sujiwo-tejo-sosrokartono-dan-pesan-kehidupan-dari-sebuah-syair

Mungkin sebagian orang tidak menyadari lagu yang sering dinyanyikan oleh budayawan Sujiwo Tejo “Sugih Tanpo Bondo” mengandung makna yang begitu mendalam. Sujiwo Tejo gemar menyanyikan lagu itu setiap kali mengisi di sebuah acara, seolah menjadi lagu wajib baginya, untuk disampaikan, bukan hanya didendangkan.

Ia mengajak audien turut menyanyikannya. Lagu dengan nada yang mudah dinyanyikan semua orang. Begitupun dengan saya yang tak bosen memutar lagu tersebut, di sela-sela waktu aktivitas saya.

Meskipun kala pertama kali berkenalan dengan Mbah Tejo hanya melalui lagu yang dinyanyikannya dan saya memang menikmati. Di tambah memang awal mula saya tidak terlalu menghiraukan makna dari lagu tersebut sebelumnya. Tapi, karena saya sering memutar lagunya tersebut, akhirnya hasrat ingin tahu akan mengetahui makna dari lagu tersebut kian meninggi.

Padahal awalnya hanya cuma berniat untuk menikmati lagunya, tapi semakin ke sini ikhtiar untuk memahami dan menjalani makna pesan dari lagu tersebut kian besar. Mungkin ini, tujuan Mbah Tejo, menyanyikan lagu “Sugih Tanpo Bondo” di setiap acaranya. Menyampaikan pesan melalui lagu dengan kesabaran. Mbah Tejo terlihat sabar, dengan pesan yang disampaikan melalui lagu.

Beberapa pesan yang saya tangkap dari syiar akan makna kehidupan dari Mbah Tejo dari lagu tersebut. Mengajak menyanyi setiap waktu, mengajak menikmati lagu dan merasakan kenikmatannya, hingga kemudian ketika sudah menempel di telinga dan hati yang mendengarkan, maka secara tidak langsung, suatu saat pikiran dan perilaku akan mengikutinya.

Berikut syairnya:

Sugih tanpo bondo

Digdoyo tanpo aji

Trimah mawi pasrah

Sepi pamrih tebih ajrih

Sugih tanpo bondo dimaknai sebagai kaya tanpa harta. Orang kaya adalah mereka yang tidak butuh harta. Artinya harta bukan segalanya, dan tidak akan dibawa mati. Sebab kalau harta adalah ukuran kekayaan, orang akan muncul sikap perasaan serba kurang, serakah untuk mencapai ukuran kaya akan harta yang telah ditentukan. Maka dari itu, kaya bukan berarti harus berharta banyak.

Baca Juga:  Tawakal: Mediasi Diri Menuju Penghambaan yang Hakiki

Namun meskipun harta sedikit jika ia bisa menikmatinya, dan merasa cukup, kemudian bersyukur kepada Allah setiap yang dimiliki, itulah kekayaan yang sebenarnya. Sebab sejatinya kita sudah dijamin oleh Allah yang maha kaya. Kalau kita sadar hidup dengan keadaan sehat pun itu sebenarnya kita sudah bisa dikata kaya. Coba dihitung nafas yang kita keluarkan setiap detik, menit, jam atau perhari itu sungguh mahal harganya, atau bisa dibilang tak ternilai harganya. Siapa yang memberi nafas? Ya, Allah. Apakah kita meminta? Tidak. Dari sini kita mengerti bahwa sungguh Allah maha pemberi dan maha kaya. Jadi tak ada yang bisa kita sombongkan dari banyak harta yang dimiliki, sebab masih ada yang lebih kaya dari kita. Yakni Allah yang maha kaya.

Digdoyo tanpo aji dapat diartikan sebagai tidak terkalahkan (kuat) tanpa kesaktian (mantra). Dalam hal ini kata kuncinya adalah dengan berbuat baik dan tidak berbuat jahat. Sebab seperti kita ketahui bersama orang baik, pasti tetap akan pada perlindungan Allah. Tuhan yang maha kuat. Tidak perlu kesaktian atau mantra, sebab itu semua akan kembali pada-Nya.

Trimah mawi pasrah dimaknai menerima dan pasrah. Dalam hal ini pasrah bukan berarti kita hanya diam saja. Tetapi diiringi dengan usaha, kemudian apa hasilnya kita serahkan kepada Allah, yang terpenting adalah sudah berusaha semaksimal mungkin. Jika menurut kita hasil yang didapat tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, maka husnuzhan kepada Allah. Sebab yang memberi dan tahu sedikit banyaknya rezeki yang kita butuhkan adalah Allah. Bersyukurlah atas apa yang telah dimiliki.

Sepi pamrih tebih ajrih artinya tanpa pamrih tidak perlu takut. Jika kita tidak mengharapkan pujian atau menghindari sebuah celaan maka kita tidak perlu takut dalam bertindak pada kebaikan dan kebenaran. Artinya siapa dia, apapun jabatannya, kedudukannya, ia tak perlu takut. Sebab visi nya adalah kebaikan, dan dalam hal ini ia tahu setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan kepada siapa. Tidak lain adalah kepada Allah SWT. Maka untuk berbuat kebaikan ia tak perlu takut.

Baca Juga:  The Power of Istighfar

Langgeng

tanpo susah, tanpo bungah

Anteng mantheng

Sugeng jeneng

Langgeng tanpo susah, tanpo bungah diartikan tetap tenang ketika ada duka dan ada suka. Sebab titiknya adalah pada pikiran yang tenang. Karena dalam pikiran dan hati yang tenang kita tentunya dapat mengendalikan kondisi yang kita terima. Berbanding terbalik jika saat kita menghadapi sesuatu hal dengan rasa dan pikiran yang panik, maka bijak tidak akan tercapai.

Anteng mantheng, sugeng jeneng dimaknai sebagai tidak macam-macam dapat membuat nama baik terjaga. Artinya dengan tidak melakukan tindakan kejahatan maka nama baik akan tetap terjaga. Namun sebaliknya, jika kita melakukan tindakan jahat, meskipun itu sedikit, bersiaplah untuk nama baik diri akan tercemar.

Kiranya kurang lebih makna dari syair lagu tersebut adalah demikian. Meskipun lagu tersebut singkat dan padat namun jika kita sadar makna yang terselip begitu dalam. Dan saat kita mengerti akan maknanya, seyogyanya dapat digunakan sebagai alat atau prinsip dalam menjalani kehidupan ini. Meski syair lagu tersebut menggunakan bahasa jawa kiranya tetap sejalan dengan ajaran agama. Ataupun Pancasila yang sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Selain itu pernahkah kita sadari pula bahwa lagu yang dibawakan oleh Mbah Tejo merupakan karya dari Raden Mas Panji Sosrokartono. Ia adalah kakak dari Raden Ajeng Kartini. Sosrokartono lahir di Jepara pada 10 April 1877 dan meninggal pada 8 Februari 1952 di Bandung.

Maka dari itu kita seyogyanya harus dapat berterimakasih kepada Mbah Tejo (Sujiwo Tejo), dengan lagu yang sering dibawakannya, secara tidak langsung kita telah diperkenalkan kepada sosok Sosrokartono yang salah satu julukannya adalah si Jenius dari Timur.

Baca Juga:  Lakukanlah Syariat, Tapi Jangan Abaikan Hakikat

Kiranya bukan hanya Sujiwo Tejo melalui tembang lagu Sosrokartono dalam memberi pesan kehidupan melalui syairnya. Tetapi kiranya Gus Dur (K.H Abdurrahman Wahid) turut memberi dan meninggalkan pesan kehidupan melalui syair lagunya yakni  “Syiir tanpo waton”.

Kemudian, dalam berdakwah kita tahu pada zaman Walisongo juga terdapat Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid) dengan syair kebudayaannya yakni syair “lir-ilir”. Dan pada hakikatnya kita sebagai anak zaman telah dibekali ilmu kehidupan yang begitu banyak. Tapi itu semua akan kembali pada diri kita sendiri, mau mencari, mempelajari makna, melaksanakan pesan dari syair tembang lagu yang ditinggalkan atau tidak?

Padahal bisa dibilang, syair lagu yang ditinggalkan bisa dibilang sebagai mutiara zaman. Yang kiranya masih sangat relevan pada zaman sekarang. [HW]

Mohammad Iqbal Shukri
Alumni Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, Mahasiswa S1 Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang, dan Aktif di Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat UIN Walisongo Semarang.

    Rekomendasi

    3 Comments

    1. boleh juga tuh diterjemahkan tembang-tembang mocopat. . dedugo lawan prayogo, mrih tan kembo kembenganing pambudi, mongko nadyan tuwo pikun, yen tan mikaniroso, yekti sepi asepo lir sepah samun, samangsane pakumpilan , gonyak ganyuk ngleling semi. itu satu lagu yang sering saya nyanyika tapi gak tahu artinya. hehehe

    2. […] banyak, entah kebaikan apa saja, semua itu bernilai di sisi Tuhan dan pasti Tuhan mengapresiasinya. Sujiwo Tejo, penulis buku Tuhan Maha Syik 1 dan 2, pernah mengkritik soal wacana moderasi dan toleransi […]

    3. […] arti kebahagiaan hakiki menurut Sosrokartono, yaitu menjalankan laku spiritual kepada Allah dengan penuh kesederhanaan, tanpa kemewahan harta […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini