Tradisi Meringkas Kitab

Meringkas (ikhtishar) kitab dari yang berjilid besar menjadi agak kecil adalah tradisi para ulama yang seharusnya diteruskan para santri.

Imam Ghazali memulai tradisi ini dengan meringkas kitab Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Mazdhab karya Imam Haramain dalam empat kitab, al-Basith, al-Wasith, al-Wajiz dan al-Khulashah.

Al-Wajiz disyarahi Imam Rafii dengan nama Fathul Aziz atau Asy-Syarhu al-Kabir yang diringkas Imam Nawawi dalam kitab Raudlatut Thalibin yang diringkas Imam Zabidi dalam Raudlut Thalib yang kemudian disyarahi Imam Zakariyya Al-Anshari dalam kitab Asnal Mathalib.

Imam Rafii juga meringkas kitab al-Wajiz yang diberi nama Al-Muharrar yang diringkas Imam Nawawi dalam Minhajut Thalibin yang diringkas Imam Zakariyya Al-Anshari dalam kitab Manhajut Thullab yang disyarahi sendiri dalam kitab Fathul Wahhab.

Imam Abdul Ghaffar al-Gazwini meringkas kitab Raudlatut Thalibin dalam kitab Al-Hawi Ash-Shaghir yang diringkas lagi Imam Ibnu Wardi dalam kitab Bahjatul Hawi yang ditulis lagi oleh Syaikh Zakariyya Al-Anshari dalam kitab Ad-Ghuraru al-Bahiyyah.

Tentu yang paling populer adalah Tahrir karya Syaikh Zakariyya Al-Anshari yang meringkas dari kitab karya Imam Abu Zur’ah dan Lubbul Ushul karya Syaikh Zakariyya Al-Anshari yang meringkas kitab Jam’u al-Jawami’.

Tradisi meringkas inilah yang harus diteruskan para santri sehingga tradisi berkarya tidak hilang dari pesantren.

Para santri harus punya al-i’timad ala al-nafsi (kepercayaan diri) dalam memulai berkarya. Tidak mungkin seorang santri menulis jika dalam dirinya masih minder, inferior, dan merasa tidak pantas.

Seorang santri tidak usah berpikir karya yang ditulis nanti diterbitkan siapa, dibaca siapa, dan lembaga apa yang menggunakan. Karya akan meluncur sesuai hukum alam.

Saya kira Syaikh Zakariyya Al-Anshari, Imam Ibnu Hajar al-Asqallani, dan Imam Ibnu Hajar al-Haitami tidak membayangkan jika karyanya dibaca umat Islam dunia, bahkan sampai di pelosok kampung.

Baca Juga:  Covid-19 di Pesantren (1): Terkait Pandemi, Kiai Terbelah Jadi Tiga “Mazhab”

Karya akan dibaca pembacanya secara pelan, bertahap, dan akan melewati batas-batas geografis atau teritorial yang tidak dibayangkan penulisnya.

Santri jangan puas dengan karya yang ditulis. Spirit Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Syaikh Zakariyya Al-Anshari, dan Imam Ibnu Hajar al-Asqallani harus melecutkan spirit santri dalam berkarya sepanjang zaman.

Tentu mulailah dari meringkas karya-karya kecil yang biasa dikaji di pesantren, seperti Jurumiyyah, kemudian Taqrib, Tahrir, Aqidatul Awam, Alfiyah, dan lain-lain.

Spirit meringkas ini pada akhirnya akan melahirkan malakatut ta’lif (kompetensi menulis yang inhern dalam jiwa santri) yang akan mendorongnya menulis karya-karya hebat di berbagai bidang yang sangat bermanfaat bagi publik secara luas.

Sudah saatnya para santri menjadi produsen pengetahuan dengan mengikuti jejak para ulama sehingga lentera Islam Nusantara terus berkibar menyinari dunia Islam dengan karya-karya yang bernas. [HW]

Dr. H. Jamal Makmur AS., M.A.
Penulis, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pati, dan Peneliti di IPMAFA Pati

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pesantren