasah batin seraya mendekatkan diri kepada sang Ilahi.

Sejenak mari kita telisik jauh di negeri senja, Maroko, al-Maghrib al-Aqsa, yang artinya ujung barat. Sebuah negara dengan warga  kosmopolit di mana budaya Eropa begitu melekat dengan masyarakat setempat. Namun di pojok kota-kota negeri tersebut masih ada cahaya yang sinarnya mencorong hingga ke seluruh dunia, termasuk sampai ke negeri kita Indonesia.  Di negeri seribu benteng itu, lahirlah para ulama dan sufi besar yang membawa kejayaan sekaligus peradaban Islam dengan sangat pesat.

Ada seorang sufi yang nama besarnya sudah sangat masyhur bagi umat Islam Indonesia, terkhusus di kalangan para kiyai dan para santri pesantren pesantren tradisional, yang karyanya menjadi rapalan para santri di pelosok negeri ini dan sudah menjadi bagian terpenting dalam rutinitas harian para santri.

Sang sufi itu adalah Abū ‘Abdullah Muḥammad ibn Sulaymān ibn Abū Bakr al-Jazūli al-Simlālī, lahir  pada tahun 807 H/1404 M (al A’lam:6: 151) di daerah dan suku bernama Jazula (dalam satu riwayat, Qazula) dari etnik Berber di Kota  Sous, selatan Marakes, Ibukota terdahulu  negara Maroko. Karena itulah kemudian beliau masyhur dengan nama Imam Al Jazuli atau Syaikh Sulaiman Al Jazuli, nisbat kepada suku dan  daerah asal kelahiran.

Sejak kecil beliau hidup dan tumbuh besar di kota kelahirannya Jazula, serta  belajar al-Qur’an di sana. Hingga kemudian hari Ia berangkat belajar ke kota Fas dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di kota itulah kemudian beliau bertemu banyak ulama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan dari mualif tafsir, hadits, usul fikih, fikih dan lain sebagainya.

Pada awal perjalanan keilmuannya, al-Jazuli tercatat sebagai seorang yang memiliki keilmuan mendalam dalam  fikih Maliki dan disebut sebut sebagai penghafal Al-Mudawwanah, salah satu kitab Induk madzhab Maliki setelah Al-Muwatha. Namun, dikemudian hari beliau meninggalkan itu semua serta menyibukkan diri dengan ibadah dan menikmati hidup zuhud, mengasingkan diri dari khalayak umum (‘uzlah). Hingga akhirnya beliau bertemu dengan seorang Mursyid yang bernama Syeikh Muhammad Amghar Al-Shaghir, seorang ulama sufi guru besar di negeri Maghrib saat itu. Beliau hingga akhirnya bermulazamah hingga sampai 14 tahun  berkhalwat atas perintah guru nya sampai akhirnya beliau menemukan cahaya ilmu di dalam kehidupan nya dan cahaya itu menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Maha karya kitab Dalail Khairat

Salah satu pancaran cahaya ilmu nya termaktub dalam sebuah  maha karya nya yang masyhur adalah kitab Dalail Khairat, ungkapan cinta beliau dengan susunan kata yang indah atas baginda nabi Muhammad Saw, menjadi jalan (thariqoh) agar sampai pada sang sang Kholiq dan Rasul-Nya, hingga mencapai maqom fana.

Kitab ini di tulis ketika beliau benar benar sedang dalam perenungan di sebuah kota di Maroko yang di kenal dengan kota Fes, di kota itulah beliau menemukan kejadian luar biasa yang tidak pernah terduga dalam hidupnya,

suatu ketika di saat beliau akan menunaikan salat ashar beliau berjumpa dengan sorang gadis kecil misterius yang memiliki karomah di kota itu, ketika beliau hendak Ingin berwuduhu beliau kebingungan mencari air, datang lah seorang gadis kecil yang ingin membantunya, tiba-tiba ia meludah ke sumur. Apa yang terjadi sungguh di luar dugaaan. Air sumur itu meluap hingga ke permukaan tanah. Dengan penuh rasa penasaran beliau pun bertanya kepada gadis kecil itu, amalan apakah yang engkau abadikan sehingga sampai pada maqom ini, wanita itu pun mejawab, semua keutamaan itu aku dapati karena banyaknya aku bersholawat kepada baginda Rasullah Saw, dari titik awal itu lah, beliau akhir nya menyusun satu kumpulan sholawat yang akhirnya menjadi satu kitab bernama Dalail Al khairat.

Syaikh Jazuli wafat pada tanggal 16 Rabiul Awal tahun 870 H di daerah Afoughal,Warzazat, Maroko. Beliau meninggal pada saat shalat subuh, dalam keadaan sujud. Diriwayatkan bahwa beliau wafat disebabkan keracunan. Janazah beliau kemudian dikebumikan di sana pada dzuhur hari itu juga. Karena satu lain hal, akhirnya setelah masa 77 tahun paska wafatnya, jasad beliau kemudian dipindahkan ke kota Marrakesh.

Ahmad Baba dalam kitabnya, Kifayatu Al-Muhtaj menyatakan: ketika jasad beliau dipindahkan setelah tujuh puluh tujuh tahun tidak ditemu perubahan apapun padanya. Bahkan hingga saat ini,tidak banyak para peziarah mengetahui di mana letak di kuburnya beliau apakah di kubahnya atau di pas di belakang dindingnya. Satu qoul mengatakan bahwa beliau disemayamkan di bawah tembok samping makam. Karena saat itu masih dikhawatirkan jasadnya akan dicuri atau dihancurkan, wallah alam.

Muhammad Iqbal
Rais Syuriah PCINU Maroko dan S3 Teologi dan Perbandingan Agama Universitas Hassan II Maroko.

Apa Pesan Habib Ali Al Jufri?

Previous article

Siapakah Ulama Nusantara yang mengenalkan bahasa Jawa di Masjidil Haram?

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Karomah