Tafsir Maqasidi; Arah Baru Metodologi Tafsir

Al-Qur’an adalah satu-satunya warisan Nabi yang berbentuk teks. Sebagai teks suci, umat Islam berusaha untuk mendasarkan prilaku dan pemahamannya pada al-Qur’an. Pada perkembangannya, al-Qur’an menjadi sumber peradaban Arab-Islam. Maka, dari sinilah muncul berbagai dialektika ilmu pengetahuan yang mengantarkan umat Islam pada peradaban yang unik. Berbeda dengan peradaban-peradaban sebelumnya.

Al-Qur’an melahirkan banyak ilmu jabang pengetahuan. Baik dari segi ilmu alat yang memahami al-Qur’an itu sendiri maupun ilmu lainnya di luar al-Qur’an. Namun, sampai sekarang-terutama ilmu sains- mengalami kesamaan dengan al-Qur’an. Hingga, banyak dari kalangan ilmuan menyatakan bahwa al-Qur’an adalah satu satunya kitab suci yang menjawab segala persalan. Meski tak jarang juga bahwa al-Qur’an mendapat kritikan tajam dari orentalis maupun dari umat Islam itu sendiri.

Kita tahu bahwa tafsir adalah upaya menjelaskan langkah-langkah untuk membumikan petunjuk al-Qur’an dalam realitas kontemporer. Tafsir juga menyentuh semua lingkaran sosial yang meliputi individu, keluarga, masyarakat, negara, umat dan manusia secara keseluruhan. Hlm.21

Tafsir maqasidi adalah salah satu ragam dan aliran tafsir di antara berbagai aliran tafsir yang berupaya menguak makna-makna logis dan tujuan-tujuan beragam yang berputar di sekeliling al-qur’an, baik secara general, maupun parsial, dengan menjelaskan cara manfaatnya untuk merealisasikan kemaslahatan manusia. Secara sederahana, definisi ini tidak jauh berbeda dengan yang diajukan oleh Tazul Islam.

Pembahasan mengenai tafsir maqasidi sebenarnya banyak di berbagai artikel, namun tidak tertuju pada satu kesatuan. Sementara dengan hadirnya buku ini memberi arah baru yang sempurna dalam suatu penelitian. Buku mengupas lebih dalam lagi dengan berbagai tawaran yang diajukan.

Hakikatnya, ada banyak korelasi antar tafsir. Posisinya selain sebagai ragam tafsir, juga hadir sebagai penyatu dan menembus batas dari semua ragam tafsir. Tidak ada satupun yang tidak membutuhkannya. Sebaliknya, tafsir maqasidi indipenden dan tidak membutuhkan tafsir lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Tafsir Ulama Asia

Bisa dibilang, posisi tafsir maqasidi lebih krusial ketimbang maqasid syariah. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa tafsir maqasidi membuka arah baru dalam perkembangan dunia tafir  al-Qur’an. Hal ini tidak terbatas pada syariah saja, dan kita tahu bahwa al-Qur’an mencakup bahaan yang luas. Di dalam al-Qur’an terdapat bahasan akidah, akhlaq, ibadah, muamalah, adab, politik, pendidikan, peradaban, penyucian jiwa, pemikiran, kemasyarakatan, berbagai perkara dan hubungan intraksi yang berbeda-beda. Hlm. 16

Dalam mengusung gagasannya, Abu Zayd membagi beberapa bagian dalam tulisannya. Pertama, ditinjau dari sudut sejarahnya. Term maqasid tafsir pertama kali dikemukakan oleh al-Ghazali dalam kitabnya jawahir al-Qur’an. Beliau menyebutkan bahwa al-Qur’an bak samudra luas yang memiliki berbagai jenis mutiara dan permata yang berharga. Untuk mendapatkan permata, seorang mufassir harus mampu menyelam ke dalam al-Qur’an.

Kedua, langkah yang harus dilakukan untuk menerapkan maqasid al-qur’an. Al-Qur’an adalah satu kesatuan dari setiap ayatnya, tidak bisa mengambil satu ayat untuk kepentingan pribadi dan menafikan ayat lainnya. Untuk mrnghasilkan simpulan yang benar harus melalui proses yang baik dan benar pula. Prosesnya merujuk ke teks al-Qur’an, menerapkan metode induktif, konklusif, dan mengikuti hasil penelitian para sarjana al-Qur’an dari berbagai era. Hlm. 133

Ketiga, tujuan dari tafsir maqasidi itu sendiri, yakni dalam rangka memperbaiki keyakinan dan mengajarkan akidah yang benar. Keyakinan yang benar adalah sebab terpenting bagi kebaikan makhluk karena menghilangkan kebiasaan untuk menetapkan sesuatu tanpa bukti, menyucikan kalbu dari berbagai delusi yang tumbuh karena kesyirikan dan sekularitas.

Keempat, dalam menguatkan tulisannya, Abu Zayd tidak hanya mengemukakan pendapatnya, tetapi juga melibatkan pendapat lainnya agar metode baru ini semakin kokoh dan kuat. Hal ini menjadi bukti bahwa pemahaman ini tidak hanya sebatas milik pribadi, tapi juga banyak orang yang terlibat di dalamnya. Niatnya satu, untuk kebaikan umat.

Baca Juga:  Hidayah (Tafsir surat Al-Baqarah ayat 16)

Pemahaman ini digali dan dibangun karena memang tidak lepas dari keinginan dan usaha para ulama. Teks al-Qur’an mengandung banyak makna, oleh karena itu, para ulama berusaha memahami teks suci sehingga melahirkan berbagai pemahaman. Ini masuk akal karena setiap akal mempunyai sudut pandang dan pengalaman yang berbeda.

Bisa dikatakan, para pengkaji al-qur’an masa kini lebih butuh berintraksi dengan al-Qur’an melalui perspektif maqasidi dibanding dengan era sebelumnya. Mereka lebih perlu untuk mengatur prilaku, berintrkasi agar jalan yang ditempuh lurus menuju ridha-Nya.

Buku ini disajikan dalam uraian akademik modern, semisal tesis atau disertasi. Sebagaimana akademisi, beliau menyajikan telaah pustaka sebagai hidangan pembuka untuk melihat direfensiasi pendekatan yang diusung tafsir maqasidi dengan tafsir yang menggunakan berbagai metode.

Sering kali terjemahan tidak cukup mewakili makna, maksud dan tujuan dari penulis itu sendiri, namun Ulya berhasil menerjemah dengan baik buku ini. Sehingga apa yang dimaksud dan yang dituju oleh penulis sangat terwakili oleh terjemahannya. Buku ini sangat layak dibaca oleh masyarakat akademisi untuk menambah wawasannya. []

 

Buku : Metode Tafsir Maqasidi

Penulis : Dr. Wasfi ‘Asyur Abu Zayd

Penerjemah : Dr. Ulya Fikriyati

Penerbit : Qaf

Terbitan : Maret, 2020

ISBN : 978-602-5547-76-8

Musyfiqur Rozi
Alumnus Institut Ilmu Keislaman Annuqayah dan Santri Annuqayah Lubangsa Utara

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka