Tanpa Revolusi Industri di Inggris Raya (mekanika), tidak akan ada revolusi industri lanjutan kedua (elektrisiti), ketiga (komputerisasi) dan keempat (digitalisasi). Umumnya revolusi industri pertama hanya mengungkapkan keunggulan Inggris dalam mencapai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tahun 2015, sejarawan India Shashi Tharoor membantahnya ketika berbicara dalam forum diskusi The Oxford Union Society. Menurutnya, Revolusi Industri di Inggris bukan terjadi karena kemajuan teknologi, tapi Inggris hanya memindahkan industri dari India ke Inggris.

Saya ulang ya.

Industrialisasi di Inggris, kata Tharoor, dibayar dengan deindustrialisasi di India. Pidatonya ini kemudian menjadi viral dan dibagikan ke berbagai sosial media sehingga menjadi perdebatan berkelanjutan. Lucunya ia memutuskan untuk menulis buku secara khusus membahas ini setelah pidato tersebut.

Tharoor mengungkapkan bahwa sebelum menjadi koloni Inggris, 25% perdagangan dunia dikuasai India. Sayap perdagangan India membentang dari dunia Timur ke Barat. Saat itu nilai perdagangan Inggris untuk dunia bahkan kurang dari 2%.

Semuanya berbalik ketika Inggris melakukan kolonisasi terhadap India. Inggris memaksakan perdagangan melalui peperangan, pembunuhan, penyiksaan hingga perbudakan yang menjadi satu paket penjajahan. India berubah dari eksportir menjadi importir. Hanya orang bodoh yang percaya bahwa Inggris datang, mengetuk pintu, meminta dengan sopan lalu pergi secara damai. Fakta ini tidak asing bagi kita. Sebab sekumpulan kota-kota dagang di Belanda pada abad ke-17 mengadakan iuran untuk menjelajah dunia Timur dan berhasil melakukan hal yang sama di Nusantara.

Sebelum Belanda datang, ada tiga mata uang yang berlaku di dunia. Pertama emas, kedua emas hitam (lada hitam) dan ketiga emas putih (lada putih). Lada menjadi komoditas yang bernilai pada dirinya sendiri karena permintaan yang luar biasa tinggi.

Baca Juga:  G20: Pusat Kebangkitan Industri Halal Indonesia-Tiongkok

Kita semua tahu cerita lanjutan ketika Belanda singgah ke Nusantara. Belanda menjadi kota dagang paling penting di dunia setelah mematikan pusat perdagangan rempah-rempah di bandar-bandar pelabuhan Banten, Makasar, Aceh dan seterusnya. Ironis sebenarnya, sambil melakukan penjajahan, Belanda juga melahirkan pemikir humanis. Itu alasan mengapa sila kedua Pancasila, tidak hanya ‘kemanusiaan’ tapi ‘yang adil dan beradab.’ Karena kita sadar, kalau sekedar humanis, Belanda cukup humanis tapi ternyata hal itu tidak cukup toh. Maka jika tiba-tiba Revolusi Industri dikatakan terpisah dari kolonialisme, rasa-rasanya seperti orang ditraktir tapi tidak ngaku.

*
Berbicara tentang Revolusi Industri, sejak awal revolusi ini didanai oleh penjajahan. Jadi narasi perkembangan teknologi kurang lengkap seolah-olah ongkos revolusi industri dibiayai sendiri.

Menurut saya, Revolusi Industri tidak terjadi di Inggris. Tanpa bahan baku dari India dan perampokan pasar terbesar di dunia, Revolusi Industri hanya menjadi ornamen teknologi Eropa. Oleh sebab itu setiap melihat Eropa, saya selalu melihat mahakarya leluhur saya, meskipun dalam bentuk darah dan air mata.

Selama mental korupsi dan rasa inferior terhadap warga kulit putih masih menghinggapi bangsa kita, selama itu kita harus menuntut hutang moral kolonialisme.

Misal menuntut beasiswa tanpa tes.

Ini contoh aja, ya. Jangan ngegas. Ini cuma status. Bukan LoA.

Iman Zanatul Haeri
Guru Sejarah MA Al-Tsaqafah Said Aqil Siroj Foundation, Alumnus Universitas Negeri Jakarta.

Rekomendasi

1 Comment

  1. […] apa yang harus dilakukan oleh pesantren dan kalangan santri menyikapi revolusi industri 4.0 dan Society 5.0? Pertama, tetap mempertahankan ciri khas pesantren. Misalnya berbagai kitab […]

Tinggalkan Komentar

More in Opini