Salah satu faktor Ambyarnya Kiai NU di era digital, kata seorang penulis, karena berdakwah dengan bahasa Jawa. Harusnya dipertanyakan mengapa justru Almarhum Didi kempot makin populer padahal 800 lagu-nya yang berbahasa Jawa malah diminati kaum muda Nasional.

Diantara puluhan ribu penonton konser Didi Kempot di acara anak muda Jakarta seperti Sincronize boleh jadi mereka ini bukan penutur bahasa Jawa sehari-hari. Belum lagi viewers-nya di sosial media.

Diantara mereka memang terdapat keturunan yang orang tuanya berbahasa Jawa. Justru Didi kempot berhasil membuat anak muda milenial yang telah kehilangan bahasa ibu mereka ini untuk menggali makna dan lirik-lirik lagu bahasa jawa leluhurnya. Didi kempot berhasil memaksa mereka untuk bertanya pada ibu, ayah dan nenek mereka tentang makna bahasa jawa dari lagu didi Kempot yang sedang mereka gemari.

Singkat kata, Didi Kempot menyambungkan generasi baru yang sudah terputus dengan leluhur mereka. Tidak ada kerja kebudayaan yang berdampak begitu luas terhadap sebuah bahasa daripada yang dilakukan oleh Didi Kempot dengan lirik-lirik Jawanya. Melebihi usaha pusat bahasa dan dirjen kebudayaan melalui anggaran negara untuk mempertahankan bahasa daerah selama bertahun-tahun.

Selalu ditengah konser Didi Kempot, anak muda milenial meraung bersedih mendengar lagunya saja. Kini lebih-lebih mereka meraung menangis mengetahui sang maestro tutup usia.

Bersama kompas tv ia mendonasikan konser amal hingga milyaran rupiah untuk membantu wabah di tanah air.

Ia mengukir kesedihan dalam setiap relung jiwa pendengar lagunya melalui bahasa Jawa. Didi Kempot berhasil mengangkat kembali daya magis bahasa Jawa. Ia memutus rantai mitos penyanyi yang hanya populer dengan 1-2 lagu, yang itupun mungkin hasil cover lagu orang lain. Didi kempot justru penyanyi produktif yang telah melahirkan ratusan lagu dan membuktikan tidak perlu jalan pintas untuk didengar setiap hati yang luka. Rindu bukan flyover.

Tentu lebih dari bahasa Jawa, Didi Kempot berhasil membela cemooh selama
Ini terhadap kaum muda dengan label “Milenial”. Justru hal ini memperingati kita semua: jangan remehkan anak muda!

Baca Juga:  Kepada Para Pembencinya, Gus Dur Bilang "Gitu Saja Kok Repot!"

Kembali pada faktor ambyarnya Kiai NU, dilupakan bahwa terdapat hal-hal luar biasa magis diluar klikbait dan subscriber. Untuk memahami faktor sosial NU, anda bisa melihat kerja kebudayaan Almarhum Didi Kempot. Ini tidak sekedar Didi Kempot sering diundang acara PBNU, menjadi duta Pencak Silat NU atau pernah menulis lagu NU berjudul “Islam Nusantara”. Tapi karena tidak semua hal bisa dilihat dalam kacamata modernitas. [HW]

-Alfatihah-

Iman Zanatul Haeri
Guru Sejarah MA Al-Tsaqafah Said Aqil Siroj Foundation, Alumnus Universitas Negeri Jakarta.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini