Tantangan dalam Berdakwah

Kegiatan berdakwah adalah sebuah kewajiban umat Islam, selain juga menjadi karakter khusus bagi umat Nabi Muhammad saw. Sebagaimana yang disebutkan oleh Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsir beliau saat menafsiri ayat,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang diutus kepada manusia, memerintahkan kepada kebaikan, mencegah dari kemunkaran, dan beriman kepada Allah swt.

Selain itu, Nabi Muhammad saw juga dalam sabdanya menjamin kebaikan akan selalu menaungi umatnya selama kita semua mau saling menasihati dan mengingatkan kepada kebaikan. Oleh sebab itu, kegiatan berdakwah sangatlah penting dan tentunya membawa banyak manfaat baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Meski begitu, tentunya banyak tantangan yang akan dihadapi seseorang saat hendak melakukan kegiatan berdakwah. Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab beliau al-Da’wah al-Tâmmah, menjelaskan bahwa terkadang ada suatu keraguan atau bisikan yang menghalangi seorang ahli ilmu dalam menyampaikan dakwah kepada sesama. Menurut saya ini adalah tantangan yang harus kita ketahui dan kita hadapi, agar saat kita mengalaminya kita mampu menyelesaikan dengan baik dan melanjutkan dakwah kita kepada sesama.

Tantangan pertama, keraguan dalam diri seseorang bahwa ia merasa dirinya belum sempurna mengamalkan ilmunya sehingga tidak pantas rasanya untuk mendakwahkan ilmu tersebut kepada orang lain. Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad menegaskan,

التعليم للعلم من جملة العلم به

Mengajarkan ilmu adalah termasuk dari amal dengan ilmu itu sendiri.

Jadi jangan sampai bisikan tersebut malah mencegahnya dalam mendakwahkan atau mengajarkan ilmu yang ia ketahui kepada orang lain. Sebab dengan kita menyampaikan hal tersebut kepada orang lain, itu termasuk dari bagian beramal dengan ilmu tersebut. Akan tetapi, tentu kita selaku pelaku dakwah saat tersadar belum mengamalkan ilmu yang kita miliki, saat kita memutuskan untuk mengajarkannya kepada orang lain maka kita pun harus berusaha semaksimal mungkin untuk juga mulai mengamalkannya. Sebab bagaimanapun buah dari ilmu itu sendiri adalah amal. Dan jangan sampai kita masuk kepada golongan yang tidak disukai Allah swt dalam firman-Nya berikut,

Baca Juga:  Dilematika Pesantren: Antara Identitas dan Tantangan Masa Depan

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُون

Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakka kalian berpikir? (QS. al-Baqarah: 44)

Tantangan kedua, anggapan bahwa dakwah hanyalah boleh dilakukan oleh mereka yang memiliki kedudukan dan ilmu yang tinggi seperti para kiai sepuh, ulama, habaib, dll. Dan saat ia sadar bahwa ia tidak termasuk dari golongan tersebut, ia merasa tidak pantas untuk berdakwah. Bisikan ini membawa seseorang pada perasaan rendah diri sehingga merasa enggan melakukan dakwah. Keraguan seperti ini adalah sesuatu yang salah. Akan tetapi hendaknya ia tetap melaksanakan tugas dakwah sebatas ilmu dan peran yang ia miliki (artinya juga jangan berdakwah di luar ilmu yang tidak diketahui karena malah akan membawa kesalahan khususnya para orang awam). Dan teruslah berdoa agar diberi pertolongan oleh Allah swt dalam mengajak orang lain kepada-Nya.

Tantangan ketiga, saat seorang yang alim lebih menyibukkan dirinya dengan wirid dan ibadah sehingga tidak memedulikan kewajiban dakwah kepada umat. Tantangan ini harus dihadapi dengan pintar-pintar membagi waktu agar sekiranya baik dalam menjalankan seluruh perannya; sebagai seorang hamba yaitu dengan mendirikan ibadah wajib dan wirid harian, sebagai umat Nabi Muhammad saw yang salah satu kewajibannya ialah berdakwah dan mengajarkan ilmu kepada sesama, dll. Tirulah Imam Syafii, bagaimana beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian; 1/3 untuk shalat, 1/3 untuk belajar ilmu, dan 1/3 untuk tidur.

Tantangan keempat, berpikiran dan menyampaikan dakwah tidak sesuai zamannya. Ingatkah pesan dari sayyidina Ali ra, yang memerintahkan kita untuk mengajarkan anak-anak kita sesuai zaman hidup mereka nantinya. Dan menurut saya ini berlaku juga kepada para pendakwah saat hendak melakukan kegiatan dakwah mereka. Pendakwah yang mengikuti trend, artinya mengetahui metode apa yang saat ini digandrungi masyarakat sehingga bisa memakainya untuk berdakwah, karena itu akan lebih mudah diterima oleh mereka. Selanjutnya juga hendaknya mengerti kejadian-kejadian yang sedang booming dan masalah yang banyak dihadapi oleh masyarakat, sehingga kita sebagai pendakwah bisa memberi solusi sesuai dengan tuntunan syariat.

Baca Juga:  Merubah Ujian Menjadi Tantangan (Coronavirus dan Pembelajaran)

Tantangan kelima, respon berlebihan terhadap respon dari orang lain saat  berdakwah. Beberapa orang langsung merasa ciut saat orang yang didakwahi menunjukkan penolakan atau malah mencemoohnya seperti mengejeknya ‘sok alim’ saat ia sedang berdakwah. Tantangan seperti ini hendaknya jangan sampai menurunkan semangat berdakwah kita. Kewajiban kita menyampaikan, adapun hidayah ialah urusan Allah swt. Ingat juga bagaimana perlakuan kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad saw, dan kita akan sadar bahwa apa yang kita terima dari penolakan orang-orang adalah tidak seberapa dengan apa yang diterima oleh Rasul saw. Namun beliau tetap melanjutkan dakwah Islam, sehingga kita bisa lahir dalam nikmat islam dan iman. Inilah yang harus terus kita ingat dan kita teladani dalam perjalanan dakwah kita.

Terakhir, izinkan saya mengutip dawuh Buya Yahya berikut, “Orang yang berdakwah sejatinya ialah mengajak orang lain pada Allah, maka hendaknya ia harus mengenal Allah. Jika ia  tidak mengenal Allah, maka saat berdakwah ia hanya sedang mengajak orang lain pada dirinya sendiri, bukan kepada Allah swt.” Jadi sebelum kita berdakwah penting untuk memiliki ilmu dan menyadari takaran ilmu yang kita miliki, sehingga kita tidak berdakwah di luar kapasitasnya, yang malah sejatinya hanya akan menjauhkan orang lain dari Allah swt, wal’iyyâdz billâh. []

Semoga bermanfat,

Balqis Aziziy

Atina Balqis Izzah Bcs, M.Ag
Penulis Buku Bias Cinta dari Mukalla, Tentang Muslimah, Alumnus PP Ashiddiqiyah Jakarta, PP Manbaul Ulum Banyuwangi, PPQ Nurul Huda Singosari, PP Al Asy'ariyah Wonosobo, Universitas Al-Ahgaff Yaman, PTIQ Jakarta dan Pengasuh PP Ashiddiqiyah Bogor

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini